Jumat, 29 April 2016

Mazna X Adara (Chapter 14) Perang Antar Kepentingan



     “APA YANG KAMU LAKUKAN?” Anggrek marah besar.

     “Anggrek...” gumam Aeza.

     “Akhirnya lo balik juga.” Rio bangkit.

     “Kenapa kamu membakar panti asuhan tempatku dulu tinggal?!” Anggrek kelihatan sangat marah.

     Aeza dan Hime terkejut.

     Beberapa saat yang lalu, Anggrek menghilang dari hadapan Aeza. Rupanya ia pergi ke panti asuhan tempatnya dulu untuk merayakan 20 tahun berdirinya panti asuhan tersebut. Sedari pagi semua anak dan staf sibuk mendekorasi dalam panti. Semua itu dibiayai oleh Anggrek.

     Acara dimulai saat sore. Namun beberapa menit setelah mulai, Anggrek baru sampai disana. Sesampainya disana Anggrek dibuat shock karena panti asuhan tempatnya berteduh selama belasan tahun itu mengalami kebakaran hebat. Anggrek melihat hal yang ganjil, api yang menjilat panti asuhan itu berwarna hitam. Ia segera kesana dan mengamankan semua orang dan meminta mereka untuk mengungsi sementara.

     “Gue sengaja melakukan itu. Supaya lo bisa fokus melakukan apa yang sedang lo kerjakan saat itu juga. Lo pikir gue nggak tau, selama latihan atau ngumpul kalo lo sering ngilang gak jelas kemana? Gue tau semua!” jawab Rio tenang.

     “Sengaja? Kamu bilang sengaja. Kamu pikir aku bakalan menurut sama kamu kalau kamu membakar tempat anak-anak yang tidak mempunyai orang tua?”

     Anggrek melempar lagi bola hijau namun lebih besar.

     “Kuhabisi kau.” bisik Anggrek. Matanya mulai menyala ungu.

     “Coba saja. Jongos tetaplah jongos.” tangan Rio diselimuti api hitam.

     Aeza dan Hime mulai maju namun dihadang tangan Anggrek.

     “Kalian bantu yang lain saja. Aku ingin menghabisi dia sendirian.”

     “Hmm... jangan kalah ya.” Hime dengan senyum sinisnya.

     “Aku akan berusaha.”

     Anggrek menoleh ke mereka dan tersenyum.

     Mereka pergi membantu yang lain.



     “Sial, Putra sekarang makin kuat.” gumam Aldi.

     “Ayolah, gak ada yang bisa nyerang gue apa?” ujar Putra sombong. Melayang di udara dan kedua tangannya diselimuti kilatan petir.

     “Jangan terburu-buru, kita butuh rencana.” kata Surya.

     “Surya selalu berpikir seperti biasa. Jangan kelamaan, nanti keburu ditembak Belanda!” ejek Putra. Membuat bola kilat diatas telapak kanannya dan membuat mereka terpental dengan ledakan petir itu dan tersengat lagi.


     "Masih ada lagi coy!" Putra mengeluarkan bola petir.

     “Apa?”

     Putra tak bisa menggerakkan tangan kanannya yang hendak melempar petir. Seluruh lengan kanannya membeku saat ia melihatnya dan terkejut.

     “Ugh, sial!” Putra menepis beberapa tembakan bola api dengan lengan kirinya.

     “Butuh bantuan?” tanya Hime saat datang menghampiri mereka disusul Aeza.


     “Cih. Lagi-lagi pamer.” gumam Surya.

     Aeza terus mengeluarkan angin beku seperti badai salju kearah Putra dan semakin besar. Gerakan Putra semakin melemah dan sebagian kecil tubuhnya membeku.

     “Angin esnya kemana-mana. Gue akan bantu supaya tetap disekitar Putra.”

     Surya merentangkan tangannya dan muncullah angin kencang yang melapisi angin es Aeza yang tak karuan berbentuk kubah agar tak kemana-mana.

     “Gue akan coba buat angin beku itu melingkar di Putra.” ujar Aldi. Ia berlari sangat cepat mengitari dua lapis angin yang menutup seluruh tubuh Putra.

     “Apa-apaan ini?”

     Putra mencoba menembakkan belasan petir sebisanya untuk menghancurkan dinding angin ini namun usahanya tak membuahkan hasil. Suhu semakin dingin dan tubuh Putra sulit digerakkan karena sebagian tubuhnya sudah membeku.

     Mereka menghentikan serangannya secara bersamaan. Hasil serangan kombinasi membentuk kepulan asap kabut berbentuk kubah. Surya menghilangkannya dengan meniupkan angin. Mereka berempat sangat terkejut ketika didalamnya terdapat Putra yang sudah membeku yang kelihatannya sangat keras.

     “Apa Putra bisa balik lagi ke kondisi semula?” tanya Aldi bingung dan terlihat lelah.

     “Mau gue cairkan esnya?” usul Hime.

     “Jangan dulu. Kita nggak tau hasilnya nanti. Bisa aja dia langsung nyerang kita pas udah cair.” cegah Surya.



     “Lily... Lily...” Mawar jalan perlahan seperti zombie dengan aura jahat yang luar biasa. Berjalan sambil menyeret sabitnya. Rasa amarahnya terhadap Lily sudah sangat besar dan tak bisa terbendung lagi.

     Seketika tubuhnya tak bisa bergerak saat sedang berjalan.

     “Apa?”

     Belasan meter didepannya ada Lily yang seperti duduk didepan Melati yang terbaring lalu berdiri balik badan menghadapnya.

     “Apa ini perbuatanmu?” tanya Mawar.

     Lily hanya diam.

     Beberapa saat kekuatan yang membuat tubuhnya kaku mulai menghilang dan Mawar langsung berlari menyerang Lily dengan amarah yang meluap.


     “Aaaaahh.”

     Mawar kesakitan memegangi kepalanya dan terjatuh. Ia merasakan otaknya seperti kesetrum hebat.

     “Aku tau kamu akan menyerangku dengan sepenuh amarahmu padaku. Benar begitu, Mawar?” Lily berbicara lewat pikirannya dengan telepati. Namun yang membuatnya terkejut adalah Lily memiliki dua suara yang berbicara secara bersama. Serangan telepati itu juga yang membuat otak Mawar seperti tersetrum aliran listrik.

     “Sial. Dia bisa menyerang dengan jarak jauh. Berbeda denganku yang hanya serangan jarak dekat.” gumam Mawar.

     “Itu benar.”

     “Dia bisa mendengarku.”

     “Ya. Aku bisa. Bahkan aku tau isi pikiranmu.” jawab Lily.

     “Ayo, serang aku. Seperti kamu menyerang perampok yang dulu menguras isi hartamu.”

     Mawar terkejut karena Lily bisa tau isi pikirannya sedalam itu. Selama ini mereka berdua tak pernah menceritakannya kepada siapapun termasuk Lily yang ‘dulu’ sahabatnya.

          “He...hentikan.” kata Mawar pelan.

       “Kemarahanmu pada para perampok yang telah membunuh kedua orang tuamu dengan sadis...”

       “Hentikan...” Mawar mulai menangis. Pikirannya langsung teringat akan kejadian itu.

     “Kemarahanmu ketika para perampok yang telah menghancurkan masa depanmu dengan cara memperkosamu secara bergiliran...”

     “Hentikan... tolong!” Mawar berusaha menahannya.

     “Kemarahanmu saat Melati hampir diperkosa...”

     “HENTIKAAAAN!!!”

     Lily menepis lima jarum berlumuran racun yang dilempar Mawar secepat peluru dan mengapung didepannya.


     Mawar berdiri dengan sebagian wajah tertutup rambut dan melakukan ancang-ancang untuk menyerang dengan sabitnya dipenuhi rasa benci dan amarah yang sangat besar

     “Ini dia.” gumam Lily dengan senyum lebarnya dan kembali mengapung tak jauh diatas tanah.

     Mawar menyerang dengan tiba-tiba sesaat setelah ancang-ancang dan menghilang. Namun Lily sudah mengetahui posisi sebelumnya sehingga bisa menghindar dengan mudah.

     “Seranganmu sangat mudah ditebak...”

     “Diam!” Mawar terus menyerang Lily yang menghindari serangannya dengan teleportasi.

     Mawar membasahi kedua mata sabitnya dengan racun paling mematikan dan langsung berputar 360 derajat dengan sangat cepat seperti bayangan.

     “Kau tau, kenapa seranganmu tak pernah bisa mengenaiku selain perbedaan gaya bertarung kita?”
     “Karena kamu hanya menyerang menggunakan otot dan perasaan yang berapi-api, tidak menggunakan isi kepalamu.”

     “Sama saja seperti sapi pemalas yang hanya makan rumput didepannya yang sudah tak segar. Itulah kenapa gerakanmu sangat mudah ditebak.”

     Lily kembali menyetrum kepala Mawar dengan telepatinya.


     “Jika kamu berpikir, mungkin aku akan sedikit kesulitan menyerang atau menghindarimu.”


     “Berisik!!!” Mawar langsung menyerang kepala Lily.

     “Hampir saja.” ucap Lily. Mata sabitnya tertahan oleh telekinesis, dan dengan cepat kedua mata sabit itu patah dari tongkatnya dan terpental ke belakang.

     Mawar menjauh dari Lily dan berhenti sebentar. Otot-otot kakinya menumpu tanah dan semua tenaganya, Mawar melesat cepat menyerang Lily dari depan dengan tongkatnya dan berhasil mengenai dada Lily hingga tongkat tersebut patah. Darah terciprat cepat keluar dari mulutnya dan membuatnya berhenti sesaat.

     “Rasakan!” gumam Mawar. Bersiap untuk menyerang lagi.

     “Itu sakit tau...” ia menatap Mawar dan membunyikan lehernya sendiri.

     Lily menangkap leher Mawar dengan sangat mudah dan seketika berhenti. Ia menangkapnya hanya dengan satu tangan. Mawar tak tinggal diam begitu saja, ia mengeluarkan semua racun yang keluar dari seluruh tubuhnya. Lily sudah mengetahui hal ini akan terjadi dan ia langsung melindungi tangannya dengan cahaya biru tipis di kedua tangannya. Semakin lama cengkraman tangannya semakin kuat dan membuat Mawar kesulitan bernafas.

     Perlahan-lahan Lily melepaskan Mawar dan mengapung menjauh secara pelan namun Mawar tetap seperti tercekik.

     “Mari kita akhiri ini.”

     Lily merentangkan tangan kanannya kedepan, dan Mawar terpental jauh dan terseret-seret.


     Sementara disana Anggrek masih bertarung dengan seluruh amarahnya melawan Rio. Bola sihir dan bola kegelapan terus dilontarkan sehingga ada beberapa yang bertabrakan dan menimbulkan ledakan sedang.

     Sedangkan Indry baru saja berhasil mengalahkan Leo dengan gigitan yang sangat kuat di lehernya sehingga membuat manusia singa itu kalah dan pingsan. Ivan sudah mengikis beberapa batu yang menyelimuti tubuh Jojo yang membesar itu. Tubuh berliannya sangatlah kuat sehingga tak mudah hancur.

     “Lo tetep aja lemah meski gue udah nggak menggunakan sayap ini. Hahaha.” ejek Yudi santai yang melihat Doni kelelahan.


     “Kayaknya sebagian dari kita udah kalah. Apa boleh buat, langsung aja gue habisi Doni.” ucapnya dalam hati. Yudi melesat dan langsung mengeluarkan sayap hitam di punggungnya  dan merubah kakinya menjadi kaki gagak lalu mencengkeram kedua bahu Doni membawanya terbang ke angkasa.

     Yudi melemaskan cengkeraman kakinya disaat mencapai ketinggian yang cukup dan membuat Doni terjun bebas dari ketinggian.

     Ditengah kepanikannya Doni berusaha tenang dan harus berpikir keras sampai sebuah keajaiban terjadi. Sepasang sayap putih besar muncul dari punggungnya seperti Yudi dengan beberapa helai terlepas bebas.

     “Nggak mungkin!” gumam Yudi kesal.

     Awalnya Doni terbang tak berarah karena baru pertama kalinya. Butuh waktu singkat baginya supaya terbiasa dengan sepasang sayap barunya.

     Kini Doni telah menyesuaikan diri dengan kekuatan barunya dan hendak mengincar dada Yudi, titik kelemahnnya. Doni berhasil mengenainya setelah beberapa kali ditepis serangannya dan tepat mengenai dadanya, ia lalu jatuh terhuyung dan pingsan karena menghantam tanah cukup keras.


     Di tempat lain, terjadi pertarungan antar monster. Dharma sudah kembali menjadi manusia setelah dikalahkan Johan. Kini hanya tersisa Lara dan dirinya.

     “Akan kubuat Johan menyesal!”  Lara mulai geram. Mulai terbang  dan mengeluarkan angin api panas di kepakkan sayapnya berkali-kali sehingga membuat tanah disekitar Johan mulai terbakar lalu kemudian membakar dirinya hingga tidak mampu berkutik lagi.


     Di lain tempat, Mawar berjalan tertatih membawa tongkat yang kehilangan setengah bagian dan kepala sabitnya sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit.  Tak lama diujung sana ia melihat dua orang duduk memperhatikan seseorang yang sedang berbaring, Mawar mengenali sepatu seorang yang sedang berbaring itu, Melati.

     Seluruh tubuh Mawar dipaksa bergerak cepat menuju kesana dan siap memukul dengan tongkatnya.

     Ia begitu terkejut saat akan memukul dua orang itu. Ternyata Melati sedang diobati oleh Lily dan Putri. Kondisinya sudah setengah sadar.

     “Baru ingin kujemput.” kata Putri.

     “Apa... yang kalian lakukan?” tanya Mawar lemas.

     “Mengobati adikmu tentu saja.” jawab Putri cuek.

   “Sudah kak. Lily tidak bersalah, kita yang seharusnya salah. Biar aku yang menjelaskan semuanya.” Melati berusaha bangun dan mendekati Mawar.

     “Ambillah... masih ada setengah. Ini air yang bisa menyembuhkan.” Lily memberi botol Aeza itu kepada Mawar.


     Setelah menceritakan semuanya, Mawar merasa sangat bersalah apa yang selama ini ia perbuat. Mereka berdua sudah dibutakan oleh kesalahpahaman dan rasa dendam kepada Lily yang tak melakukan apapun yang merugikan mereka. Lily mengangguk saat Mawar mengkonfirmasi apa yang dikatakan Melati itu benar.

     “Aku nggak tau harus melakukan apa dan kamu mau memaafkanku atau nggak. Yang jelas sekarang ini aku merasa sangat bersalah selama ini telah memusuhimu. Tetapi kamu sama sekali nggak marah dan terus percaya kalo kita bakal memaafkan kamu. Maaf.” Mawar terlihat begitu sangat menyesalinya.

     “Udah, nggak apa. Yang penting kamu berdua udah tau kesalahpahaman kita selama ini dan sadar. Aku udah memaafkan kalian.” jawab Lily tersenyum ditengah sakitnya sambil sesekali terbatuk.

     “Coba ini. Mungkin bisa.” kata Putri, memberikan obat berwarna hijau hasil tumbukan dari daun herbal.

     “Ada apa denganmu?” tanya Melati khawatir.

     “Maaf... aku tak memberitahu kalian... sejak pertama kita bertemu. Aku mengidap penyakit yang sudah parah.” jawabnya, ditambah lagi batuk seperti tadi. Mawar memeganginya.

     “Aku sudah memperburuk keadaanmu dengan memukul tubuhmu tadi.”

     “Jangan khawatirkan aku. Bagaimana... dengan yang lain, Putri?”

     “Kayaknya tinggal Rio sama Yuko aja. Ayo kita kesana!”

     Sesampainya disana sudah ada semua anggota berjubah putih yang tak sedikit dari mereka terluka. Sedang menyaksikan pertarungan yang membuat Mawar dan Melati tercengang, Anggrek sedang bertarung melawan Rio!

     “Ah, si kembar. Kebetulan, bantu gue melawan mereka!” suruh Rio sambil masih bertarung dengan Anggrek.

     “Hentikan semua ini, Rio!” tolak Mawar lantang.

     “Oh. Jadi lo berdua memihak mereka sekarang? Dasar pengkhianat!”

     Rio mengeluarkan bola hitam besar kearah mereka semua. Namun bola itu meledak sebelum sampai tujuan seperti ada yang mengenainya.

     Ada sesuatu yang terpental di ledakan itu dan menghantam tanah dengan keras. Aeza tak menyangka, sesuatu yang terpental itu tak lain adalah Anggrek. Ia melindungi semuanya  dengan menjadi perisai.

     Anggrek ditemukan pingsan dengan luka yang cukup parah. Aeza beberapa kali menggoyang-goyangkan tubuhnya dan mengobatinya dengan air ajaib namun tak ada respon.

     “Masi ada lagi!” Rio kembali mengeluarkan bola hitam tadi dan dilempar menuju Mawar dan Melati.

     Bola itu meledak tetapi mereka berdua tak merasakan apapun. Saat mereka melihat, ternyata Lily melindungi mereka dengan perisai force field besar sambil melayang di udara.

     “Tenang... kalian aman.” Lily tersenyum. Perlahan perisai tersebut menghilang.

     Mawar dan Melati bernafas lega. Namun itu tak lama, karena kemudian mereka berubah menjadi sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.

     “Awaaaas!” teriak mereka. Sebuah bola hitam besar tambahan menghantam tanah dan meledak sehingga membuat tim jubah putih terpental.

     Diantara mereka semua, hanya Lily yang paling parah karena yang paling dekat dengan ledakan tersebut dan membuatnya ikut terpental paling jauh dan pingsan.

     “Lily... Lily!” Mawar berusaha menyadarkannya namun sepertinya ia kritis.

     Mereka semua yang melihat kondisi Lily seperti itu terdiam menunduk.

     “Siapapun, tolong bawa Anggrek dan Lily ke rumah sakit. Kalian yang masih bisa bertarung, tolong gue.” ujar Hime pelan.

     “Untuk menghadapi bajingan itu! Mereka berdua telah mengorbankan dirinya untuk kita.”

     Hime mendadak menatap tajam Rio. Seluruh tubuhnya diselimuti api biru.

     Akhirnya Doni dan Melati pergi membawa Anggrek dan Lily dari sana.

     Mereka semua perlahan memperlihatkan kekuatan dari dalam tubuhnya. Aeza kedua tangannya mulai membeku dan diselimuti es, Indry berubah menjadi macan kumbang.

     Surya menghembuskan angin-angin kecil disekitarnya, kedua tangan Putri mulai diselimuti akar berdaun yang perlahan menjadi keras, kemudian Mawar yang mengeluarkan cairan ungu bening yang mampu mengikis tanah. Hanya Dharma dan Lara yang tak ikut bertarung.

     Hime menggunakan jurus beladiri meninju udara dan mengeluarkan bola api di setiap serangannya yang mengarah ke Rio.

     “Jurus bola api murah lagi.” ejek Rio.

     Tak lama Hime mengarahkan kedua tangannya kedepan dan muncul api yang sangat besar dan panjang seperti senjata pelontar api.

     Ditengah kobaran api yang menghalangi pandangannya secara mengejutkan datang Mawar yang langsung meninju pipi Rio dengan keras sehingga terjatuh dari ia melayang tadi.

     “Kau... telah menyakiti temanku!”

     “Karena temen lo itu, lo jadi berkhianat sekarang sama gue!” Rio mengeluarkan tinjunya yang langsung ditepis Mawar dengan kedua lengannya.

     Rio diserang oleh mereka setelah mendarat di tanah secar berurutan. Dimulai dari pukulan keras Ivan dengan tangan berliannya, Rio berhasil menghindari beberapa serangannya dan memukul mundur Ivan.

     Semua yang menyerang berhasil ditahan dipatahkan oleh Rio. Dari Aldi yang berlari sangat cepat mengitarinya puluhan kali dan menyerang seecara mendadak dengan tendangan memutarnya. Indry dengan serangan macan kumbang, akar rambat Putri yang muncul dari tangan kanannya untuk mengikat Rio dihancurkan, angin puyuh besar milik Surya menghilang dalam lubang hitam yang Rio buat.

     Spontan saja Aeza menghembuskan angin es dingin seperti untuk menyerang Putra tadi dan mengelilingi Rio dengan cepat dan membuatnya menghambat pergerakan Rio.

     Aeza terus menyemburnya dengan angin es setelah berhenti mengelilinginya.

     Usahanya kini tak berbuah manis, beberapa saat kemudian es yang membungkus Rio perlahan retak dan hancur, memperlihatkan Rio yang ber aura gelap.

     “Jangan meremehkan kekuatan kegelapaan!”

     Rio meninju tanah dengan keras hingga retak dan muncul gelombang gelap yang membuat mereka semua terpental dan Aeza yang paling terkena dampaknya karena yang paling dekat. Semua tak mampu lagi bertarung dan melemah.

     “Kurang ajar!” kata Hime pelan.

     Api di seluruh tubuhnya kembali menjadi biru dan kembali menyerang Rio bertubi-tubi.

     Tiba-tiba tubuh Hime seperti membeku dan tak bisa digerakkan. Dari kejauhan Yuko kembali mengendalikan tubuh Hime dengan benang-benang dari jemari tangannya.

     “Kemana aja Lo?”

     “Maaf, agak sulit mengincarnya.” jawab Yuko.

     Ia juga melihat Aeza sedang bersiap menyerang dan menyegel tubuhnya dengan benang seperti Hime.

     Tak lama Yuko mengalami keadaan aneh, kini giliran tubuhnya yang tak bisa digerakkan.

     “Ke... kenapa ini?” Yuko bingung.

     Aeza berdiri lemas diantara teman-temannya yang terbaring lemah, warna matanya berubah menjadi merah darah. Aeza berhasil membalikkan keadaan. Ia mengendalikan tubuh Yuko dari benang tipis yang tertanam di tubuhnya. Hanya dengan menggerakkan tangannya pelan, Yuko langsung terpental dengan cepat.

     “Jangan-jangan? Astaga, aku baru sadar ternyata darah juga benda cair!” duga Yuko sesaat setelah terseret belasan meter.

     Yuko terangkat dua meter ke udara dan kemudian merasakan tubuhnya remuk seperti terjepit atau dipeluk sesuatu yang sangat erat hingga menjerit kesakitan dan terdengar suara tulang berbunyi. Yuko jatuh lemas dan tak bergerak setelahnya.

     Perlahan Aeza  berjalan kearahnya dengan wajah tak senang dan menatap mata Yuko yang masih berwarna merah muda.

     “Aeza... tolong aku. Aku selama ini terpaksa... mengikuti semua kemauan Rio. Ia mengancam akan menyakiti keluargaku... jika tidak kuturuti. Tolong tatap mataku, aku tidak berbohong. Kalahkan monster itu!” Yuko berbicara terbata-bata ditengah sakitnya.

     Yuko akhirnya pingsan.

     “Dia nggak bersalah.” kata Aeza pelan.

     Ia kembali ke pertarungan dan melihat Hime yang sudah tak mampu bertarung dan mereka sudah sama-sama lemah.

     “Kalian semua, menghilanglah dari dunia ini!”

     Rio bangkit dan membentangkan kedua tangannya. Dibelakangnya terlihat spiral raksasa yang diselimuti petir di pinggirannya dan menghisap benda-benda ringan didepannya. Ia mengeluarkan lubang hitam menuju dimensi lain.

     “Rupanya masih hidup lo.” Rio menatap Aeza yang masih berdiri.

     “Masuklah lo semua!”

     Lubang hitam tersebut menghisap semakin kuat. Aeza harus melindungi semuanya agar tak tertelan ke lubang hitam itu. Aeza langsung fokus dan mengarahkan tangannya kearah Rio dan berhasil mengendalikan aliran darah Rio.

     “Apa-apaan ini?!” Rio terkejut tak bisa menggerakkan tubuhnya.

     Ia menjerit kesakitan karena organ dalam tubuhnya seperti diserang dari dalam yang disebabkan oleh pengendalian darah Aeza.

     “Menghilanglah...” Aeza berkata pelan.

     Rio terkena tumpukan tubuh Putra dan Yudi yang terbawa arus hisap dan membawa mereka bertiga masuk kedalam lubang hitam buatannya sendiri dan tertutup menghilang tak lama kemudian.

     Perang berakhir dengan kemenangan tim jubah putih yang dimana hanya Aeza yang masih bertahan.


     “Kak? Kakak gapapa?” Aeza menggoyangkan tubuh Hime berkali-kali.

     “Kita menang?” tanya Hime dan menjawab anggukan terharu dari Aeza. 

     “Lo hebat. Melindungi kita semua.” katanya lemah.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar