“Sial. Ternyata Leo bisa sekuat ini.
Kekuatannya seperti singa.” gumam Indry. Terus bertarung dengan Leo yang
keduanya telah berubah fisik menjadi hewan. Serangan kebanyakan adalah cakaran
dan gigitan maut.
“Beraninya jangan melayang, napak di
tanah!” tantang Doni. Melihat Yudi terus terbang rendah.
Yudi menerima tantangan Doni. Dia melipat
sayap tersebut dan menghilang masuk kedalam tubuhnya dan kembali menyerang
seperti tadi.
“Bagaimana? Katamu tadi aku bukan tandinganmu.
Tapi aku berhasil membuatmu kelelahan.” komentar Putri sambil tersenyum
mengejek. Lalu bersembunyi dengan cara menambus pohon.
“Dia membuat hutan kecil ini. Merepotkan!
Tapi setidaknya racunku mengenainya walau sedikit.” Mawar mulai marah. Beberapa
saat lalu Putri menepuk tanah dengan keras, lalu terciptalah hutan rimbun kecil
seperti oase dan mereka berada di pinggirnya.
“Akan kutebang semua pohon ini sekaligus.”
Mawar menyiapkan sabitnya dan berancang-ancang.
“Tak salah aku membuat hutan
ini. Mengingat si kembar itu petarung jarak dekat, dan kakaknya ini mempunyai
kekuatan racun. Tapi dia berhasil mengenaiku dengan cipratan racunnya. Aku
salah telah meremehkannya. Efek racun ini sangat cepat.” gumam Putri yang
bersembunyi didalam salah satu pohon. Memegangi pinggangnya yang kena sedikit
racun Mawar.
“Sekarang!” Mawar menyabit udara dengan
berputar searah jarum jam.
“Apa?” Mawar tak percaya. Tak ada satupun
pohon yang terpotong, hanya ada sayatan-sayatan di batang.
Suara Putri mulai terdengar. Mawar tidak
tau darimana arahnya.
“Kau tau, pohon-pohon tak
suka jika mereka ditebang jika masih bisa tumbuh, ataupun mengukir kisah cinta
dengan inisial nama di tubuhnya. Selain itu, semua pohon disini adalah pohon yang
memiliki batang paling keras yang rata-rata berusia ratusan tahun dan tak bisa
ditebang sembarangan. Oh iya, dan saat kau ingin bertarung...”
Akar-akar pohon dekat permukaan tanah itu
mengikat kaki Mawar tanpa disadarinya dan ditarik ke tubuh pohon. Ranting-ranting
memeluk Mawar dengan ketat dan menyatu dengan pohon. Sekarang Mawar terjebak
dan terikat oleh ranting pohon yang menyatu.
“... Jangan lupa untuk selalu mengasah senjatamu
dulu sebelumnya. Kau seperti anak kecil yang sangat bangga dengan membawa
sebuah pisau yang sudah karatan.”
Putri keluar dari dalam pohon tersebut
disamping Mawar yang sedang terkejut.
“Sialan!” Mawar menggeram dan berusaha
berontak.
“Jangan pernah merusak alam yang sedang
subur. Jika sang alam murka, tak ada manusia yang bisa lari darinya.”
“Aah...” Putri jatuh terduduk memegangi
pinggangnya yang terkena racun.
“Hahaha, ternyata racunku mulai bereaksi.
Tak ada obat untuk racun itu.” Mawar tersenyum sinis.
“Diamlah!” pohon yang mengikat Mawar
semakin ketat mengikat sehingga ia hanya bisa menggerakkan kepalanya saja dan
kesakitan.
“Setiap penyakit pasti memiliki obatnya.
Aku akan membuat obat herbal.” Putri berjalan tertatih kedalam hutan.
Sementara Mawar masih berusaha melepaskan
diri dari pohon yang menurutnya terkutuk ini.
“Melati, dimana kamu?” gumam Mawar.
Di tempat Lily melawan Melati...
“Kenapa... kenapa aku tak bisa mengenaimu?!”
Melati kesal dengan nafas tak teratur. Tetap dengan senyum tidak normalnya.
“Karena kamu... petarung jarak dekat.”
“Hanya itu? Dan kamu selalu menghindar
dengan teleport bodohmu dan menepisku dengan benda bulat aneh itu. Lalu selalu
membuatku terpental. Baiklah...”
Melati menyimpan pisaunya dan memanjangkan
kedua tangannya kedepan. Secara cepat muncul sangat banyak seperti peluru yang
berbentuk lem dari ujung jari-jarinya. Dengan cepat Lily menangkisnya dengan
perisai bening dari tangannya.
“Sekarang, apa kamu bisa menahan ini?”
Melati mendekatkan tangannya dan menembakkan bola lem sangat besar hingga ia
terpental. Lily tak bisa menghindari serangan itu.
“Sekarang!”
Melati melesat dengan cepat kearah Lily
dan langsung menendang dengan keras hingga perisainya pecah. Lily panik dan
saat itu juga Melati menyerangnya dengan sangat cepat dan membabi buta. Hingga
serangan berakhir, Lily mendapat banyak luka di badan akibat tendangan dan luka
gores dan tubuhnya semakin melemah. Ia terbaring dengan kedua tangan dan
kakinya direkat penuh oleh cairan lengket Melati. Tak puas dengan itu, Melati
melumuri seluruh tubuh Lily yang dipenuhi cairan lengket dan menjauh.
“Tubuhku... sangat lengket.”
Lily berusaha bergerak namun cairan itu
terlalu lengket. Wajahnya yang menghadap Melati samar-samar terlihat bahwa
Melati ingin melakukan serangan lagi. Tapi hanya tembakan cairan yang pelan dan
memanjang dari dirinya, seperti champagne yang keluar setelah dikocok. Disana
Melati menyalakan sebatang korek api.
“Tapi bau cairan ini... aneh. Seperti...bensin!”
Lily terkejut setelah menyadarinya.
“Rasakan ini... teman.” Melati menjatuhkan
koreknya sambil tersengal-sengal. Dengan cepat api menjalar dan membakar
gundukan cairan lengket yang didalamnya ada Lily. Api menyala hebat seperti api
unggun. Cairan lengket Melati mengandung bahan yang mudah terbakar.
Bummm....
Suara ledakan terdengar.
“A-Apa?!”
Melati tak percaya dengan apa yang
dilihatnya sekarang. Cairan lengket yang terbakar meletus dan berserakan
kemana-mana seperti meteor kecil. Yang membuatnya lebih terkejut adalah
ditengah gundukan cairan tadi. Lily melayang di udara tak jauh dari tanah!
Sebelumnya, didalam cairan lengket...
“Gawat... aku bisa mati terbakar disini...
apa yang... harus kulakukan?” Lily panik.
“Cukup. Minggirlah, sekarang giliranku! kau
terlalu lembek, dasar bodoh! Akan kuperlihatkan caranya bertarung.”
Ada yang berbicara di pikiran Lily.
Dugaannya benar, dia adalah kepribadian Lily yang satunya lagi. Yang pernah
muncul saat merebut bonekanya dari Maya. Lily yang ini memiliki sifat
kebalikannya, sangat pemarah. Terkadang selalu muncul ketika tubuhnya sedang
dalam keadaan terdesak atau sangat marah.
“Jangan... jangan.”
tolaknya.
Dengan cepat Lily membuat perlindungan
dirinya dengan force field satu detik sebelum api itu membakar dirinya.
“Lily, sisi lain Lily? Aku pernah
mendengarnya, tapi baru kali ini aku liat langsung.” Melati terkejut.
Tak seperti namanya, dari luar Lily memang
melayang terdiam dengan mata tertutup poni. Namun didalamnya Lily yang satunya
lagi sedang mengamuk.
Melati terpental tanpa ia sadari dan
terseret-seret ke tanah puluhan meter. Kemudian terangkat dan melayang
memegangi lehernya yang seperti tercekik. Dari jauh Lily lah yang mengendalikan
semua itu dengan telekinesis.
Tangan kiri berposisi seperti mencekik ke
udara, tangan satunya lagi meninju udara berkali-kali secara cepat. Disana
melati terlihat sesak dan kesakitan terutama di bagian perut.
Dalam kesakitannya Melati sulit memegangi
leher dan perutnya yang kesakitan. Oksigen di kepalanya menipis karena dicekik dengan
sangat kuat dan seluruh tubuhnya lemas.
“Kakak... tolong aku...” Melati berkata
pelan. Tubuhnya perlahan melayang semakin tinggi, dan dengan cepat Lily
membanting tubuh Melati ke tanah.
“Melati...!” Mawar merasakan Melati
memanggilnya dengan suara lirih.
Lily menteleportasi dirinya hingga sudah
berada didepan Melati. Melihat tubuh Melati yang terkulai lemas.
“A... ampun. Maafkan aku. Tolong... kumohon...
kita ini sahabat kan... kau ingat?” Melati berbisik, menandakan dirinya sudah
sangat tak berdaya. Mengulurkan tangannya.
“Sayang sekali Lily masih menginginkan kau
hidup. Jika tidak, aku akan memisahkan tubuhmu beberapa bagian dan akan kujadikan
makanan ikan di kolam rumahnya.” ucap Lily sadis namun dengan suara yang bukan
dirinya. Ia menepis tangannya dan mencengkeram wajah Melati kembali
mengangkatnya ke udara, namun ini dengan tangannya sendiri.
Melati berusaha memegang tangan Lily untuk
melepaskannya tapi tenaganya sudah lama habis. Tangannya menggantung lemas dan
pasrah setelah Lily lebih mencengkeramnya.
Terdengar sesuatu yang menabrak pohon
dekat Mawar diikat.
“Nggak... nggak mungkin.” Mawar tak
percaya.
“Melatii!!”
Melati tergeletak tak berdaya di pohon
yang ditabraknya. Mawar tak percaya adiknya diperlakukan seperti itu oleh
seseorang.
Lily melayang kearah Melati dan masuk
kedalam hutan kecil, menyeret Melati dengan menarik rambutnya.
“Kurang ajar... tak akan aku maafkan
Lily.”
Kemarahan Mawar sudah pada puncaknya. Ia
mengeluarkan racun sebanyak yang ia bisa dari dalam tubuhnya. Tak lama pohon
yang mengikatnya mulai sedikit meleleh dan mati akibat racun yang dikeluarkan.
Mawar mengambil sabitnya kembali. Aura
membunuh Mawar terlihat jelas dan kemarahan saat membunuh perampok yang
merenggut nyawa ayah dan ibunya muncul ke permukaan.
“Aku duluan yang nyerang. Nanti kak Hime
lompat pas aku mukul tanah.” kata Aeza. Tangannya diselimuti es yang bening.
“Sekarang!”
Aeza memukul tanah dan semua kloningan
Maya membeku seketika.
“Nunduk, sekarang giliran gue.”
Hime saling membenturkan kedua telapak
tangannya yang diselimuti api sekuat tenaga. Hasilnya muncul gelombang panas
yang kuat dan menghancurkan semua kloningan Maya yang membeku.
Tanpa aba-aba mereka berdua menyerang Maya
yang asli hingga pingsan.
“Boleh juga. Ayo.” Rio bersiap.
Mereka juga bersiap-siap.
Tanpa mereka ketahui sebuah bola hijau
meledak mengenai Rio.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar