Jumat, 29 April 2016

Mazna X Adara (Chapter 12) Perang



     “E... eh. Iya.”

     “Kamu udah disini. Maaf ya, lama gak nunggunya?” tanya Anggrek saat menghampiri Aeza di taman dekat rumahnya.

     “Ah, nggak kok. Ayo langsung ke rumahmu aja.” ajak Aeza.

     “Ayo.”

     Mereka sampai rumah Anggrek setelah lima menit berjalan.

     “Oh ini. Bagus juga.”

     “Namanya juga rumah baru. Hehe.”



     “Makasih ya udah boleh main kerumah kamu.” ucap Aeza.

     “Iya. Maaf ya. Aku besok sore mau ada acara soalnya.” jawab Anggrek.

     “Gapapa. Besok aku juga ada.”

     “Hati-hati ya.”

     Aeza berbalik badan, begitu juga Anggrek. Acara sebenarnya untuk besok adalah perang antara kubu mereka yang saling bermusuhan. Namun sampai sekarang mereka masih belum mengetahui satu sama lain.


Esok siang.

     “Udah siap?” tanya Hime.

     “Udah, kak.”

     “Kita kalahkan mereka.” ucap Hime gagah. Mengunci pintu rumah dan gerbangnya menuju tempat berkumpul yang dimaksud Indry di pesan singkatnya.

     Sesampainya disana, mereka sudah berkumpul lengkap. Mengenakan jubah bertudung berwarna putih dengan satu kancing besar di dada kanan.

     “Pake dulu.” Lara memberi mereka berdua yang baru datang itu dua buah jubah yang sudah dilipat.

     “Ya, semuanya udah kumpul disini. Sebentar lagi kita bakalan kesana dan mulai bertarung. Persiapin semuanya.  Demi temen-temen kita.” Indry membuka pembicaraan.

     “Ada yang mau disampaikan?” tanya Indry.

     “Anu. Aku buatin ini untuk kalian.”

     Aeza membuka goody bag berisi air mineral dalam botol sebanyak jumlah mereka dan membaginya.

     “Tadi aku merendam tanganku kedalam air dan melesapkan kekuatanku saat itu. Ini air untuk menyembuhkan luka jika kalian terluka, tinggal siram atau minum aja. Seperti yang kalian tau kalo kekuatan air aku bisa untuk menyembuhkan, setidaknya hanya penghilang rasa sakit dan bisa menutup luka luar.” Aeza menjelaskan.

     “Dengan begini persiapan kita udah selesai. Sekarang kita hening sejenak untuk berdoa.”

     “Doa selesai.” ucap Indry sepuluh detik kemudian.

     Di tempat lain disaat yang bersamaan. Rio dan anggotanya sudah berkumpul di markas. Mereka mengenakan jubah yang sama namun berwarna hitam, kecuali Anggrek. Ia tetap pada jubah lamanya yang tak karuan bagian bawah dan topi khas penyihir.

     “AYO.” Indry dan Rio mengucapkannya disaat yang bersamaan dan memimpin di barisan depan.

     Kelompok Indry berjalan ke lokasi dengan ekspresi datar, dan Lily dengan tatapan cemas. Hari ini ia harus berhadapan dengan sahabatnya.

     Di kelompok Rio juga berjalan ke lokasi, Yudi mengembangkan sayap hitam besarnya dan terbang. Anggrek dengan sapu terbangnya mulai terbang menjauh ke belakang sambil memakan cemilan manis dan membawa satu liter susu kotak. Mawar dengan ekspresi datar seperti biasa, dan Melati dengan ekspresi senyum menusuknya seperti karakter yandere sambil memainkan butterfly knife sesekali.



     Kelompok Indry sudah sampai lebih dulu di tempat yang akan menjadi medan pertempuran. Tanah gersang dan meretak yang sangat luas, dihiasi siang menjelang sore dengan langit berwarna oranye merah berawan dan kabut tipis.

     “Dimana mereka?” tanya Dharma.

     “Mungkin mereka lelah. Tapi baguslah dia memilih tempat gersang ini. Nggak akan ada tumbuhan yang terinjak.” ucap Putri santai.

     “Semuanya, diam sebentar!”

     Indry mendekatkan kedua tangan ke kedua telinganya. Setelah itu menempelkan kedua tangannya ke tanah untuk merasakan getaran.

     “Mereka datang.”

     “Tapi... tapi kayaknya banyak banget jumlahnya.”

     “Mereka ngajak satu sekolah kali ya?” tanya Doni bingung.

     “Surya, coba hilangin kabutnya!” suruh Hime.

     “Ya.”

     Surya merentangkan tangannya. Dengan cepat kabut itu minggir berkat kekuatan angin yang dihasilkan.

     Mereka semua tampak terkejut. Terdapat banyak tulang belulang dengan asap tipis berwarna ungu berlari menuju mereka seperti pasukan.

     “Tengkorak!” mereka semua terkejut.

     “Apa-apaan nih?” Doni panik.

     “Bersiap semuanya. Dharma, Lara, jangan berubah dulu. Pake jurus bela diri kalian. Berubah kalo memang udah terdesak.” instruksi Indry.

     “Siap.” jawab mereka berdua.

     “Gue akan cari biangnya. Berpencar!”

     Indry melesat sangat cepat setelah berubah menjadi macam kumbang. Menghindari pasukan tulang itu untuk menyimpan energi melawan Rio.

     Sebuah botol pecah dihadapan mereka. Lily merasakan hal yang akan terjadi. Belasan cahaya turun dari langit kearah mereka.

     “Awas!”

     Belasan cahaya itu adalah petir yang menyambar mereka.

     “Tenang... semua aman.” Lily membentang kedua tangannya. Disekeliling mereka dilindungi lapisan bening aneh yang kemudian menghilang beberapa saat kemudian.

     “Force field.” gumam Dharma.

     “Semuanya. Menyebar!” perintah Aldi. Mereka semua sekarang terpecah beberapa bagian.


     “Apaan tuh? Apa mereka semua gapapa?” gumam Indry menengok ke belakang.

     Secepat kilat leher Indry seperti dicekik. Tubuhnya diangkat dan dibanting ke tanah.

     “Aaahhh. Siapa dia?” gumamnya lagi sambil menahan sakit.


     “Surya, ayo kita habisi mereka semua.” ajak Aldi sambil berlari kecepatan super. Berlari gesit diantara pasukan itu dan mengalahkannya.

     “Jangan pamer.” Jawab Surya. Terbang dengan angin seperti levitasi. Memegang bola angin yang sangat besar berisi banyak pasukan yang hancur berantakan berputar-putar dengan satu tangan.

     “Lo kali yang pamer.”

     Dua buah petir kembali menyambar. Kini persis dihadapan Aldi yang tengah berlari sangat cepat dan membuat terjatuh dan terpental.


     Doni yang sedang menyerang pasukan tengkorak diserang tanpa ia sadari dari atas dan menindih tubuhnya. Begitu juga Lily, diserang saat cemas melihat Surya diserang. Hal serupa terjadi pada Ivan, Dharma dan Lara.

     Mereka yang diserang semuanya mengenakan jubah hitam dengan tudung menutupi kepala.

     “Lo?” Indry menatapnya.


     “Wah. Kita reuni ya, bro.” ujar seorang serba hitam tudungnya dihadapan Aldi dan Surya.


     “Hei, pecundang.” sayap hitam besar terbentang dihadapan Doni.

     “Jangan lengah begitu, partner.” Lily yang tersungkur menatap kedua orang didepannya.


     Mereka berdua membuka tudung didepan Lily. Mawar dan Melati dengan ekspresi khas mereka dan masing-masing memegang senjata. Mawar dengan sabit kapak, Melati dengan pisaunya.

     “Leo!” Indry terkejut.


     “Haah, udah gue duga itu lo.” ucap Surya. Dihadapannya adalah Putra.


     “Hai. Kawan lama.” jawab Doni.


     “Aku nggak percaya ternyata Lily datang kesini, kak.” kata Melati. Menatap tajam Lily dengan senyuman.


     Ivan dihadapkan oleh teman lamanya, Jojo yang bertubuh kecil. Begitu juga Indry yang dihadapkan oleh Leo. Juga Dharma dan Lara dihadapkan Johan.

     Mereka bertiga adalah para hasutan Rio yang memiliki kekuatan super. Dan secara berbarengan mereka mulai berubah. Jojo yang bertubuh kecil perlahan membesar dan tubuhnya diselimuti bebatuan seperti monster golem. Leo berubah menjadi singa jantan,dan Johan yang berubah menjadi anjing besar berbulu hitam.


     “Kak, kak. Kukira Lily bakalan mengurung diri di kamar dan menangis seperti biasanya, atau curhat dengan boneka jeleknya. Hehehe.” kata Melati.
     “Udahlah, kita serang sekarang!” Mawar mengeluarkan sabit dari sarungnya.

     “Baiklah.”

     Mereka menyerang Lily dengan cepat, namun Lily berhasil menghindar.

     “Teleportasi? Tak kusangka Lily mendapat kekuatan menyusahkan itu.” gumam Mawar.

     “Kalian... tunggu dulu. Aku bisa menjelaskan semua.”

     “Menjelaskan apa? Kalau kita ini jongos kamu?” tanya Melati. Suaranya lembut.

     Mereka terus menyerang dan Lily tetap menghindar dengan teleportasi jarak dekat tanpa memberinya kesempatan berbicara.

     “Dasar tak tau terima kasih!” Mawar marah. Meluncurkan serangan penuh dengan sabitnya.

     Tiba-tiba sebuah tongkat kayu menepis mata sabitnya.

     “Beraninya keroyokan.” kata Putri. Menahan senjata itu dengan akar merambat tebal yang membungkus tangannya.

     “Kita tak punya urusan denganmu. Minggirlah atau ikut kutebas!” Mawar memperingatkannya.

     “Memangnya kamu bisa melukaiku dengan sabit butut berkarat itu?” ejek Putri.

     “Kamu buta? Lihat baik-baik, sisi mananya yang berkarat? Minggirlah! Kau tak sebanding denganku.”

     “Oh ya? Kalo begitu nggak masalah kan jika kekuatanku tak sebanding denganmu. Apa kau takut terus mengusirku?” Putri membalikkannya. Mawar jengkel karena Putri terus membalasnya.

     “Hmm. Baiklah. Kamu yang memaksa.” Mawar menerima tantangan Putri.

     “Gitu dong.”

     “Jangan, Put. Dia... berbahaya.” cegah Lily.

     “Jangan dulu merasa kuat. Mereka tak akan mau mendengarkanmu saat ini. Apa kamu sanggup melawan mereka sekaligus yang diliputi amarah?” tanya Putri yang mampu membuat Lily terdiam.

     “Kak, kak. Aku mau nyerang Lily. Boleh ya?” Melati memohon dengan manja.

     “Silakan. Bawa dia jauh dari sini. Kakak mau mengalahkan dia dulu. ”

     “Asik.”

     Melati menatap tajam Lily.

     “Sekarang, kita main.”

     Melati dengan serangan cepatnya menyeruduk Lily menggunakan bahu kanannya hingga mereka berdua terjatuh.

     “Lily?” Putri cemas.

     “Hei, fokus dengan lawanmu! Kamu yang minta kan?” Mawar menyerang dengan sabitnya tapi berhasil ditepis tangan berakar Putri.
     “Akan kubuat kalian menyesal.” ujar Putri. Kedua tangannya mulai diselimuti akar yang merambat ditumbuhi dedaunan kecil. Matanya mulai berubah hijau daun.

     “Coba saja, manusia pohon.” Mawar membunyikan tulang leher dan jari-jari tangannya. Matanya berubah ungu.

     “Hati-hati jika berbicara.”

     Mereka terlibat adu senjata. Mawar mulai jengkel ketika akar yang menyelimuti tangan Putri terus tumbuh meski sudah berkali-kali ia tebas.


     “Heee, kukira kamu lebih kuat setelah mendapat kekuatan. Ternyata kamu rapuh seperti biasanya.” kata Melati.

     “Aku... tak ingin melawanmu.” Lily perlahan bangkit.

     “Hmm?”

     “Aku hanya ingin kita kembali seperti dulu lagi... itu saja.”

     “Aku sama kak Mawar justru mau menghabisi kamu. Gimana dong?” tanya Melati. Memainkan pisau kupu-kupu di tangannya.

     “Aku datang kesini untuk membujuk kalian kembali... dan jawaban yang kudapat adalah kalian ingin menghabisiku... dari mulut dan niat kalian sendiri... apa kalian sudah sangat jahat seperti ini sama aku?” kemudian Lily menangis.

     “Hmm... baiklah. Aku bakalan dengerin penjelasan kamu. Tapi kamu harus membuatku percaya dengan penjelasanmu, dan kamu harus mengalahkanku. Bisa?” tantang Melati.

     “Kalo hanya itu satu-satunya cara... aku akan melakukannya.” Lily mulai serius ingin bertarung dan bangkit.


     “Aeza, tetep dideket gue. Nggak disangka strategi Indry bakal gagal dan mereka pada misah gini.” kata Hime. Kedua tangannya diselimuti api.

     “Iya kak.” jawabnya. Menutupi kepalanya dengan tudung jubah.

     Mereka berdua maju menerobos pasukan tengkorak dengan Hime sebagai tamengnya. Ia menembakkan beberapa kali bola api dan sesekali menyemburkan api. Begitu juga Aeza, ia lebih mengandalkan serangan cambuk air dan melempar es tipis seperti sabit yang sangat tajam.

     “Hmm, siapa mereka? Hebat sekali.” puji Anggrek dari ketinggian yang jauh. Mengambil beberapa stik pocky di sangkutan pinggang kanan dan memakannya.

     “Bagaimana kalau ini?” Anggrek mengeluarkan bola api hijau di tangan kirinya dan melemparnya ke mereka berdua.

     Aeza dan Hime terpental dengan serangan tak dikenal. Tak lama seseorang mulai mendekati mereka.


     “Aeza?” Anggrek terkejut saat melihat wajahnya.

     “Kamu Anggrek kan?” tebak Aeza yang didepannya tampak seseorang memakai topi penyihir.

     Mereka bertemu di medan perang dengan kubu yang berbeda.

     “Iya, ini aku. Kamu kenapa disini?”
     “Kamu juga.” Aeza tanya balik.

     “Lo kenal dia?” tanya Hime.

     “Dia temen aku.” jawabnya.

     “I... ini tidak benar. Maafin aku.” sesal Anggrek. Memegangi kepalanya, sepertinya ia pusing.

     “Kenapa kamu bisa ada di kelompok Rio?”

     “Rio mengajakku, karena aku selalu sendiri di kelas. Aku tidak tau, kalau selama ini mereka itu jahat.”

     “Maaf, aku harus pergi.” Anggrek terbang meninggalkan mereka berdua. Pasukan tengkorak berubah menjadi abu.

     “Anggrek.” Aeza menatap dengan cemas.



     “Ini menarik. Kolaborasi yang sangat sempurna. Kekuatan kegelapan dan benang-benang lo mengendalikan para budak hasutan itu.” ucap Rio bangga. Berdiri diatas menara batu yang dibuat Jojo.

     Yuko yang juga berdiri diatas menara batu diseberangnya diam. Sedang mengendalikan budak-budak hasutan dengan benang-benangnya.

     “Ada yang melihat Anggrek? Pasukan tengkoraknya semua hilang.” tanya Yuko.

     “Tenang, gue udah tau dia bakalan kabur lagi. Sama kayak dia latihan nggak pernah dateng ataupun cuma latihan sebentar. Gue tau dia kabur kemana. Tenang aja, nanti juga balik lagi kesini.” jawab Rio tenang.

     “Aeza, bersiap. Orang yang ingin kita hadapi ada disana.” tunjuk Hime.

     “Ayo!”

     Mereka berdua berlari menuju Rio.

     “Maju! Hambat mereka!”  perintah Rio.

     Sosok bertudung hitam berlari cepat kearah Aeza dan Hime. Lalu berubah menjadi sangat banyak setelah berada belasan meter dekat mereka.

     “Apaan nih!” Hime berhenti dan terkejut. Menghentikan Aeza juga.

     “Disana yang asli, kak.”

     Aeza membuat sabit es tajam dan melemparnya yang menurutnya asli, dan berhasil mengenainya hingga terjatuh. Sebagian kloningan menghilang.

     “Maya!” mereka terkejut. Bagian putih matanya berubah hitam, begitu juga dengan Leo, Jojo, dan Johan. Persis seperti Hime ketika kena hasutan Rio dulu.

     Maya yang sudah terbongkar identitasnya mulai membuat kloningan kembali. Kali ini jumlahnya sangat banyak sehingga Aeza dan Hime seperti dikepung.


     “Sial. Si Johan ternyata kuat banget.” keluh Dharma. Kelelahan.
     “Aku gak kuat kalo gini terus. Mending kita berubah aja.” usul Lara, memegang tangan Dharma.

     “Baiklah, kalo itu untuk kebaikan Johan.” Dharma menerima usulan itu. Perlahan-lahan tubuhnya diselimuti sisik, lama kelamaan tubuhnya memanjang. Beberapa saat kemudian ia sudah menjadi naga shenlong yang seperti ular.

     “Maaf, Johan.” kedua tangan Lara mulai seperti sayap burung dan mengeluarkan api yang menyelimuti sayapnya. Tak lama seluruh tubuhnya menjadi burung yang diselimuti api di sekujur tubuh. Dengan tiga ekor yang memanjang.

     “Serang!”

     Mereka yang sama-sama terbang mulai menyerang. Dharma yang berubah menjadi naga mengeluarkan api dari mulutnya, sementara Lara mengeluarkan api dari kepakkan angin sayapnya.


     “Sial. Udah gue duga Jojo bakalan sekuat ini.” komentar Ivan. Dirinya yang seluruh tubuhnya diselimuti berlian saling beradu kekuatan oleh Jojo yang membesar dan tubuh yang diselimuti batu.


     “Ternyata asik juga reuni dengan mantan teman.” ujar Putra dengan senyuman. Kedua tangannya memegang bola petir dan dirinya melayang 10cm dari tanah dan terus melemparinya.

     “Petir, ya? Gue nggak akan bisa nyerang kalo badannya terus dilindungi aliran listrik.” gumam Aldi. Dia adalah petarung jarak dekat yang langsung beradu fisik. Sudah beberapa kali ia dan Surya terkena sambaran petir Putra yang membuatnya lemas.

     “Kita mesti kerja sama. Lo alihin perhatiannya, gue akan coba nyerang nanti.” usul Surya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar