Jumat, 29 April 2016

Mazna X Adara (Chapter 13) Perang Antar Sahabat



     “Sial. Ternyata Leo bisa sekuat ini. Kekuatannya seperti singa.” gumam Indry. Terus bertarung dengan Leo yang keduanya telah berubah fisik menjadi hewan. Serangan kebanyakan adalah cakaran dan gigitan maut.


     “Beraninya jangan melayang, napak di tanah!” tantang Doni. Melihat Yudi terus terbang rendah.

     Yudi menerima tantangan Doni. Dia melipat sayap tersebut dan menghilang masuk kedalam tubuhnya dan kembali menyerang seperti tadi.


     “Bagaimana? Katamu tadi aku bukan tandinganmu. Tapi aku berhasil membuatmu kelelahan.” komentar Putri sambil tersenyum mengejek. Lalu bersembunyi dengan cara menambus pohon.

     “Dia membuat hutan kecil ini. Merepotkan! Tapi setidaknya racunku mengenainya walau sedikit.” Mawar mulai marah. Beberapa saat lalu Putri menepuk tanah dengan keras, lalu terciptalah hutan rimbun kecil seperti oase dan mereka berada di pinggirnya.

     “Akan kutebang semua pohon ini sekaligus.” Mawar menyiapkan sabitnya dan berancang-ancang.

     “Tak salah aku membuat hutan ini. Mengingat si kembar itu petarung jarak dekat, dan kakaknya ini mempunyai kekuatan racun. Tapi dia berhasil mengenaiku dengan cipratan racunnya. Aku salah telah meremehkannya. Efek racun ini sangat cepat.” gumam Putri yang bersembunyi didalam salah satu pohon. Memegangi pinggangnya yang kena sedikit racun Mawar.

     “Sekarang!” Mawar menyabit udara dengan berputar searah jarum jam.

     “Apa?” Mawar tak percaya. Tak ada satupun pohon yang terpotong, hanya ada sayatan-sayatan di batang.


     Suara Putri mulai terdengar. Mawar tidak tau darimana arahnya.

     “Kau tau, pohon-pohon tak suka jika mereka ditebang jika masih bisa tumbuh, ataupun mengukir kisah cinta dengan inisial nama di tubuhnya. Selain itu, semua pohon disini adalah pohon yang memiliki batang paling keras yang rata-rata berusia ratusan tahun dan tak bisa ditebang sembarangan. Oh iya, dan saat kau ingin bertarung...”

     Akar-akar pohon dekat permukaan tanah itu mengikat kaki Mawar tanpa disadarinya dan ditarik ke tubuh pohon. Ranting-ranting memeluk Mawar dengan ketat dan menyatu dengan pohon. Sekarang Mawar terjebak dan terikat oleh ranting pohon yang menyatu.

     “...  Jangan lupa untuk selalu mengasah senjatamu dulu sebelumnya. Kau seperti anak kecil yang sangat bangga dengan membawa sebuah pisau yang sudah karatan.”

     Putri keluar dari dalam pohon tersebut disamping Mawar yang sedang terkejut.

     “Sialan!” Mawar menggeram dan berusaha berontak.

     “Jangan pernah merusak alam yang sedang subur. Jika sang alam murka, tak ada manusia yang bisa lari darinya.”


     “Aah...” Putri jatuh terduduk memegangi pinggangnya yang terkena racun.

     “Hahaha, ternyata racunku mulai bereaksi. Tak ada obat untuk racun itu.” Mawar tersenyum sinis.

     “Diamlah!” pohon yang mengikat Mawar semakin ketat mengikat sehingga ia hanya bisa menggerakkan kepalanya saja dan kesakitan.

     “Setiap penyakit pasti memiliki obatnya. Aku akan membuat obat herbal.” Putri berjalan tertatih kedalam hutan.



     Sementara Mawar masih berusaha melepaskan diri dari pohon yang menurutnya terkutuk ini.

     “Melati, dimana kamu?” gumam Mawar.



     Di tempat Lily melawan Melati...

     “Kenapa... kenapa aku tak bisa mengenaimu?!” Melati kesal dengan nafas tak teratur. Tetap dengan senyum tidak normalnya.

     “Karena kamu... petarung jarak dekat.”

     “Hanya itu? Dan kamu selalu menghindar dengan teleport bodohmu dan menepisku dengan benda bulat aneh itu. Lalu selalu membuatku terpental. Baiklah...”

     Melati menyimpan pisaunya dan memanjangkan kedua tangannya kedepan. Secara cepat muncul sangat banyak seperti peluru yang berbentuk lem dari ujung jari-jarinya. Dengan cepat Lily menangkisnya dengan perisai bening dari tangannya.

     “Sekarang, apa kamu bisa menahan ini?” Melati mendekatkan tangannya dan menembakkan bola lem sangat besar hingga ia terpental. Lily tak bisa menghindari serangan itu.

     “Sekarang!”

     Melati melesat dengan cepat kearah Lily dan langsung menendang dengan keras hingga perisainya pecah. Lily panik dan saat itu juga Melati menyerangnya dengan sangat cepat dan membabi buta. Hingga serangan berakhir, Lily mendapat banyak luka di badan akibat tendangan dan luka gores dan tubuhnya semakin melemah. Ia terbaring dengan kedua tangan dan kakinya direkat penuh oleh cairan lengket Melati. Tak puas dengan itu, Melati melumuri seluruh tubuh Lily yang dipenuhi cairan lengket dan menjauh.

     “Tubuhku... sangat lengket.”

     Lily berusaha bergerak namun cairan itu terlalu lengket. Wajahnya yang menghadap Melati samar-samar terlihat bahwa Melati ingin melakukan serangan lagi. Tapi hanya tembakan cairan yang pelan dan memanjang dari dirinya, seperti champagne yang keluar setelah dikocok. Disana Melati menyalakan sebatang korek api.

     “Tapi bau cairan ini... aneh. Seperti...bensin!”

     Lily terkejut setelah menyadarinya.

     “Rasakan ini... teman.” Melati menjatuhkan koreknya sambil tersengal-sengal. Dengan cepat api menjalar dan membakar gundukan cairan lengket yang didalamnya ada Lily. Api menyala hebat seperti api unggun. Cairan lengket Melati mengandung bahan yang mudah terbakar.

Bummm....

     Suara ledakan terdengar.

     “A-Apa?!”

     Melati tak percaya dengan apa yang dilihatnya sekarang. Cairan lengket yang terbakar meletus dan berserakan kemana-mana seperti meteor kecil. Yang membuatnya lebih terkejut adalah ditengah gundukan cairan tadi. Lily melayang di udara tak jauh dari tanah!



     Sebelumnya, didalam cairan lengket...

     “Gawat... aku bisa mati terbakar disini... apa yang... harus kulakukan?” Lily panik.

     “Cukup. Minggirlah, sekarang giliranku! kau terlalu lembek, dasar bodoh! Akan kuperlihatkan caranya bertarung.”

     Ada yang berbicara di pikiran Lily. Dugaannya benar, dia adalah kepribadian Lily yang satunya lagi. Yang pernah muncul saat merebut bonekanya dari Maya. Lily yang ini memiliki sifat kebalikannya, sangat pemarah. Terkadang selalu muncul ketika tubuhnya sedang dalam keadaan terdesak atau sangat marah.

     “Jangan... jangan.” tolaknya.

     Dengan cepat Lily membuat perlindungan dirinya dengan force field satu detik sebelum api itu membakar dirinya.


     “Lily, sisi lain Lily? Aku pernah mendengarnya, tapi baru kali ini aku liat langsung.” Melati terkejut.

     Tak seperti namanya, dari luar Lily memang melayang terdiam dengan mata tertutup poni. Namun didalamnya Lily yang satunya lagi sedang mengamuk.

     Melati terpental tanpa ia sadari dan terseret-seret ke tanah puluhan meter. Kemudian terangkat dan melayang memegangi lehernya yang seperti tercekik. Dari jauh Lily lah yang mengendalikan semua itu dengan telekinesis.

     Tangan kiri berposisi seperti mencekik ke udara, tangan satunya lagi meninju udara berkali-kali secara cepat. Disana melati terlihat sesak dan kesakitan terutama di bagian perut.

     Dalam kesakitannya Melati sulit memegangi leher dan perutnya yang kesakitan. Oksigen di kepalanya menipis karena dicekik dengan sangat kuat dan seluruh tubuhnya lemas.

     “Kakak... tolong aku...” Melati berkata pelan. Tubuhnya perlahan melayang semakin tinggi, dan dengan cepat Lily membanting tubuh Melati ke tanah.

     “Melati...!” Mawar merasakan Melati memanggilnya dengan suara lirih.

     Lily menteleportasi dirinya hingga sudah berada didepan Melati. Melihat tubuh Melati yang terkulai lemas.

     “A... ampun. Maafkan aku. Tolong... kumohon... kita ini sahabat kan... kau ingat?” Melati berbisik, menandakan dirinya sudah sangat tak berdaya. Mengulurkan tangannya.

     “Sayang sekali Lily masih menginginkan kau hidup. Jika tidak, aku akan memisahkan tubuhmu beberapa bagian dan akan kujadikan makanan ikan di kolam rumahnya.” ucap Lily sadis namun dengan suara yang bukan dirinya. Ia menepis tangannya dan mencengkeram wajah Melati kembali mengangkatnya ke udara, namun ini dengan tangannya sendiri.

     Melati berusaha memegang tangan Lily untuk melepaskannya tapi tenaganya sudah lama habis. Tangannya menggantung lemas dan pasrah setelah Lily lebih mencengkeramnya.


     Terdengar sesuatu yang menabrak pohon dekat Mawar diikat.

     “Nggak... nggak mungkin.” Mawar tak percaya.

     “Melatii!!”

      Melati tergeletak tak berdaya di pohon yang ditabraknya. Mawar tak percaya adiknya diperlakukan seperti itu oleh seseorang.

     Lily melayang kearah Melati dan masuk kedalam hutan kecil, menyeret Melati dengan menarik rambutnya.

     “Kurang ajar... tak akan aku maafkan Lily.”

     Kemarahan Mawar sudah pada puncaknya. Ia mengeluarkan racun sebanyak yang ia bisa dari dalam tubuhnya. Tak lama pohon yang mengikatnya mulai sedikit meleleh dan mati akibat racun yang dikeluarkan.

     Mawar mengambil sabitnya kembali. Aura membunuh Mawar terlihat jelas dan kemarahan saat membunuh perampok yang merenggut nyawa ayah dan ibunya muncul ke permukaan.



     “Aku duluan yang nyerang. Nanti kak Hime lompat pas aku mukul tanah.” kata Aeza. Tangannya diselimuti es yang bening.

     “Sekarang!”

     Aeza memukul tanah dan semua kloningan Maya membeku seketika.

     “Nunduk, sekarang giliran gue.”

     Hime saling membenturkan kedua telapak tangannya yang diselimuti api sekuat tenaga. Hasilnya muncul gelombang panas yang kuat dan menghancurkan semua kloningan Maya yang membeku.

     Tanpa aba-aba mereka berdua menyerang Maya yang asli hingga pingsan.

     “Boleh juga. Ayo.” Rio bersiap.

     Mereka juga bersiap-siap.

     Tanpa mereka ketahui sebuah bola hijau meledak mengenai Rio.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar