“E... eh. Iya.”
“Kamu udah disini. Maaf ya, lama gak
nunggunya?” tanya Anggrek saat menghampiri Aeza di taman dekat rumahnya.
“Ah, nggak kok. Ayo langsung ke rumahmu
aja.” ajak Aeza.
“Ayo.”
Mereka sampai rumah Anggrek setelah lima
menit berjalan.
“Oh ini. Bagus juga.”
“Namanya juga rumah baru. Hehe.”
“Makasih ya udah boleh main kerumah kamu.”
ucap Aeza.
“Iya. Maaf ya. Aku besok sore mau ada
acara soalnya.” jawab Anggrek.
“Gapapa. Besok aku juga ada.”
“Hati-hati ya.”
Aeza berbalik badan, begitu juga Anggrek.
Acara sebenarnya untuk besok adalah perang antara kubu mereka yang saling
bermusuhan. Namun sampai sekarang mereka masih belum mengetahui satu sama lain.
Esok siang.
“Udah siap?” tanya Hime.
“Udah, kak.”
“Kita kalahkan mereka.” ucap Hime gagah.
Mengunci pintu rumah dan gerbangnya menuju tempat berkumpul yang dimaksud Indry
di pesan singkatnya.
Sesampainya disana, mereka sudah berkumpul
lengkap. Mengenakan jubah bertudung berwarna putih dengan satu kancing besar di
dada kanan.
“Pake dulu.” Lara memberi mereka berdua
yang baru datang itu dua buah jubah yang sudah dilipat.
“Ya, semuanya udah kumpul disini. Sebentar
lagi kita bakalan kesana dan mulai bertarung. Persiapin semuanya. Demi temen-temen kita.” Indry membuka
pembicaraan.
“Ada yang mau disampaikan?” tanya Indry.
“Anu. Aku buatin ini untuk kalian.”
Aeza membuka goody bag berisi air mineral
dalam botol sebanyak jumlah mereka dan membaginya.
“Tadi aku merendam tanganku kedalam air
dan melesapkan kekuatanku saat itu. Ini air untuk menyembuhkan luka jika kalian
terluka, tinggal siram atau minum aja. Seperti yang kalian tau kalo kekuatan
air aku bisa untuk menyembuhkan, setidaknya hanya penghilang rasa sakit dan bisa
menutup luka luar.” Aeza menjelaskan.
“Dengan begini persiapan kita udah
selesai. Sekarang kita hening sejenak untuk berdoa.”
“Doa selesai.” ucap Indry sepuluh detik
kemudian.
Di tempat lain disaat yang bersamaan. Rio
dan anggotanya sudah berkumpul di markas. Mereka mengenakan jubah yang sama
namun berwarna hitam, kecuali Anggrek. Ia tetap pada jubah lamanya yang tak
karuan bagian bawah dan topi khas penyihir.
“AYO.” Indry dan Rio mengucapkannya disaat
yang bersamaan dan memimpin di barisan depan.
Kelompok Indry berjalan ke lokasi dengan
ekspresi datar, dan Lily dengan tatapan cemas. Hari ini ia harus berhadapan
dengan sahabatnya.
Di kelompok Rio juga berjalan ke lokasi,
Yudi mengembangkan sayap hitam besarnya dan terbang. Anggrek dengan sapu
terbangnya mulai terbang menjauh ke belakang sambil memakan cemilan manis dan
membawa satu liter susu kotak. Mawar dengan ekspresi datar seperti biasa, dan
Melati dengan ekspresi senyum menusuknya seperti karakter yandere sambil
memainkan butterfly knife sesekali.
Kelompok Indry sudah sampai lebih dulu di
tempat yang akan menjadi medan pertempuran. Tanah gersang dan meretak yang
sangat luas, dihiasi siang menjelang sore dengan langit berwarna oranye merah
berawan dan kabut tipis.
“Dimana mereka?” tanya Dharma.
“Mungkin mereka lelah. Tapi baguslah dia
memilih tempat gersang ini. Nggak akan ada tumbuhan yang terinjak.” ucap Putri
santai.
“Semuanya, diam sebentar!”
Indry mendekatkan kedua tangan ke kedua
telinganya. Setelah itu menempelkan kedua tangannya ke tanah untuk merasakan
getaran.
“Mereka datang.”
“Tapi... tapi kayaknya banyak banget
jumlahnya.”
“Mereka ngajak satu sekolah kali ya?”
tanya Doni bingung.
“Surya, coba hilangin kabutnya!” suruh
Hime.
“Ya.”
Surya merentangkan tangannya. Dengan cepat
kabut itu minggir berkat kekuatan angin yang dihasilkan.
Mereka semua tampak terkejut. Terdapat
banyak tulang belulang dengan asap tipis berwarna ungu berlari menuju mereka
seperti pasukan.
“Tengkorak!” mereka semua terkejut.
“Apa-apaan nih?” Doni panik.
“Bersiap semuanya. Dharma, Lara, jangan
berubah dulu. Pake jurus bela diri kalian. Berubah kalo memang udah terdesak.”
instruksi Indry.
“Siap.” jawab mereka berdua.
“Gue akan cari biangnya. Berpencar!”
Indry melesat sangat cepat setelah berubah
menjadi macam kumbang. Menghindari pasukan tulang itu untuk menyimpan energi
melawan Rio.
Sebuah botol pecah dihadapan mereka. Lily
merasakan hal yang akan terjadi. Belasan cahaya turun dari langit kearah
mereka.
“Awas!”
Belasan cahaya itu adalah petir yang
menyambar mereka.
“Tenang... semua aman.” Lily membentang
kedua tangannya. Disekeliling mereka dilindungi lapisan bening aneh yang kemudian
menghilang beberapa saat kemudian.
“Force field.” gumam Dharma.
“Semuanya. Menyebar!” perintah Aldi.
Mereka semua sekarang terpecah beberapa bagian.
“Apaan tuh? Apa mereka semua gapapa?”
gumam Indry menengok ke belakang.
Secepat kilat leher Indry seperti dicekik.
Tubuhnya diangkat dan dibanting ke tanah.
“Aaahhh. Siapa dia?” gumamnya lagi sambil
menahan sakit.
“Surya, ayo kita habisi mereka semua.”
ajak Aldi sambil berlari kecepatan super. Berlari gesit diantara pasukan itu
dan mengalahkannya.
“Jangan pamer.” Jawab Surya. Terbang
dengan angin seperti levitasi. Memegang bola angin yang sangat besar berisi
banyak pasukan yang hancur berantakan berputar-putar dengan satu tangan.
“Lo kali yang pamer.”
Dua buah petir kembali menyambar. Kini
persis dihadapan Aldi yang tengah berlari sangat cepat dan membuat terjatuh dan
terpental.
Doni yang sedang menyerang pasukan
tengkorak diserang tanpa ia sadari dari atas dan menindih tubuhnya. Begitu juga
Lily, diserang saat cemas melihat Surya diserang. Hal serupa terjadi pada Ivan,
Dharma dan Lara.
Mereka yang diserang semuanya mengenakan
jubah hitam dengan tudung menutupi kepala.
“Lo?” Indry menatapnya.
“Wah. Kita reuni ya, bro.” ujar
seorang serba hitam tudungnya dihadapan Aldi dan Surya.
“Hei, pecundang.” sayap hitam besar
terbentang dihadapan Doni.
“Jangan lengah begitu, partner.” Lily yang
tersungkur menatap kedua orang didepannya.
Mereka berdua membuka tudung didepan Lily.
Mawar dan Melati dengan ekspresi khas mereka dan masing-masing memegang senjata.
Mawar dengan sabit kapak, Melati dengan pisaunya.
“Leo!” Indry terkejut.
“Haah, udah gue duga itu lo.” ucap Surya.
Dihadapannya adalah Putra.
“Hai. Kawan lama.” jawab Doni.
“Aku nggak percaya ternyata Lily datang
kesini, kak.” kata Melati. Menatap tajam Lily dengan senyuman.
Ivan dihadapkan oleh teman lamanya, Jojo
yang bertubuh kecil. Begitu juga Indry yang dihadapkan oleh Leo. Juga Dharma
dan Lara dihadapkan Johan.
Mereka bertiga adalah para hasutan Rio
yang memiliki kekuatan super. Dan secara berbarengan mereka mulai berubah. Jojo
yang bertubuh kecil perlahan membesar dan tubuhnya diselimuti bebatuan seperti
monster golem. Leo berubah menjadi singa jantan,dan Johan yang berubah menjadi
anjing besar berbulu hitam.
“Kak, kak. Kukira Lily bakalan mengurung
diri di kamar dan menangis seperti biasanya, atau curhat dengan boneka jeleknya.
Hehehe.” kata Melati.
“Udahlah, kita serang sekarang!” Mawar
mengeluarkan sabit dari sarungnya.
“Baiklah.”
Mereka menyerang Lily dengan cepat, namun
Lily berhasil menghindar.
“Teleportasi? Tak kusangka Lily mendapat
kekuatan menyusahkan itu.” gumam Mawar.
“Kalian... tunggu dulu. Aku bisa
menjelaskan semua.”
“Menjelaskan apa? Kalau kita ini jongos
kamu?” tanya Melati. Suaranya lembut.
Mereka terus menyerang dan Lily tetap
menghindar dengan teleportasi jarak dekat tanpa memberinya kesempatan berbicara.
“Dasar tak tau terima kasih!” Mawar marah.
Meluncurkan serangan penuh dengan sabitnya.
Tiba-tiba sebuah tongkat kayu menepis mata
sabitnya.
“Beraninya keroyokan.” kata Putri. Menahan
senjata itu dengan akar merambat tebal yang membungkus tangannya.
“Kita tak punya urusan denganmu.
Minggirlah atau ikut kutebas!” Mawar memperingatkannya.
“Memangnya kamu bisa melukaiku dengan
sabit butut berkarat itu?” ejek Putri.
“Kamu buta? Lihat baik-baik, sisi mananya
yang berkarat? Minggirlah! Kau tak sebanding denganku.”
“Oh ya? Kalo begitu nggak masalah kan jika
kekuatanku tak sebanding denganmu. Apa kau takut terus mengusirku?” Putri membalikkannya.
Mawar jengkel karena Putri terus membalasnya.
“Hmm. Baiklah. Kamu yang memaksa.” Mawar
menerima tantangan Putri.
“Gitu dong.”
“Jangan, Put. Dia... berbahaya.” cegah
Lily.
“Jangan dulu merasa kuat. Mereka tak akan
mau mendengarkanmu saat ini. Apa kamu sanggup melawan mereka sekaligus yang
diliputi amarah?” tanya Putri yang mampu membuat Lily terdiam.
“Kak, kak. Aku mau nyerang Lily. Boleh
ya?” Melati memohon dengan manja.
“Silakan. Bawa dia jauh dari sini. Kakak
mau mengalahkan dia dulu. ”
“Asik.”
Melati menatap tajam Lily.
“Sekarang, kita main.”
Melati dengan serangan cepatnya menyeruduk
Lily menggunakan bahu kanannya hingga mereka berdua terjatuh.
“Lily?” Putri cemas.
“Hei, fokus dengan lawanmu! Kamu yang
minta kan?” Mawar menyerang dengan sabitnya tapi berhasil ditepis tangan
berakar Putri.
“Akan kubuat kalian menyesal.” ujar Putri.
Kedua tangannya mulai diselimuti akar yang merambat ditumbuhi dedaunan kecil. Matanya
mulai berubah hijau daun.
“Coba saja, manusia pohon.” Mawar
membunyikan tulang leher dan jari-jari tangannya. Matanya berubah ungu.
“Hati-hati jika berbicara.”
Mereka terlibat adu senjata. Mawar mulai
jengkel ketika akar yang menyelimuti tangan Putri terus tumbuh meski sudah
berkali-kali ia tebas.
“Heee, kukira kamu lebih kuat setelah
mendapat kekuatan. Ternyata kamu rapuh seperti biasanya.” kata Melati.
“Aku... tak ingin melawanmu.” Lily
perlahan bangkit.
“Hmm?”
“Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu
lagi... itu saja.”
“Aku sama kak Mawar justru mau menghabisi
kamu. Gimana dong?” tanya Melati. Memainkan pisau kupu-kupu di tangannya.
“Aku datang kesini untuk membujuk kalian
kembali... dan jawaban yang kudapat adalah kalian ingin menghabisiku... dari
mulut dan niat kalian sendiri... apa kalian sudah sangat jahat seperti ini sama
aku?” kemudian Lily menangis.
“Hmm... baiklah. Aku bakalan dengerin
penjelasan kamu. Tapi kamu harus membuatku percaya dengan penjelasanmu, dan
kamu harus mengalahkanku. Bisa?” tantang Melati.
“Kalo hanya itu satu-satunya cara... aku
akan melakukannya.” Lily mulai serius ingin bertarung dan bangkit.
“Aeza, tetep dideket gue. Nggak disangka
strategi Indry bakal gagal dan mereka pada misah gini.” kata Hime. Kedua
tangannya diselimuti api.
“Iya kak.” jawabnya. Menutupi kepalanya
dengan tudung jubah.
Mereka berdua maju menerobos pasukan
tengkorak dengan Hime sebagai tamengnya. Ia menembakkan beberapa kali bola api
dan sesekali menyemburkan api. Begitu juga Aeza, ia lebih mengandalkan serangan
cambuk air dan melempar es tipis seperti sabit yang sangat tajam.
“Hmm, siapa mereka? Hebat sekali.” puji
Anggrek dari ketinggian yang jauh. Mengambil beberapa stik pocky di sangkutan
pinggang kanan dan memakannya.
“Bagaimana kalau ini?” Anggrek
mengeluarkan bola api hijau di tangan kirinya dan melemparnya ke mereka berdua.
Aeza dan Hime terpental dengan serangan
tak dikenal. Tak lama seseorang mulai mendekati mereka.
“Aeza?” Anggrek terkejut saat melihat wajahnya.
“Kamu Anggrek kan?” tebak Aeza yang
didepannya tampak seseorang memakai topi penyihir.
Mereka bertemu di medan perang dengan kubu
yang berbeda.
“Iya, ini aku. Kamu kenapa disini?”
“Kamu juga.” Aeza tanya balik.
“Lo kenal dia?” tanya Hime.
“Dia temen aku.” jawabnya.
“I... ini tidak benar. Maafin aku.” sesal
Anggrek. Memegangi kepalanya, sepertinya ia pusing.
“Kenapa kamu bisa ada di kelompok Rio?”
“Rio mengajakku, karena aku selalu sendiri
di kelas. Aku tidak tau, kalau selama ini mereka itu jahat.”
“Maaf, aku harus pergi.” Anggrek terbang
meninggalkan mereka berdua. Pasukan tengkorak berubah menjadi abu.
“Anggrek.” Aeza menatap dengan cemas.
“Ini menarik. Kolaborasi yang sangat
sempurna. Kekuatan kegelapan dan benang-benang lo mengendalikan para budak
hasutan itu.” ucap Rio bangga. Berdiri diatas menara batu yang dibuat Jojo.
Yuko yang juga berdiri diatas menara batu
diseberangnya diam. Sedang mengendalikan budak-budak hasutan dengan
benang-benangnya.
“Ada yang melihat Anggrek? Pasukan
tengkoraknya semua hilang.” tanya Yuko.
“Tenang, gue udah tau dia bakalan kabur
lagi. Sama kayak dia latihan nggak pernah dateng ataupun cuma latihan sebentar.
Gue tau dia kabur kemana. Tenang aja, nanti juga balik lagi kesini.” jawab Rio
tenang.
“Aeza, bersiap. Orang yang ingin kita
hadapi ada disana.” tunjuk Hime.
“Ayo!”
Mereka berdua berlari menuju Rio.
“Maju! Hambat mereka!” perintah Rio.
Sosok bertudung hitam berlari cepat kearah
Aeza dan Hime. Lalu berubah menjadi sangat banyak setelah berada belasan meter
dekat mereka.
“Apaan nih!” Hime berhenti dan terkejut.
Menghentikan Aeza juga.
“Disana yang asli, kak.”
Aeza membuat sabit es tajam dan
melemparnya yang menurutnya asli, dan berhasil mengenainya hingga terjatuh.
Sebagian kloningan menghilang.
“Maya!” mereka terkejut. Bagian putih
matanya berubah hitam, begitu juga dengan Leo, Jojo, dan Johan. Persis seperti
Hime ketika kena hasutan Rio dulu.
Maya yang sudah terbongkar identitasnya
mulai membuat kloningan kembali. Kali ini jumlahnya sangat banyak sehingga Aeza
dan Hime seperti dikepung.
“Sial. Si Johan ternyata kuat banget.”
keluh Dharma. Kelelahan.
“Aku gak kuat kalo gini terus. Mending
kita berubah aja.” usul Lara, memegang tangan Dharma.
“Baiklah, kalo itu untuk kebaikan Johan.”
Dharma menerima usulan itu. Perlahan-lahan tubuhnya diselimuti sisik, lama
kelamaan tubuhnya memanjang. Beberapa saat kemudian ia sudah menjadi naga
shenlong yang seperti ular.
“Maaf, Johan.” kedua tangan Lara mulai
seperti sayap burung dan mengeluarkan api yang menyelimuti sayapnya. Tak lama
seluruh tubuhnya menjadi burung yang diselimuti api di sekujur tubuh. Dengan
tiga ekor yang memanjang.
“Serang!”
Mereka yang sama-sama terbang mulai
menyerang. Dharma yang berubah menjadi naga mengeluarkan api dari mulutnya,
sementara Lara mengeluarkan api dari kepakkan angin sayapnya.
“Sial. Udah gue duga Jojo bakalan sekuat
ini.” komentar Ivan. Dirinya yang seluruh tubuhnya diselimuti berlian saling beradu
kekuatan oleh Jojo yang membesar dan tubuh yang diselimuti batu.
“Ternyata asik juga reuni dengan mantan
teman.” ujar Putra dengan senyuman. Kedua tangannya memegang bola petir dan
dirinya melayang 10cm dari tanah dan terus melemparinya.
“Petir, ya? Gue nggak akan bisa nyerang
kalo badannya terus dilindungi aliran listrik.” gumam Aldi. Dia adalah petarung
jarak dekat yang langsung beradu fisik. Sudah beberapa kali ia dan Surya
terkena sambaran petir Putra yang membuatnya lemas.
“Kita mesti kerja sama. Lo alihin
perhatiannya, gue akan coba nyerang nanti.” usul Surya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar