Mereka semua pergi ke rumah sakit tempat
Anggrek dan Lily dirawat beberapa hari setelah tubuh mereka membaik.
Tapi bagi Aeza dan Hime, mereka sudah
terlambat. Dokter mengatakan bahwa dini hari sebelumnya Anggrek menghembuskan
nafas terakhirnya ketika hendak menjenguknya dan membawa bekal. Ia menderita
luka yang cukup parah dan mengenai organ-organ tubuh yang penting.
Aeza lah yang sangat terpukul dengan
peristiwa ini mengingat ia yang paling dekat dengannya walau kenal dan berteman
dengan singkat pula. Datang pula Mawar dan Melati yang mengetahui kabar duka
ini.
Seorang dokter memberikan selembar surat
pada Aeza dan membacanya. Di kertas itu ia menulis jika dia mati, tolong semua anak-anak dan
pengasuh panti asuhan yang sudah mengisi lembar enam belas tahun kehidupannya
agar menempati rumah barunya dan memulai hidup baru disana.
Siangnya tubuh Anggrek dibawa ke rumah barunya
yang dipenuhi semua penghuni panti asuhan yang terbakar diiringi isak tangis.
Mawar-Melati, Yuko dan tim jubah putih hadir meski tak terlalu mengenalnya.
Hal yang paling diingat Aeza dan si bunga
kembar tentangnya adalah kekonyolan dan betapa rakusnya dia soal makanan yang
tak pernah kenyang itu.
“Lily?”
Sebuah suara memanggil namanya dari luar
pintu kamar inap. Mawar dan Melati datang lebih telat dari tim jubah putih.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Mawar. Duduk
di kursi samping ranjang Lily.
“Sedikit lebih baik.” Jawabnya lemas. Ia
tak memakai kacamatanya kali ini, membuat wajah aslinya terlihat jelas.
“Kenapa kamu tak memberitahu kita sejak
awal kalo punya penyakit seperti ini?” tanya Melati sambil mengelus tangannya.
“Aku tak ingin... merepotkan kalian.”
Suara Lily kali ini agak serak dan mulai
tak terdengar dengan jelas. Begitu juga dengan batuknya yang berdahak.
“Anu... apa pukulanku saat itu makin memperparah
sakitmu? Saat itu aku sangat kehilangan kendali.” Mawar menundukkan kepalanya
dan bertanya secara berat hati.
“Tidak. Aku bertanya pada dokter... tapi
dia bilang malah tak ada luka pukul sama sekali.”
Saat masih menjadi sisi keduanya, Lily
membasuh tubuh bagian depannya dengan air yang diberikan Aeza dan pulih dalam
beberapa saat.
“Aku ingin keluar.” pinta Lily.
Mereka membantu Lily beranjak dari
ranjangnya menuju kursi roda dan keluar sambil mendorong tiang infus. Melati
yang mendorong kursi roda Lily.
“Sangat asri dan hijau disini.” komentar
Lily saat menghirup udara di taman. Aroma aneka tumbuhan hijau memasuki
hidungnya dan angin sepoi-sepoi di cuaca yang berawan itu.
“Anu... ada yang ingin kutanya pada
kalian.” kata Lily.
“Ini hanya umpama saja... Kalo aku tak
bisa bertahan melawan penyakit ini... dan meninggalkan kalian semua, apa yang
akan kalian lakukan?” tanyanya pelan.
“Kamu jangan berbicara seperti itu. Apa
kamu sudah ingin menyerah dengan penyakitmu ini?” tanya balik Mawar yang tak
percaya akan perkataan Lily.
“Ini hanya umpama... aku juga tidak ingin
terjadi.” Lily mengencangkan cengkeraman tangannya yang sedang memegang kedua
telapak Mawar.
“Tenanglah, kak.” Melati mengelus bahu kakak
kembarnya.
“Pastinya aku sangat sedih kalo kamu kalah
dari penyakit itu. Kita sepakat memulai tatanan baru denganmu setelah sekian
lama kita salah paham.” jawab Mawar.
“Tapi... kalo aku bisa bertahan dari
penyakit ini... kalian mau menemaniku berjualan?”
“Mau. Kita sangat mau.” jawab mereka
sambil mengangguk berbarengan.
“Permisi. Maaf, saudari Lily harus
istirahat dulu. Jam besuk juga sudah habis.” seorang suster dan dokter datang
menjemputnya setelah mereka ngobrol cukup lama.
“Besok kita kesini lagi pagi-pagi. Tetap
sehat.” Mawar pamit.
“Terima kasih.”
“Mereka teman-temanmu?” tanya dokter saat
Lily didorong kursi rodanya oleh suster.
“Mereka yang terbaik.”
“Hmm, baiklah kita lanjutkan perawatanmu.”
Esok paginya...
“Aku penasaran apa Lily sekarang sudah
makin membaik?” kata Aeza saat baru memasuki pintu dekat administrasi.
“Jawabannya bakal tau saat kita
menemuinya.” jawab Hime.
Mereka melihat Mawar dan Melati di lorong
dekat kamar inap Lily dengan sikap yang tak biasa. Mawar berdiri bersandar
tembok dengan ekspresi terkejut, sedangkan Melati duduk di kursi dan menangis
tak bersuara.
“Kalian kenapa?” Aeza bingung.
Melati langsung memeluk Aeza dengan sangat
erat sambil menangis agak keras.
“Lily... Lily!!”
“Lily... meninggal.” jawab Mawar pelan
dengan tatapan kosong.
Jawaban itu membuat mereka sangat terkejut
dan memasuki kamar inapnya. Terlihat seseorang di ranjang yang ditutupi kain
putih seluruhnya. Wajah Lily terlihat pucat dan damai saat Hime membuka kain di
bagian kepalanya dan disusul oleh tangis mereka berdua.
Setengah jam lalu Mawar-Melati datang,
lalu melihat dokter dan suster terburu-buru memasuki kamar Lily. Semua benda kecil
didalam kamar bergerak-gerak sendiri ketika Lily dalam kondisi kritis, dan kemudian
tak bergerak lagi. Dokter berusaha menyadarkan kembali dengan menyetrum dada
Lily dengan chest paddle namun sudah terlambat. Tubuh lemas dan menangis
langsung mendatangi bunga kembar. Lily meninggal dengan meneteskan air mata
terakhirnya. Dokter dan suster yang merawat Lily mengucapkan kalimat duka
mendalam dan meminta maaf yang sebesar-besarnya.
Mawar menemukan kertas yang sudah dilecek
di tempat sampah samping Lily dan mengambilnya. Tertulis tanggal tiga hari yang
lalu Lily divonis menderita penyakit yang menyerang paru-parunya dan sudah
stadium akhir sehingga hidupnya hanya menghitung hari. Sepertinya Lily sengaja
membuang kertas itu dan menyembunyikan penyakitnya agar teman-temannya tidak
terlalu mengkhawatirkannya. Ia merasa sangat bodoh selama ini telah memusuhinya
dan beberapa hari yang lalu mereka sempat bertarung dengannya dengan kondisi
yang seburuk itu.
Pemakaman Lily dihadiri oleh seluruh guru,
beberapa teman dan tim jubah putih. Jubah hitam hanya Mawar-Melati dan Yuko.
Yang lebih miris lagi, rumah Lily sederhana dan hanya tinggal bersama kakek dan
neneknya. Lily sudah tak memiliki kedua orang tua sejak kelas dua menengah
pertama dan ia juga anak tunggal. Sekarang ia dimakamkan disamping makam kedua
orang tuanya, suasana haru pecah saat Lily dimasukkan kedalam liang lahat.
“Surya, bisa bicara denganmu sebentar?”
Melati menghampiri Surya setelah penguburan tubuh Lily. Surya juga terlihat
lebih diam sedari dirumah Lily.
Yuko yang memang menyukai Surya sejak dulu
mendengarnya secara tak sengaja dan bersembunyi.
“Aku hanya ingin menyampaikan apa yang
dikatakan Lily sebelum pergi. Kalo dia selama ini suka dan sayang sama kamu,
dia sering banget stalk kamu.” kata Melati.
“Gue juga... tadinya juga abis perang itu
gue mau nyatain ke Lily kalo gue juga suka dia. Tapi dia... udah keburu pergi.”
jawab Surya murung.
Yuko mendengar itu semua dan menangis lalu
meninggalkan tempat itu.
Seminggu kemudian Mawar dan Melati
memenuhi janji Lily untuk berjualan. Sesampainya disana mereka melihat gerobak
ayam goreng penyet yang biasa Lily dorong untuk menyambung hidup. Terlihat
bagus dan masih terawat dengan baik. Neneknya lah yang membuat bumbu ayam
penyet, juga tahu dan tempenya. Sementara kakeknya yang membuat sambel ulek
dengan rasa yang khas dan terkenal pedas. Mereka siap berjualan setelah
berdiskusi dan berbincang mengenai permintaan terakhir sahabatnya.
Berpindah ke kamar Lily. Mereka pernah
kesini beberapa kali sebelum bermusuhan. Kamarnya sangat rapi, terdapat biola
pemberian mereka saat ulang tahunnya di kursi kayu, dan di meja belajarnya ada
beberapa foto bersama mereka masih disimpan. Berbeda dengan Mawar dan Melati
yang sudah membakar habis semua yang berhubungan dengannya dulu. Sekarang
mereka sangat menyesal telah melakukan itu.
Esok sore Mawar-Melati mulai jalan dan
mendorong gerobak bersama menuju tempat biasa Lily berjualan dan menata alat
seperti kursi, meja panjang serta terpal yang tersambung dengan gerobak.
“Hei, nak. Oh kamu temennya Lily itu ya
yang si kembar itu?” tanya seorang ibu penjual soto ayam disampingnya yang
memakai gerobak juga.
“I... iya, bu.” jawab Mawar pelan.
Malam mulai menyelimuti kota dan pelanggan
mulai datang satu per satu. Mereka tak menduga ternyata banyak sekali yang
ingin merasakan ayam penyet istimewa ini. Ibu penjual soto tersenyum ditengah
kesibukan mereka. Ada tak sedikit pelanggan yang bertanya Lily dimana dan
mereka jawab seadanya yang membuat mereka kecewa dan merasa kehilangan.
“Dulu waktu masih disini, Lily itu selalu
senyum ke pelanggan jadi dia punya banyak langganan dari banyak kalangan. Dia
juga cerita kalo dia sering banget terima pesanan nasi box. Ayam buatannya juga
lebih enak dari yang ibu makan sekarang. Kalo kamu pernah coba, pasti kamu mau
lagi.” curhat ibu penjual soto sambil memakan ayam penyet disaat mulai sepi.
“Sayangnya... kita nggak pernah dapat
kesempatan lagi buat coba masakan temen kita.” kata Melati.
Ternyata lebih banyak yang menyukai Lily
dibandingkan yang membencinya. Dia disekolah kerap ditindas atau di bully oleh
anak yang kastanya lebih tinggi. Sejak cerita itu hingga sampai dirumahnya dan
beranjak tidur mereka sudah total menyesal karena telah membuang Lily dari
kehidupan mereka hanya karena iri, cemburu dan kesalah pahaman yang ada didalam
hati mereka. Melati kembali menangis di ranjangnya ketika mengingat saat
bersama Lily dulu dan terakhir mereka bbersama sore itu. Mawar menenangkannya
dengan memeluk erat tubuhnya dan bersedih.
Sejahat apapun Mawar-Melati, namun Lily
tak pernah marah, menyesal dan kapok memiliki teman kakak beradik itu. Tekadnya
sangat kuat untuk menyadarkan mereka kembali meski didera penyakit yang sangat
parah hingga stadium akhir.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar