“APA YANG KAMU LAKUKAN?” Anggrek marah
besar.
“Anggrek...” gumam Aeza.
“Akhirnya lo balik juga.” Rio bangkit.
“Kenapa kamu membakar panti asuhan
tempatku dulu tinggal?!” Anggrek kelihatan sangat marah.
Aeza dan Hime terkejut.
Beberapa saat yang lalu, Anggrek
menghilang dari hadapan Aeza. Rupanya ia pergi ke panti asuhan tempatnya dulu
untuk merayakan 20 tahun berdirinya panti asuhan tersebut. Sedari pagi semua anak
dan staf sibuk mendekorasi dalam panti. Semua itu dibiayai oleh Anggrek.
Acara dimulai saat sore. Namun beberapa
menit setelah mulai, Anggrek baru sampai disana. Sesampainya disana Anggrek
dibuat shock karena panti asuhan tempatnya berteduh selama belasan tahun itu
mengalami kebakaran hebat. Anggrek melihat hal yang ganjil, api yang menjilat
panti asuhan itu berwarna hitam. Ia segera kesana dan mengamankan semua orang
dan meminta mereka untuk mengungsi sementara.
“Gue sengaja melakukan itu. Supaya lo bisa
fokus melakukan apa yang sedang lo kerjakan saat itu juga. Lo pikir gue nggak
tau, selama latihan atau ngumpul kalo lo sering ngilang gak jelas kemana? Gue
tau semua!” jawab Rio tenang.
“Sengaja? Kamu bilang sengaja. Kamu pikir
aku bakalan menurut sama kamu kalau kamu membakar tempat anak-anak yang tidak
mempunyai orang tua?”
Anggrek melempar lagi bola hijau namun
lebih besar.
“Kuhabisi kau.” bisik Anggrek. Matanya
mulai menyala ungu.
“Coba saja. Jongos tetaplah jongos.”
tangan Rio diselimuti api hitam.
Aeza dan Hime mulai maju namun dihadang
tangan Anggrek.
“Kalian bantu yang lain saja. Aku ingin
menghabisi dia sendirian.”
“Hmm... jangan kalah ya.” Hime dengan
senyum sinisnya.
“Aku akan berusaha.”
Anggrek menoleh ke mereka dan tersenyum.
Mereka pergi membantu yang lain.
“Sial, Putra sekarang makin kuat.” gumam
Aldi.
“Ayolah, gak ada yang bisa nyerang gue
apa?” ujar Putra sombong. Melayang di udara dan kedua tangannya diselimuti
kilatan petir.
“Jangan terburu-buru, kita butuh rencana.”
kata Surya.
“Surya selalu berpikir seperti biasa.
Jangan kelamaan, nanti keburu ditembak Belanda!” ejek Putra. Membuat bola kilat
diatas telapak kanannya dan membuat mereka terpental dengan ledakan petir itu dan tersengat lagi.
"Masih ada lagi coy!" Putra mengeluarkan bola petir.
“Apa?”
Putra tak bisa menggerakkan tangan
kanannya yang hendak melempar petir. Seluruh lengan kanannya membeku saat ia
melihatnya dan terkejut.
“Ugh, sial!” Putra menepis beberapa
tembakan bola api dengan lengan kirinya.
“Butuh bantuan?” tanya Hime saat datang
menghampiri mereka disusul Aeza.
“Cih. Lagi-lagi pamer.” gumam Surya.
Aeza terus mengeluarkan angin beku seperti
badai salju kearah Putra dan semakin besar. Gerakan Putra semakin melemah dan
sebagian kecil tubuhnya membeku.
“Angin esnya kemana-mana. Gue akan bantu
supaya tetap disekitar Putra.”
Surya merentangkan tangannya dan muncullah
angin kencang yang melapisi angin es Aeza yang tak karuan berbentuk kubah agar
tak kemana-mana.
“Gue akan coba buat angin beku itu melingkar
di Putra.” ujar Aldi. Ia berlari sangat cepat mengitari dua lapis angin yang
menutup seluruh tubuh Putra.
“Apa-apaan ini?”
Putra mencoba menembakkan belasan petir
sebisanya untuk menghancurkan dinding angin ini namun usahanya tak membuahkan hasil.
Suhu semakin dingin dan tubuh Putra sulit digerakkan karena sebagian tubuhnya
sudah membeku.
Mereka menghentikan serangannya secara
bersamaan. Hasil serangan kombinasi membentuk kepulan asap kabut berbentuk
kubah. Surya menghilangkannya dengan meniupkan angin. Mereka berempat sangat
terkejut ketika didalamnya terdapat Putra yang sudah membeku yang kelihatannya
sangat keras.
“Apa Putra bisa balik lagi ke kondisi
semula?” tanya Aldi bingung dan terlihat lelah.
“Mau gue cairkan esnya?” usul Hime.
“Jangan dulu. Kita nggak tau hasilnya
nanti. Bisa aja dia langsung nyerang kita pas udah cair.” cegah Surya.
“Lily... Lily...” Mawar jalan perlahan
seperti zombie dengan aura jahat yang luar biasa. Berjalan sambil menyeret
sabitnya. Rasa amarahnya terhadap Lily sudah sangat besar dan tak bisa
terbendung lagi.
Seketika tubuhnya tak bisa bergerak saat
sedang berjalan.
“Apa?”
Belasan meter didepannya ada Lily yang
seperti duduk didepan Melati yang terbaring lalu berdiri balik badan
menghadapnya.
“Apa ini perbuatanmu?” tanya Mawar.
Lily hanya diam.
Beberapa saat kekuatan yang membuat
tubuhnya kaku mulai menghilang dan Mawar langsung berlari menyerang Lily dengan
amarah yang meluap.
“Aaaaahh.”
Mawar kesakitan memegangi kepalanya
dan terjatuh. Ia merasakan otaknya seperti kesetrum hebat.
“Aku tau kamu akan
menyerangku dengan sepenuh amarahmu padaku. Benar begitu, Mawar?” Lily
berbicara lewat pikirannya dengan telepati. Namun yang membuatnya terkejut
adalah Lily memiliki dua suara yang berbicara secara bersama. Serangan telepati
itu juga yang membuat otak Mawar seperti tersetrum aliran listrik.
“Sial. Dia bisa menyerang dengan jarak
jauh. Berbeda denganku yang hanya serangan jarak dekat.” gumam Mawar.
“Itu
benar.”
“Dia bisa mendengarku.”
“Ya. Aku bisa. Bahkan aku
tau isi pikiranmu.” jawab Lily.
“Ayo,
serang aku. Seperti kamu menyerang perampok yang dulu menguras isi hartamu.”
Mawar terkejut karena Lily bisa tau isi
pikirannya sedalam itu. Selama ini mereka berdua tak pernah menceritakannya
kepada siapapun termasuk Lily yang ‘dulu’ sahabatnya.
“He...hentikan.” kata Mawar pelan.
“Kemarahanmu pada para perampok yang
telah membunuh kedua orang tuamu dengan sadis...”
“Hentikan...” Mawar mulai menangis.
Pikirannya langsung teringat akan kejadian itu.
“Kemarahanmu ketika para perampok yang
telah menghancurkan masa depanmu dengan cara memperkosamu secara bergiliran...”
“Hentikan... tolong!” Mawar berusaha
menahannya.
“Kemarahanmu saat Melati hampir
diperkosa...”
“HENTIKAAAAN!!!”
Lily menepis lima jarum berlumuran
racun yang dilempar Mawar secepat peluru dan mengapung didepannya.
Mawar berdiri dengan sebagian wajah
tertutup rambut dan melakukan ancang-ancang untuk menyerang dengan sabitnya
dipenuhi rasa benci dan amarah yang sangat besar
“Ini dia.” gumam Lily dengan senyum
lebarnya dan kembali mengapung tak jauh diatas tanah.
Mawar menyerang dengan tiba-tiba sesaat
setelah ancang-ancang dan menghilang. Namun Lily sudah mengetahui posisi
sebelumnya sehingga bisa menghindar dengan mudah.
“Seranganmu sangat mudah ditebak...”
“Diam!” Mawar terus menyerang Lily yang
menghindari serangannya dengan teleportasi.
Mawar membasahi kedua mata sabitnya dengan
racun paling mematikan dan langsung berputar 360 derajat dengan sangat cepat
seperti bayangan.
“Kau tau, kenapa seranganmu tak pernah
bisa mengenaiku selain perbedaan gaya bertarung kita?”
“Karena kamu hanya menyerang menggunakan
otot dan perasaan yang berapi-api, tidak menggunakan isi kepalamu.”
“Sama saja seperti sapi pemalas yang hanya
makan rumput didepannya yang sudah tak segar. Itulah kenapa gerakanmu sangat
mudah ditebak.”
Lily kembali menyetrum kepala Mawar dengan
telepatinya.
“Jika kamu berpikir, mungkin aku akan
sedikit kesulitan menyerang atau menghindarimu.”
“Berisik!!!” Mawar langsung menyerang
kepala Lily.
“Hampir saja.” ucap Lily. Mata sabitnya
tertahan oleh telekinesis, dan dengan cepat kedua mata sabit itu patah dari
tongkatnya dan terpental ke belakang.
Mawar menjauh dari Lily dan berhenti
sebentar. Otot-otot kakinya menumpu tanah dan semua tenaganya, Mawar melesat
cepat menyerang Lily dari depan dengan tongkatnya dan berhasil mengenai dada
Lily hingga tongkat tersebut patah. Darah terciprat cepat keluar dari mulutnya
dan membuatnya berhenti sesaat.
“Rasakan!” gumam Mawar. Bersiap untuk
menyerang lagi.
“Itu sakit tau...” ia menatap Mawar dan membunyikan lehernya sendiri.
Lily menangkap leher Mawar dengan sangat
mudah dan seketika berhenti. Ia menangkapnya hanya dengan satu tangan. Mawar
tak tinggal diam begitu saja, ia mengeluarkan semua racun yang keluar dari
seluruh tubuhnya. Lily sudah mengetahui hal ini akan terjadi dan ia langsung
melindungi tangannya dengan cahaya biru tipis di kedua tangannya. Semakin lama
cengkraman tangannya semakin kuat dan membuat Mawar kesulitan bernafas.
Perlahan-lahan Lily melepaskan Mawar dan
mengapung menjauh secara pelan namun Mawar tetap seperti tercekik.
“Mari kita akhiri ini.”
Lily merentangkan tangan kanannya kedepan,
dan Mawar terpental jauh dan terseret-seret.
Sementara disana Anggrek masih bertarung
dengan seluruh amarahnya melawan Rio. Bola sihir dan bola kegelapan terus
dilontarkan sehingga ada beberapa yang bertabrakan dan menimbulkan ledakan
sedang.
Sedangkan Indry baru saja berhasil
mengalahkan Leo dengan gigitan yang sangat kuat di lehernya sehingga membuat
manusia singa itu kalah dan pingsan. Ivan sudah mengikis beberapa batu yang
menyelimuti tubuh Jojo yang membesar itu. Tubuh berliannya sangatlah kuat
sehingga tak mudah hancur.
“Lo tetep aja lemah meski gue udah nggak
menggunakan sayap ini. Hahaha.” ejek Yudi santai yang melihat Doni kelelahan.
“Kayaknya
sebagian dari kita udah kalah. Apa boleh buat, langsung aja gue habisi Doni.”
ucapnya dalam hati. Yudi melesat dan langsung mengeluarkan sayap hitam di
punggungnya dan merubah kakinya menjadi
kaki gagak lalu mencengkeram kedua bahu Doni membawanya terbang ke angkasa.
Yudi melemaskan cengkeraman kakinya disaat
mencapai ketinggian yang cukup dan membuat Doni terjun bebas dari ketinggian.
Ditengah kepanikannya Doni berusaha tenang
dan harus berpikir keras sampai sebuah keajaiban terjadi. Sepasang sayap putih
besar muncul dari punggungnya seperti Yudi dengan beberapa helai terlepas
bebas.
“Nggak mungkin!” gumam Yudi kesal.
Awalnya Doni terbang tak berarah karena
baru pertama kalinya. Butuh waktu singkat baginya supaya terbiasa dengan
sepasang sayap barunya.
Kini Doni telah menyesuaikan diri dengan
kekuatan barunya dan hendak mengincar dada Yudi, titik kelemahnnya. Doni
berhasil mengenainya setelah beberapa kali ditepis serangannya dan tepat
mengenai dadanya, ia lalu jatuh terhuyung dan pingsan karena menghantam tanah
cukup keras.
Di tempat lain, terjadi pertarungan antar
monster. Dharma sudah kembali menjadi manusia setelah dikalahkan Johan. Kini
hanya tersisa Lara dan dirinya.
“Akan kubuat Johan menyesal!” Lara mulai geram. Mulai terbang dan mengeluarkan angin api panas di kepakkan
sayapnya berkali-kali sehingga membuat tanah disekitar Johan mulai terbakar
lalu kemudian membakar dirinya hingga tidak mampu berkutik lagi.
Di lain tempat, Mawar berjalan tertatih membawa
tongkat yang kehilangan setengah bagian dan kepala sabitnya sambil memegangi
perutnya yang masih terasa sakit. Tak
lama diujung sana ia melihat dua orang duduk memperhatikan seseorang yang
sedang berbaring, Mawar mengenali sepatu seorang yang sedang berbaring itu,
Melati.
Seluruh tubuh Mawar dipaksa bergerak cepat
menuju kesana dan siap memukul dengan tongkatnya.
Ia begitu terkejut saat akan memukul dua
orang itu. Ternyata Melati sedang diobati oleh Lily dan Putri. Kondisinya sudah
setengah sadar.
“Baru ingin kujemput.” kata Putri.
“Apa... yang kalian lakukan?” tanya Mawar
lemas.
“Mengobati adikmu tentu saja.” jawab Putri
cuek.
“Sudah kak. Lily tidak bersalah, kita yang
seharusnya salah. Biar aku yang menjelaskan semuanya.” Melati berusaha bangun
dan mendekati Mawar.
“Ambillah... masih ada setengah. Ini air
yang bisa menyembuhkan.” Lily memberi botol Aeza itu kepada Mawar.
Setelah menceritakan semuanya, Mawar
merasa sangat bersalah apa yang selama ini ia perbuat. Mereka berdua sudah
dibutakan oleh kesalahpahaman dan rasa dendam kepada Lily yang tak melakukan
apapun yang merugikan mereka. Lily mengangguk saat Mawar mengkonfirmasi apa
yang dikatakan Melati itu benar.
“Aku nggak tau harus melakukan apa dan
kamu mau memaafkanku atau nggak. Yang jelas sekarang ini aku merasa sangat
bersalah selama ini telah memusuhimu. Tetapi kamu sama sekali nggak marah dan
terus percaya kalo kita bakal memaafkan kamu. Maaf.” Mawar terlihat begitu
sangat menyesalinya.
“Udah, nggak apa. Yang penting kamu berdua
udah tau kesalahpahaman kita selama ini dan sadar. Aku udah memaafkan kalian.”
jawab Lily tersenyum ditengah sakitnya sambil sesekali terbatuk.
“Coba ini. Mungkin bisa.” kata Putri,
memberikan obat berwarna hijau hasil tumbukan dari daun herbal.
“Ada apa denganmu?” tanya Melati khawatir.
“Maaf... aku tak memberitahu kalian...
sejak pertama kita bertemu. Aku mengidap penyakit yang sudah parah.” jawabnya,
ditambah lagi batuk seperti tadi. Mawar memeganginya.
“Aku sudah memperburuk keadaanmu dengan
memukul tubuhmu tadi.”
“Jangan khawatirkan aku. Bagaimana...
dengan yang lain, Putri?”
“Kayaknya tinggal Rio sama Yuko aja. Ayo
kita kesana!”
Sesampainya disana sudah ada semua anggota
berjubah putih yang tak sedikit dari mereka terluka. Sedang menyaksikan
pertarungan yang membuat Mawar dan Melati tercengang, Anggrek sedang bertarung
melawan Rio!
“Ah, si kembar. Kebetulan, bantu gue
melawan mereka!” suruh Rio sambil masih bertarung dengan Anggrek.
“Hentikan semua ini, Rio!” tolak Mawar
lantang.
“Oh. Jadi lo berdua memihak mereka
sekarang? Dasar pengkhianat!”
Rio mengeluarkan bola hitam besar kearah
mereka semua. Namun bola itu meledak sebelum sampai tujuan seperti ada yang
mengenainya.
Ada sesuatu yang terpental di ledakan itu
dan menghantam tanah dengan keras. Aeza tak menyangka, sesuatu yang terpental
itu tak lain adalah Anggrek. Ia melindungi semuanya dengan menjadi perisai.
Anggrek ditemukan pingsan dengan luka yang
cukup parah. Aeza beberapa kali menggoyang-goyangkan tubuhnya dan mengobatinya
dengan air ajaib namun tak ada respon.
“Masi ada lagi!” Rio kembali mengeluarkan
bola hitam tadi dan dilempar menuju Mawar dan Melati.
Bola itu meledak tetapi mereka berdua tak
merasakan apapun. Saat mereka melihat, ternyata Lily melindungi mereka dengan
perisai force field besar sambil melayang di udara.
“Tenang... kalian aman.” Lily tersenyum.
Perlahan perisai tersebut menghilang.
Mawar dan Melati bernafas lega. Namun itu
tak lama, karena kemudian mereka berubah menjadi sangat terkejut dengan apa
yang dilihatnya.
“Awaaaas!” teriak mereka. Sebuah bola
hitam besar tambahan menghantam tanah dan meledak sehingga membuat tim jubah
putih terpental.
Diantara mereka semua, hanya Lily yang
paling parah karena yang paling dekat dengan ledakan tersebut dan membuatnya
ikut terpental paling jauh dan pingsan.
“Lily... Lily!” Mawar berusaha
menyadarkannya namun sepertinya ia kritis.
Mereka semua yang melihat kondisi Lily
seperti itu terdiam menunduk.
“Siapapun, tolong bawa Anggrek dan Lily ke
rumah sakit. Kalian yang masih bisa bertarung, tolong gue.” ujar Hime pelan.
“Untuk menghadapi bajingan itu! Mereka
berdua telah mengorbankan dirinya untuk kita.”
Hime mendadak menatap tajam Rio. Seluruh
tubuhnya diselimuti api biru.
Akhirnya Doni dan Melati pergi membawa
Anggrek dan Lily dari sana.
Mereka semua perlahan memperlihatkan
kekuatan dari dalam tubuhnya. Aeza kedua tangannya mulai membeku dan diselimuti
es, Indry berubah menjadi macan kumbang.
Surya menghembuskan angin-angin kecil
disekitarnya, kedua tangan Putri mulai diselimuti akar berdaun yang perlahan
menjadi keras, kemudian Mawar yang mengeluarkan cairan ungu bening yang mampu
mengikis tanah. Hanya Dharma dan Lara yang tak ikut bertarung.
Hime menggunakan jurus beladiri meninju
udara dan mengeluarkan bola api di setiap serangannya yang mengarah ke Rio.
“Jurus bola api murah lagi.” ejek Rio.
Tak lama Hime mengarahkan kedua tangannya
kedepan dan muncul api yang sangat besar dan panjang seperti senjata pelontar
api.
Ditengah kobaran api yang menghalangi
pandangannya secara mengejutkan datang Mawar yang langsung meninju pipi Rio
dengan keras sehingga terjatuh dari ia melayang tadi.
“Kau... telah menyakiti temanku!”
“Karena temen lo itu, lo jadi berkhianat
sekarang sama gue!” Rio mengeluarkan tinjunya yang langsung ditepis Mawar
dengan kedua lengannya.
Rio diserang oleh mereka setelah mendarat
di tanah secar berurutan. Dimulai dari pukulan keras Ivan dengan tangan
berliannya, Rio berhasil menghindari beberapa serangannya dan memukul mundur
Ivan.
Semua yang menyerang berhasil ditahan
dipatahkan oleh Rio. Dari Aldi yang berlari sangat cepat mengitarinya puluhan
kali dan menyerang seecara mendadak dengan tendangan memutarnya. Indry dengan
serangan macan kumbang, akar rambat Putri yang muncul dari tangan kanannya
untuk mengikat Rio dihancurkan, angin puyuh besar milik Surya menghilang dalam
lubang hitam yang Rio buat.
Spontan saja Aeza menghembuskan angin es
dingin seperti untuk menyerang Putra tadi dan mengelilingi Rio dengan cepat dan
membuatnya menghambat pergerakan Rio.
Aeza terus menyemburnya dengan angin es
setelah berhenti mengelilinginya.
Usahanya kini tak berbuah manis, beberapa
saat kemudian es yang membungkus Rio perlahan retak dan hancur, memperlihatkan
Rio yang ber aura gelap.
“Jangan meremehkan kekuatan kegelapaan!”
Rio meninju tanah dengan keras hingga
retak dan muncul gelombang gelap yang membuat mereka semua terpental dan Aeza
yang paling terkena dampaknya karena yang paling dekat. Semua tak mampu lagi
bertarung dan melemah.
“Kurang ajar!” kata Hime pelan.
Api
di seluruh tubuhnya kembali menjadi biru dan kembali menyerang Rio
bertubi-tubi.
Tiba-tiba tubuh Hime seperti membeku dan
tak bisa digerakkan. Dari kejauhan Yuko kembali mengendalikan tubuh Hime dengan
benang-benang dari jemari tangannya.
“Kemana aja Lo?”
“Maaf, agak sulit mengincarnya.” jawab
Yuko.
Ia juga melihat Aeza sedang bersiap
menyerang dan menyegel tubuhnya dengan benang seperti Hime.
Tak lama Yuko mengalami keadaan aneh, kini
giliran tubuhnya yang tak bisa digerakkan.
“Ke... kenapa ini?” Yuko bingung.
Aeza berdiri lemas diantara teman-temannya
yang terbaring lemah, warna matanya berubah menjadi merah darah. Aeza berhasil
membalikkan keadaan. Ia mengendalikan tubuh Yuko dari benang tipis yang
tertanam di tubuhnya. Hanya dengan menggerakkan tangannya pelan, Yuko langsung
terpental dengan cepat.
“Jangan-jangan? Astaga, aku baru sadar
ternyata darah juga benda cair!” duga Yuko sesaat setelah terseret belasan
meter.
Yuko terangkat dua meter ke udara dan
kemudian merasakan tubuhnya remuk seperti terjepit atau dipeluk sesuatu yang
sangat erat hingga menjerit kesakitan dan terdengar suara tulang berbunyi. Yuko
jatuh lemas dan tak bergerak setelahnya.
Perlahan Aeza berjalan kearahnya dengan wajah tak senang
dan menatap mata Yuko yang masih berwarna merah muda.
“Aeza... tolong aku. Aku selama ini
terpaksa... mengikuti semua kemauan Rio. Ia mengancam akan menyakiti
keluargaku... jika tidak kuturuti. Tolong tatap mataku, aku tidak berbohong. Kalahkan
monster itu!” Yuko berbicara terbata-bata ditengah sakitnya.
Yuko akhirnya pingsan.
“Dia nggak bersalah.” kata Aeza pelan.
Ia kembali ke pertarungan dan melihat Hime
yang sudah tak mampu bertarung dan mereka sudah sama-sama lemah.
“Kalian semua, menghilanglah dari dunia
ini!”
Rio bangkit dan membentangkan kedua
tangannya. Dibelakangnya terlihat spiral raksasa yang diselimuti petir di
pinggirannya dan menghisap benda-benda ringan didepannya. Ia mengeluarkan
lubang hitam menuju dimensi lain.
“Rupanya masih hidup lo.” Rio menatap Aeza
yang masih berdiri.
“Masuklah lo semua!”
Lubang hitam tersebut menghisap semakin
kuat. Aeza harus melindungi semuanya agar tak tertelan ke lubang hitam itu.
Aeza langsung fokus dan mengarahkan tangannya kearah Rio dan berhasil
mengendalikan aliran darah Rio.
“Apa-apaan ini?!” Rio terkejut tak bisa
menggerakkan tubuhnya.
Ia menjerit kesakitan karena organ dalam
tubuhnya seperti diserang dari dalam yang disebabkan oleh pengendalian darah
Aeza.
“Menghilanglah...” Aeza berkata pelan.
Rio terkena tumpukan tubuh Putra dan Yudi
yang terbawa arus hisap dan membawa mereka bertiga masuk kedalam lubang hitam
buatannya sendiri dan tertutup menghilang tak lama kemudian.
Perang berakhir dengan kemenangan tim
jubah putih yang dimana hanya Aeza yang masih bertahan.
“Kak? Kakak gapapa?” Aeza menggoyangkan
tubuh Hime berkali-kali.
“Kita menang?” tanya Hime dan menjawab
anggukan terharu dari Aeza.
“Lo hebat. Melindungi kita semua.” katanya
lemah.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar