Jumat, 29 April 2016

Epilog



     Yuko memutuskan untuk melepas penat didalam dirinya dengan pergi berkemah ke suatu hutan di kaki gunung mengendarai mobilnya setelah semua perang, pemakaman dan perjanjian damai usai. Selama mengendarai, ia tetap konsen sambil berpikir kebelakang. Sejak Rio menghilang, secara mendadak keluarga mereka dengan keluarganya memutus semua tekanan pada keluarga Yuko. Hingga beberapa hari kemudian keluarga Rio pindah ke luar negeri.  Itu seperti belenggu yang tiba-tiba terlepas dari beban keluarganya. Tapi ada rasa kehilangan juga dari mereka. Pasalnya ekonomi keluarga Yuko setidaknya sudah lebih baik berkat mereka. Uang yang mencukupi dan ayahnya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan mobil yang ia kendarai sekarang ini. Mereka semua yang memiliki kekuatan melakukan kesibukan masing-masing.

     Tak lama Yuko sampai di tempat yang ia maksud. Untuk berkemah disana ia terlebih dahulu mendaftar di administrasi untuk berjaga-jaga jika ia terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Lalu masuk ke hutan setelah semuanya beres.

     Tak terlalu banyak yang dibawa Yuko. Tas besar berisi pakaian yang cukup, sarung, perlengkapan mandi, bekal dan sebotol minyak tanah serta korek batangan.  Tangan kanannya menenteng perlengkapan tenda.

     Yuko berusaha membangun tenda setelah mendapat tempat yang tepat untuknya singgah. Yaitu tempat dimana dekat sungai.

     Ia selesai membangun dalam dua jam, mengingat ia tak terlalu ahli dalam membangun tenda. Lalu Yuko mengumpulkan ranting kering untuk dijadikan api unggun, kemudian pergi ke sungai yang berada dibawah untuk menangkap ikan segar walau ia membawa bekal kalengan dan mi instan. Sengaja memilih dekat sungai agar mempermudah jika Yuko ingin mencari ikan atau sekedar mandi.

     Dengan kekuatannya, Yuko membuat jaring-jaring untuk mendapatkan ikan seperti nelayan dan membakarnya setelah sampai di tenda.

     Lambat laun hari mulai gelap. Ia sadar situasi seperti di alam terbuka ini bahaya bisa datang dari mana saja dan kapan saja, Yuko membuat kelambu dari jaring-jaring benang transparan yang sangat tajam, berbentuk seperti kubah berdiameter 5 meter dengan tenda sebagai pusat lingkarannya sebelum tidur. Yuko juga mengikatkan benang ke lonceng agar ia mengetahui bahaya yang akan datang diluar kubah saat ia tidur nanti.


     Esok paginya Yuko terbangun. Suhu masih sangat dingin saat itu, ia melihat jam menunjukkan pukul 04.30 lalu ia kembali tidur. Padahal niatnya tadi ingin segera mandi namun terhalang oleh suhu dingin tersebut. Sampai ia dua jam kemudian terbangun lagi, suhu sudah sedikit naik dan matahari meninggi. Yuko keluar dari tendanya lalu menghilangkan kelambu tipisnya, pergi ke sungai membawa perlengkapan mandi dan pakaian.



     “Apa-apaan ini?!”

     Yuko yang sekembalinya dari mandi terkejut barang-barang bawaannya berantakan dimana-mana. Ia yang mengenakan tudung jaket karena masih kedinginan itu mulai merapikan kembali. Setelah merapikannya, Yuko baru sadar kalau tak ada satupun barangnya yang hilang.

     “Ada yang mengawasi.” gumamnya. Ia merasakan ada seseorang yang memperhatikannya diatas pohon. Namun saat melihat kesana, tak ada siapapun.

     Dibalik pohon yang tinggi besar itu seorang perempuan memegang senapan jenis sniper. Mengenakan topi, kaos tanpa lengan diindungi rompi anti peluru depan-belakang, celana pendek 10 cm dari lutut dan mengenakan boots mengawasi Yuko.

     Perempuan itu mengkokang setelah memasukkan peluru bius kedalam senapannya dan mulai membidik.

     Yuko langsung melompat kebelakang menghindari tembakan yang mengarah kearahnya.

     “Peluru bius?” Yuko terkejut dan langsung bersembunyi.

     Perempuan itu kembali bersembunyi dibalik pohon, mengambil peluru di sakunya lalu mengkokang dan mulai membidik.

     Setengah bagian senapan dan scoopnya terbelah dua tanpa ia sadari ketika ingin menembak. Yuko sudah mengetahui dimana posisi orang yang mengincarnya dan menghancurkan senapan dengan benang tajam.

     Ia melompat dari dahan dan melesat tajam kearah Yuko.

      “Manusia super!” Yuko dibuat terkejut  karena perempuan itu mengeluarkan sayap cokelat saat melesat. Anehnya tak ada suara yang ditimbulkan dari kepakkan sayap tersebut.

     Terjadi pertarungan singkat antara mereka. Serangan diakhiri oleh Yuko yang berhasil menendang jauh darinya dan menabrak pohon. Perempuan itu bangkit dan menyerang dengan berlari.

     “Kena.”

     Satu kakinya terkena benang jebakan buatan Yuko dan tertarik keatas hingga posisinya terbalik. Ia coba memotong benang itu namun tak ada hasil.

     “Percuma. Sampai mati pun kau tak akan bisa memotong benang itu. Hanya aku yang bisa.”

     Yuko berusaha mengikat kedua tangan orang tersebut.

     “Sekarang, siapa orang ini?” gumam Yuko.

     Yuko membuka tudungnya dan melepas benang jebakan itu lalu membuka topi perempuan tersebut.

     “Nggak... nggak mungkin.” Yuko mundur dengan cepat. Tak percaya apa yang ia lihat barusan.

     “Hayami?!”

     Ternyata yang mengincarnya adalah adiknya sendiri.

     Yuko memeluknya dengan erat setelah melepaskan ikatan di kedua tangan Hayami.

     “Akhirnya kamu ketemu juga setelah tiga tahun menghilang.” Yuko menangis.

     Yuko dan Hayami adalah kakak beradik. Meski begitu mereka hampir mirip seperti pasangan kembar padahal hanya selisih dua tahun. Perbedaannya terletak pada rambut Hayami yang panjang melewati punggung, dan ia memiliki keterbatasan. Hayami tak bisa berbicara alias bisu. Mereka terpisah karena insiden saat naik gunung ini. Hayami tak sengaja menginjak tanah yang rapuh lalu terjadi longsor kecil dan tercebur ke sungai yang deras, saat itu hujan turun dengan sangat deras.

     Hayami melepaskan pelukannya, tangannya bergerak-gerak mulai berisyarat.

     “Maaf, aku tidak tau kalo itu kakak. Kukira pemburu hewan atau penebang liar.”

     “Tapi syukurlah kamu masih hidup. Kamu dimana selama ini?”

     “Aku bekerja di polisi hutan.”

     “Polisi hutan?”

     Hayami mengangguk.

     “Tidak resmi, seperti organisasi terselubung. Mereka yang menemukanku saat terdampar di pinggir sungai tak jauh dari markas mereka. Lalu aku mulai bergabung.”
     Yuko memeluknya lagi dan mencium pipi adiknya agak lama.

     “Kamu lanjutin sekolah?”

     “Ada sekolah didekat kaki gunung.”

     “Ayo pulang.” ajak Yuko. Mengusap air matanya.

     “Aku tidak bisa pulang begitu aja. Kita ke bos aku dulu.”

     Hayami mengajaknya dengan menarik tangan Yuko.

     Letaknya berada sangat dalam di hutan yang lebat. Sesampainya Yuko disuguhkan todongan senjata laras panjang dilengkapi pisau tajam terikat dibawah ujung lubang senapan dan tatapan tak senang  para penjaga karena tak diikat. Hayami menganggukan kepalanya tanda orang yang ia bawa tak berbahaya. Semua penjaga melepaskan todongannya.

     Mereka masuk kedalam gua tempat ruang kerja pemimpin Hayami dan duduk melipat seperti orang Jepang.

     “Ada apa?” tanya pemimpin Hayami setelah datang.

     Hayami menjelaskan dengan rinci tentang semuanya. Pemimpinnya begitu paham meski Hayami menggunakan bahasa isyarat. Dan sedikit berdebat dan bernegosiasi.

     “Hmm begitu rupanya. Begini, kakaknya Hayami. Keberadaan Hayami disini sangat penting membantu kita dalam memberantas para pemburu hewan dan perusak hutan. Namun mengembalikan Hayami ke keluarganya lebih dari segalanya. Kita disini semua sudah mengurus Hayami dengan baik sejak dia ditemukan di pinggir sungai. Jadi, Hayami ingin meninggalkan tempat ini kapan saja kami siap. Namun jangan pernah lupa dengan saya dan anggota disini yang sudah mengurus dan mengajari kamu. Karena kamu sudah dianggap sebagai keluarga disini. Kalo kamu ingin meninggalkan tempat ini besok atau lusa, silakan.” ceramahnya panjang lebar.

     Setelah melalui semuanya. Hayami pulang dengan Yuko. Setibanya dirumah orang tua mereka sangat terharu dengan kepulangan Hayami setelah tiga tahun menghilang.

     Dan juga, mereka berdua mempunyai kekuatan super. Hayami memperlihatkannya kepada kakaknya. Dia bisa berubah menjadi burung hantu berwarna cokelat seperti kayu. Kepalanya bisa memutar 180 derajat. Pendengaran dan penglihatannya sangat tajam. Sayapnya bisa muncul dari punggungnya selain di tangan. Hayami bisa terbang dengan sayapnya tanpa mengeuarkan suara sama sekali. Persis seperti burung hantu.



     Di sekolah itu kedatangan murid baru terutama di kelas 10-B setelah sepuluh hari liburan tengah semester satu.

     Seorang murid berdiri didepan kelas. Seisi murid merasa tak asing dengan wajahnya.

     “Silakan perkenalkan dirimu, nak.”

     Ia mengambil spidol di tempat penghapus dibawah white board.

     “NAMA SAYA HAYAMI KURAHASHI. SALAM KENAL YA J

     Tak sedikit yang menjawab ‘ooh’ karena ia sangat mirip dengan Yuko.

     “Kamu adiknya Yuko, ya?” tanya guru perempuan itu. Hayami mengangguk.

     “Jaah, gagu yak? Hahaha.” ejek Joko. Seorang yang paling besar dan preman di kelas itu. Setengah dari mereka menyoraki Joko. Di hari pertamanya, Hayami sudah mendapat musuh baru.

     Lalu Hayami duduk di bangku kosong paling belakang.


     Saat istirahat, Joko dihadang Hayami saat hendak keluar kelas.

     “Maksud kamu apa tadi?” tanya Hayami, dengan berisyarat.

     “Lo ngapain sih tangannya gerak-gerak? Ngomong dong!” ejek Joko. Ia sama sekali tak mengerti dan tak tau bahasa isyarat.

     “Oh iye gue lupa, lo kan gak bisa ngomong ya. Hahaha.” ejeknya lagi.

     Berkat kejujurannya, Joko dihadiahi bogem mentah Hayami di perutnya. Pukulannya cukup keras.

     “Berani banget lo sama gue.”

     Hayami mundur beberapa langkah mengambil jarak aman.

     Joko terus menyerang Hayami dengan pukulan namun tak berhasil mengenainya. Hanya satu serangan Hayami dengan menyandung kaki Joko, Joko pun terjatuh menabrak tempat sampah dan sukses ditertawakan satu kelas. Hayami keluar kelas, menusuk kotak susu dengan sedotan dan meminumnya. Bersandar di dinding luar kelas dan menatap kedepan.

     Disebelah kanannya ada murid perempuan sedang mengobrol dengan lainnya, sedang sebelah kirinya seorang murid laki-laki tengah sibuk mengetik di ponselnya. Otak Hayami mulai merencanakan sesuatu.

     Dikarenakan jarak mereka cukup dekat, tangan Hayami ‘mencomot’ pantat anak perempuan yang membelakanginya. Si lawan bicaranya juga tak melihat karena asik mengobrol.

     Perempuan yang dijahili Hayami refleks menengok kebelakang, sedangkan Hayami berekspresi menutup mulut seperti tak percaya menatap anak laki yang sedang sibuk dengan ponselnya.

     Akhirnya mereka saling kejar-kejaran setelah anak perempuan itu menamparnya.

     “Berenti lo, dasar cowok mesum!” teriak perempuan itu. Mengejar anak laki.

     “Salah gue apaaa?” anak laki itu sambil berlari.


     Hayami pergi melihat sesuatu di mading setelah puas menjahili mereka.

     Kepalanya refleks memiringkan ke samping kiri. Sebuah bogem mentah yang tadinya hendak memukul kepala Hayami kebablasan meninju kaca mading hingga retak.  Dia adalah anggota geng Joko, Faisal atau Togi, singkatan dari Tonggos giginya. Sialnya, seorang guru yang terkenal galak melihat aksinya menghancurkan kaca mading dan diseret ke ruang guru. Apes baginya, tangan berdarah diseret ke ruang guru pula. Hayami melihat adegan itu dengan ekspresi tak bersalah.

     Hayami merasa kesepian, pasalnya kelas Yuko sedang ada kegiatan diluar kelas hingga jam 11.00



     “Semuanya, kenalin ini Hayami, adek gue.” kata Yuko mempersilakan. Mereka semua yang mempunyai kekuatan super berkumpul di taman sekolah memperkenalkan diri.

     “Oh iya, dia juga punya kekuatan. Tunjukkin deh.”

     Hayami mengeluarkan sayapnya dari punggung. Matanya berubah seperti mata burung hantu.

     “Wah keren. Sama kayak gue.” puji Doni. Mengeluarkan sayap putih yang seperti malaikat dari punggungnya.

     Hayami menghampiri sayap indah milik Doni dan mengelus-elusnya. Sepertinya dia terpukau.

     Ia mengisyaratkan sesuatu.

     “Katanya semoga kita bisa berteman baik sampai nanti.” Yuko menerjemahkannya.

     Lalu hari-hari berikutnya mereka mulai berteman seperti biasa. Akhirnya mereka menemukan teman baru pengganti Anggrek dan Lily yang sudah tenang di alam sana.




                                                                                End





 Sampai Jumpa di Season dua :))

Maaf kalo udah lama jarang update setelah chapter 9, banyak kesibukan dan project yang harus dijalani. terus baca ya biar saya semangat updatenya untuk season 2. 

Dicari seorang komikuss yang mau menggambar cerita ini. kirim gmail aja...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar