Siang itu Aeza keluar rumah untuk ke
supermarket untuk belanja mingguan. Keadaannya sudah lebih baik sekarang dan
bisa kembali berjalan, karena kekuatan air yang dimilikinya memiliki kemampuan
untuk memulihkan. Secara tak sadar dan tanpa henti kekuatan airnya membantu
menyembuhkan tubuh Aeza dari dalam. Seperti regenerasi/recovery.
Hal pertama yang dituju adalah beberapa
sayuran mentah yang sudah disatukan dalam plastik mika dan dinamai sesuai bahan
sayuran didalamnya. Buah-buahan, minuman dingin pesanan Hime, dan terakhir
makanan beku siap saji Aeza masukkan kedalam keranjang belanja.
Ia melihat sesuatu yang baru saat
mengambil kentang goreng beku. Sebungkus cireng salju siap goreng.
“Mau coba ah. Siapa tau kak Hime juga
suka.” ujarnya dalam hati.
Ada tangan lain saat tangannya hendak
meraih sebungkus cireng itu.
“Eh. Yaudah kamu duluan yang ambil.” ujar
peremuan itu mempersilahkan.
“Terima kasih. Eh kamu yang satu sekolah
sama aku kan? Yang di kelas pojok itu. Nama kamu siapa deh?” tanya Aeza.
“Aku Anggrek. Kamu?”
“Aeza.”
“Nih aku ambilin.” Aeza mengambil lagi sebungkus
cireng dan memberikannya.
“Iya terima kasih.” Anggrek menerimanya
dan memasukkannya ke keranjang.
“Mau belanja lagi?” tanya Anggrek.
Aeza menggeleng. Ia melirik kearah
keranjang belanja Anggrek. Banyak sekali biskuit dan makanan ringan didalamnya.
Aeza menelan ludah karena keheranan.
“Yaudah ayo ke kasir.” ajaknya.
“Aku penasaran gimana rasanya cireng ini.”
kata Aeza berbasa-basi saat pulang bareng Anggrek.
“Aku juga. Ya sudah kamu goreng cireng aku
aja dirumahmu. Kita makan sama-sama. Aku juga laper.” ajak Anggrek. Padahal
sebelumnya sudah makan mie ayam.
“Eeh. Nggak apa-apa nih.”
“Goreng aja sebungkus.” Anggrek
memperbolehkan dan mengangguk.
Sesampainya dirumah, Aeza langsung memasak
cireng itu. Anggrek menunggunya di ruang tamu.
“Hmm. Enak sekali.” puji Anggrek saat
pertama kali mencicipi makanan itu.
“Hati-hati. Masih panas.”
“Ngomong-ngomong, kamu tinggal sendiri
disini?” tanya Anggrek sambil mengunyah .
“Cuma berdua sama kakak.”
“Hmm... aku tinggal di panti asuhan. Tadi
baru saja aku meninggalkan tempat itu. Udah punya rumah sendiri. Tinggalnya
juga sendiri. Hehe.” kata Anggrek.
“Kapan-kapan aku boleh main kerumah kamu
ya?”
“Boleh kok.” Anggrek tersenyum.
Mereka terlihat sangat akrab padahal baru
berkenalan setengah jam lalu. Aeza tidak mengetahui bahwa gadis didepannya
merupakan anggota Dark Lord. Dan Anggrek juga tidak mengetahui bahwa Aeza
adalah lawannya nanti. Dan mereka berdua tidak mengetahui mereka saling
memiliki kekuatan.
Esoknya...
“Hallooo.”
sambut Anggrek di markas Dark Lord yang berada di atap. Membawa bungkus
plastik berisi cemilan dan tongkat besarnya. Tak lupa dengan topi besar ala
penyihir.
“Hai.” jawab Putra dan Yudi di waktu yang
hampir bersamaan.
“Putra, boleh aku minta sedikit darahmu?” pinta
Anggrek.
“Buat apa?”
“Nanti juga tau. Boleh?”
“Boleh sih.”
“Aku ambil darahnya ya.”
Dari tangan Anggrek muncul sebuah suntik
beserta jarumnya. Lalu menusuk bahu kiri Putra dan mengambil darahnya.
“Dan Rio. Bolehkah?”
“Boleh, boleh.” jawab Rio antusias.
Anggrek memunculkan lagi suntik yang masih
steril dan mengambil darah Rio.
Anggrek membutuhkan darah Mawar juga.
Namun saat akan bertanya, Mawar menatapnya dan ia sudah tau akan jawabannya.
Jadinya ia hanya mendapat dua sampel darah.
Dengan sihirnya ia memunculkan sebuah meja
panjang seperti di ruangan kelas, sebuah kompor gas, dan dua buah panci berisi
air mendidih juga spatula kayu. Juga muncul lagi beberapa botol.
“Mau apa anak aneh itu?” tanya Mawar.
“Mungkin bikin mie, kak. Ini tehnya.”
jawab Melati. Membawa dua cangkir teh dan memberikan satu untuk Mawar.
Sambil memakan pocky, Anggrek mulai
membuat semacam ramuan dengan gaya ala penyihir. Menuangkan isi dari beberapa
botol. Sekarang ia mencampurkan sampel darah Putra kedalam air ramuan sebelah
kiri dan sampel darah Rio disebelah kanan dan mengaduknya.
Beberapa lama kemudian Anggrek mematikan
apinya. Lalu memasukkan ramuan tersebut kedalam botol kaca setelah ramuannya
menghangat dan menutup botol tersebut. Jadilah dua botol berwarna kuning dan
satu botol berwarna hitam.
“Tadaaa...” Anggrek menunjukkan hasilnya
kepada semua. Ramuan berwarna kuning dari sampel darah Putra dan hitam dari
sampel darah Rio.
“Itu untuk apa?” tanya Yudi.
Anggrek melempar jauh ke tanah kosong botol
dari sampel Putra dan menutup telinga.
Muncul belasan kilatan petir menghantam
tanah setelah botol kaca yang dilemparnya pecah.
Semuanya memasang mata kagum kecuali si
kembar yang terlihat biasa saja.
Mawar yang duduknya dekat dengan mereka
kini pindah ke sisi lain atap yang jauh dari mereka.
“Kak Mawar kenapa?” Melati mengikutinya dan melihat wajah Mawar terdiam.
Tangannya sedari tadi tak hentinya memainkan Butterfly Knife.
“Aku masih nggak nyangka dan nggak abis
pikir. Tentang bagaimana sikap Lily terhadap kita.”
“Jangan terus-terusan dipikirin, kak.
Nanti kita balas dia yang lebih menyakitkan.”
Sementara disana, Lily terdiam cemas
menatap keluar sana dibalik jendela kamarnya di hari yang hujan itu. Memikirkan
Mawar dan Melati agar bisa berteman seperti dulu lagi.
“Kalian... Bagaimana kabarnya disana?”
Ia kembali dan duduk di tempat tidurnya, terdapat
Lila dan sebuah boneka laki-laki bernama Riki pemberian dari mereka. Lily
membawanya dan duduk di kursi, mengambil biola yang juga pemberian dari mereka
saat Lily ulang tahun.
Lily memainkan biola dengan irama pelan yang
sangat indah dan memejamkan matanya. Sambil mengingat-masa-masa ketika mereka
masih bersama. Saat mereka menolongnya ketika dibully anak lain, mendapat juara
lomba fisika dan mengharumkan nama sekolah. Ia belum pernah sekalipun memiliki
teman yang sangat akrab dengannya. Sejak SD, Lily selalu pendiam dan menyendiri
karena tak sedikit yang menyebutnya si aneh.
Semua memori itu menghasilkan
tetesan-tetesan air mata yang membasahi pipi Lily menerobos kedua kelopak
matanya. Ia tak tahan membendung kenangan indah yang membuatnya merasa sangat
sedih. Biola terjatuh dan tangisan Lily pecah. Menahan air yang terus keluar
dari matanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar