Jumat, 29 April 2016

Mazna X Adara (Chapter 15) [End] Bunga Itu Akan Terus hidup Selamanya



     Mereka semua pergi ke rumah sakit tempat Anggrek dan Lily dirawat beberapa hari setelah tubuh mereka membaik.

     Tapi bagi Aeza dan Hime, mereka sudah terlambat. Dokter mengatakan bahwa dini hari sebelumnya Anggrek menghembuskan nafas terakhirnya ketika hendak menjenguknya dan membawa bekal. Ia menderita luka yang cukup parah dan mengenai organ-organ tubuh yang penting.

     Aeza lah yang sangat terpukul dengan peristiwa ini mengingat ia yang paling dekat dengannya walau kenal dan berteman dengan singkat pula. Datang pula Mawar dan Melati yang mengetahui kabar duka ini.

     Seorang dokter memberikan selembar surat pada Aeza dan membacanya. Di kertas itu ia menulis  jika dia mati, tolong semua anak-anak dan pengasuh panti asuhan yang sudah mengisi lembar enam belas tahun kehidupannya agar menempati rumah barunya dan memulai hidup baru disana.

     Siangnya tubuh Anggrek dibawa ke rumah barunya yang dipenuhi semua penghuni panti asuhan yang terbakar diiringi isak tangis. Mawar-Melati, Yuko dan tim jubah putih hadir meski tak terlalu mengenalnya.

     Hal yang paling diingat Aeza dan si bunga kembar tentangnya adalah kekonyolan dan betapa rakusnya dia soal makanan yang tak pernah kenyang itu.

                          

     “Lily?”

     Sebuah suara memanggil namanya dari luar pintu kamar inap. Mawar dan Melati datang lebih telat dari tim jubah putih.

     “Bagaimana keadaanmu?” tanya Mawar. Duduk di kursi samping ranjang Lily.

     “Sedikit lebih baik.” Jawabnya lemas. Ia tak memakai kacamatanya kali ini, membuat wajah aslinya terlihat jelas.

     “Kenapa kamu tak memberitahu kita sejak awal kalo punya penyakit seperti ini?” tanya Melati sambil mengelus tangannya.

     “Aku tak ingin... merepotkan kalian.”

     Suara Lily kali ini agak serak dan mulai tak terdengar dengan jelas. Begitu juga dengan batuknya yang berdahak.

     “Anu... apa pukulanku saat itu makin memperparah sakitmu? Saat itu aku sangat kehilangan kendali.” Mawar menundukkan kepalanya dan bertanya secara berat hati.

     “Tidak. Aku bertanya pada dokter... tapi dia bilang malah tak ada luka pukul sama sekali.”

     Saat masih menjadi sisi keduanya, Lily membasuh tubuh bagian depannya dengan air yang diberikan Aeza dan pulih dalam beberapa saat.

     “Aku ingin keluar.” pinta Lily.

     Mereka membantu Lily beranjak dari ranjangnya menuju kursi roda dan keluar sambil mendorong tiang infus. Melati yang mendorong kursi roda Lily.

     “Sangat asri dan hijau disini.” komentar Lily saat menghirup udara di taman. Aroma aneka tumbuhan hijau memasuki hidungnya dan angin sepoi-sepoi di cuaca yang berawan itu.

     “Anu... ada yang ingin kutanya pada kalian.” kata Lily.

     “Ini hanya umpama saja... Kalo aku tak bisa bertahan melawan penyakit ini... dan meninggalkan kalian semua, apa yang akan kalian lakukan?” tanyanya pelan.

     “Kamu jangan berbicara seperti itu. Apa kamu sudah ingin menyerah dengan penyakitmu ini?” tanya balik Mawar yang tak percaya akan perkataan Lily.

     “Ini hanya umpama... aku juga tidak ingin terjadi.” Lily mengencangkan cengkeraman tangannya yang sedang memegang kedua telapak Mawar.

     “Tenanglah, kak.” Melati mengelus bahu kakak kembarnya.

     “Pastinya aku sangat sedih kalo kamu kalah dari penyakit itu. Kita sepakat memulai tatanan baru denganmu setelah sekian lama kita salah paham.” jawab Mawar.

     “Tapi... kalo aku bisa bertahan dari penyakit ini... kalian mau menemaniku berjualan?”

     “Mau. Kita sangat mau.” jawab mereka sambil mengangguk berbarengan.


     “Permisi. Maaf, saudari Lily harus istirahat dulu. Jam besuk juga sudah habis.” seorang suster dan dokter datang menjemputnya setelah mereka ngobrol cukup lama.

     “Besok kita kesini lagi pagi-pagi. Tetap sehat.” Mawar pamit.

     “Terima kasih.”

     “Mereka teman-temanmu?” tanya dokter saat Lily didorong kursi rodanya oleh suster.

     “Mereka yang terbaik.”

     “Hmm, baiklah kita lanjutkan perawatanmu.”



Esok paginya...

     “Aku penasaran apa Lily sekarang sudah makin membaik?” kata Aeza saat baru memasuki pintu dekat administrasi.

     “Jawabannya bakal tau saat kita menemuinya.” jawab Hime.

     Mereka melihat Mawar dan Melati di lorong dekat kamar inap Lily dengan sikap yang tak biasa. Mawar berdiri bersandar tembok dengan ekspresi terkejut, sedangkan Melati duduk di kursi dan menangis tak bersuara.

     “Kalian kenapa?” Aeza bingung.

     Melati langsung memeluk Aeza dengan sangat erat sambil menangis agak keras.

     “Lily... Lily!!”

     “Lily... meninggal.” jawab Mawar pelan dengan tatapan kosong.

     Jawaban itu membuat mereka sangat terkejut dan memasuki kamar inapnya. Terlihat seseorang di ranjang yang ditutupi kain putih seluruhnya. Wajah Lily terlihat pucat dan damai saat Hime membuka kain di bagian kepalanya dan disusul oleh tangis mereka berdua.


     Setengah jam lalu Mawar-Melati datang, lalu melihat dokter dan suster terburu-buru memasuki kamar Lily. Semua benda kecil didalam kamar bergerak-gerak sendiri ketika Lily dalam kondisi kritis, dan kemudian tak bergerak lagi. Dokter berusaha menyadarkan kembali dengan menyetrum dada Lily dengan chest paddle namun sudah terlambat. Tubuh lemas dan menangis langsung mendatangi bunga kembar. Lily meninggal dengan meneteskan air mata terakhirnya. Dokter dan suster yang merawat Lily mengucapkan kalimat duka mendalam dan meminta maaf yang sebesar-besarnya.

     Mawar menemukan kertas yang sudah dilecek di tempat sampah samping Lily dan mengambilnya. Tertulis tanggal tiga hari yang lalu Lily divonis menderita penyakit yang menyerang paru-parunya dan sudah stadium akhir sehingga hidupnya hanya menghitung hari. Sepertinya Lily sengaja membuang kertas itu dan menyembunyikan penyakitnya agar teman-temannya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Ia merasa sangat bodoh selama ini telah memusuhinya dan beberapa hari yang lalu mereka sempat bertarung dengannya dengan kondisi yang seburuk itu.

     Pemakaman Lily dihadiri oleh seluruh guru, beberapa teman dan tim jubah putih. Jubah hitam hanya Mawar-Melati dan Yuko. Yang lebih miris lagi, rumah Lily sederhana dan hanya tinggal bersama kakek dan neneknya. Lily sudah tak memiliki kedua orang tua sejak kelas dua menengah pertama dan ia juga anak tunggal. Sekarang ia dimakamkan disamping makam kedua orang tuanya, suasana haru pecah saat Lily dimasukkan kedalam liang lahat.


     “Surya, bisa bicara denganmu sebentar?” Melati menghampiri Surya setelah penguburan tubuh Lily. Surya juga terlihat lebih diam sedari dirumah Lily.

     Yuko yang memang menyukai Surya sejak dulu mendengarnya secara tak sengaja dan bersembunyi.

     “Aku hanya ingin menyampaikan apa yang dikatakan Lily sebelum pergi. Kalo dia selama ini suka dan sayang sama kamu, dia sering banget stalk kamu.” kata Melati.

     “Gue juga... tadinya juga abis perang itu gue mau nyatain ke Lily kalo gue juga suka dia. Tapi dia... udah keburu pergi.” jawab Surya murung.

     Yuko mendengar itu semua dan menangis lalu meninggalkan tempat itu.


     Seminggu kemudian Mawar dan Melati memenuhi janji Lily untuk berjualan. Sesampainya disana mereka melihat gerobak ayam goreng penyet yang biasa Lily dorong untuk menyambung hidup. Terlihat bagus dan masih terawat dengan baik. Neneknya lah yang membuat bumbu ayam penyet, juga tahu dan tempenya. Sementara kakeknya yang membuat sambel ulek dengan rasa yang khas dan terkenal pedas. Mereka siap berjualan setelah berdiskusi dan berbincang mengenai permintaan terakhir sahabatnya.

     Berpindah ke kamar Lily. Mereka pernah kesini beberapa kali sebelum bermusuhan. Kamarnya sangat rapi, terdapat biola pemberian mereka saat ulang tahunnya di kursi kayu, dan di meja belajarnya ada beberapa foto bersama mereka masih disimpan. Berbeda dengan Mawar dan Melati yang sudah membakar habis semua yang berhubungan dengannya dulu. Sekarang mereka sangat menyesal telah melakukan itu.

     Esok sore Mawar-Melati mulai jalan dan mendorong gerobak bersama menuju tempat biasa Lily berjualan dan menata alat seperti kursi, meja panjang serta terpal yang tersambung dengan gerobak.


     “Hei, nak. Oh kamu temennya Lily itu ya yang si kembar itu?” tanya seorang ibu penjual soto ayam disampingnya yang memakai gerobak juga.

     “I... iya, bu.” jawab Mawar pelan.

     Malam mulai menyelimuti kota dan pelanggan mulai datang satu per satu. Mereka tak menduga ternyata banyak sekali yang ingin merasakan ayam penyet istimewa ini. Ibu penjual soto tersenyum ditengah kesibukan mereka. Ada tak sedikit pelanggan yang bertanya Lily dimana dan mereka jawab seadanya yang membuat mereka kecewa dan merasa kehilangan.

     “Dulu waktu masih disini, Lily itu selalu senyum ke pelanggan jadi dia punya banyak langganan dari banyak kalangan. Dia juga cerita kalo dia sering banget terima pesanan nasi box. Ayam buatannya juga lebih enak dari yang ibu makan sekarang. Kalo kamu pernah coba, pasti kamu mau lagi.” curhat ibu penjual soto sambil memakan ayam penyet disaat mulai sepi.

     “Sayangnya... kita nggak pernah dapat kesempatan lagi buat coba masakan temen kita.” kata Melati.


     Ternyata lebih banyak yang menyukai Lily dibandingkan yang membencinya. Dia disekolah kerap ditindas atau di bully oleh anak yang kastanya lebih tinggi. Sejak cerita itu hingga sampai dirumahnya dan beranjak tidur mereka sudah total menyesal karena telah membuang Lily dari kehidupan mereka hanya karena iri, cemburu dan kesalah pahaman yang ada didalam hati mereka. Melati kembali menangis di ranjangnya ketika mengingat saat bersama Lily dulu dan terakhir mereka bbersama sore itu. Mawar menenangkannya dengan memeluk erat tubuhnya dan bersedih.

     Sejahat apapun Mawar-Melati, namun Lily tak pernah marah, menyesal dan kapok memiliki teman kakak beradik itu. Tekadnya sangat kuat untuk menyadarkan mereka kembali meski didera penyakit yang sangat parah hingga stadium akhir.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar