Mereka (Aeza dan kawan-kawan) berkumpul di
tanah berpasir tak jauh dari rumah sederhana Indry yang terletak di pesisir
pantai. Agak jauh memang dari rumah mereka semua.
“Gue dapet kabar dari geng Rio, mereka
mendeklarasikan perang ke kita. Dan kita semua bakalan perang di tempat yang
udah ditentukan mereka. Mereka mau mulai perang ini seminggu lagi. Jadi, mulai sekarang kita latihan
meningkatkan kekuatan kita.” ucap Indry panjang lebar. Di genggaman tangannya
memegang gulungan surat.
“Jadi, mereka beneran serius mau melakukan
itu. Dasar aneh!” protes Putri.
“Biarlah. Kita nggak punya pilihan lain
selain mengalahkan mereka.” kata Dharma.
“Yaudah. Kita mulai aja latihannya.” Ajak
Indry.
“Aku latihan disana saja. Tanahnya pasir
semua.” keluh Putri. Menuju perkebunan yang tanahnya diselimuti rumput.
Mereka mulai latihan. Aeza berada di
pinggir pantai. Sesekali telapak kakinya mengenai air laut. Ia berdiri
konsentrasi disana. Sementara Hime duduk seperti meditasi mengenakan pakaian
serba hitam untuk menyerap panas matahari yang sedang terik. Kekuatannya akan
meningkat jika ada sinar matahari. Terlebih ia mengenakan serba hitam.
Sementara
Indry, Aldi dan Ivan sudah memulai dengan bertarung satu sama lain. Indry sudah
berubah menjadi macan kumbang, kaki Aldi mengeluarkan asap tipis dan Ivan
seluruh tubuhnya ditutupi berlian.
Serangan dimulai oleh Aldi dan indry yang
menyerang Ivan secara bersamaan. Dan Ivan menahannya hingga ia mundur sejauh
dua langkah.
“Gue dulu ya.” ijin Aldi. Langsung
mengitari Ivan sangat cepat dan agak jauh sehingga Ivan seperti pusat
lingkaran. Kecepatan lari Aldi menimbulkan seperti pusaran pasir saking
cepatnya. Ketika kesempatan itu datang, ia mendadak memberikan serangan kepada
Ivan dan sayangnya Ivan menahan kakinya.
“Cukup. Sekarang gue.”
Berbeda dengan Aldi, serangan Indry tak
mudah ditepis Ivan dan selalu mengenainya. Hingga akhirnya mereka saling
bergantian.
Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan
masing-masing. Ivan yang paling kuat dengan pertahanan dan serangannya, namun
kelemahannya hanyalah kecepatan. Aldi yang paling cepat namun serangannya masih
kurang keras. Dan Indry skill-nya lah yang paling menonjol namun agak kurang di
pertahanan. Hanya Indry yang paling mahir berkelahi diantara mereka bertiga.
Aeza dengan masih posisi seperti tadi
perlahan-lahan mengayun-ayunkan kedua lengannya secara perlahan. Dengan penuh
konsentrasi ia terus mengayunkan lengannya. Perlahan dengan kekuatan maksimal,
ia dengan cepat mengangkat tinggi-tinggi
lengannya. Muncul ombak besar setinggi 15 meter.
Mereka yang dibelakangnya panik dan Aeza
harus bersikap tenang, ia mendorong lengannya dan ombak yang dihasilkannya
pecah. Aeza mengatur nafasnya.
“Doni... Doni... bisa
mendengarku?” Doni merasakan ada seseorang memanggil namanya di pikirannya.
“Loh, siapa nih yang ngomong di pikiran
gue?” Doni panik. Mereka menggeleng kepala melihat keanehan Doni.
“Ini aku... Lily. Aku bicara... melalui
telepati.”
Doni menengok kerah Lily yang sedang
serius dan menutup matanya.
“Iya. Gue bisa denger lo.” kata Doni dalam
hati.
“Baguslah. Berhasil.”
Lily beruntung memiliki kekuatan
telekinesis dan telepati didalam dirinya. Ia hanya memerlukan tangan dan
pikirannya untuk melakukan itu semua.
Lily berjalan-jalan. Tak sedikit ia
menemukan cangkang kerang yang cantik disana dan mengambilnya lalu dimasukkan
kedalam plastik.
“Surya... ada dimana ya?” katanya dalam
hati. Lily selalu teringat Surya, orang yang spesial dihatinya. Ia melihat
sekitar, ternyata Surya ada di ujung jembatan kayu sana yang menghadap lautan.
Sedang tidur menyamping dengan tangan kanan menopang kepalanya.
“Jauh juga. Oh iya, aku mau coba.”
Lily memejamkan matanya. Dua detik
kemudian ia berada sedang duduk diujung jembatan saat membuka matanya. Lily
berhasil menggunakan teleportasi.
“Berhasil... haah!”
Lily terkejut karena berada disamping
Surya. Sangat dekat. Jantungnya berpacu cepat.
“Tenang Lily. Tenang.” Lily menenangkan
dirinya.
Ia membuka bekalnya. Sebuah nasi kepal dan
memakannya sambil sesekali melihat Surya dengan malu-malu. Lily memberanikan
diri menyentuh tangan Surya yang sedang menopang kepalanya.
“Aaaahhhh.” Surya menguap dan meregangkan
kedua tangannya. Ia menyadari keberadaan seseorang. Lily belum sempat
menyentuhnya.
“Oh Lily. Hai.” sapanya sambil masih
mengantuk.
Lily
tak tau harus berbuat apa. Ia mematung dan berkeringat.
“Ha... hai.” balasnya. Malu menatapnya.
“Ka... kamu mau?” Lily mendorong kotak
makannya menawarkan bekal.
“Oh ya. Makasih.” Surya mengambil satu dan
langsung duduk, dekat dengan Lily. Kembali Lily dibuat jantungnya berpacu.
“A... anginnya sejuk ya?” komentar Lily
basa-basi.
“Gue selalu suka aroma angin, apalagi
angin pantai. Rasanya mau tidur pules.” kata Surya.
“Anu... kenapa kamu selalu tidur?”
“Abisnya nggak ada kerjaan lain. Semuanya
udah selesai gue kerjain.”
“Nggak latihan... seperti yang lain?”
“Udah. Berkat angin pantai, latihan
pengendalian angin gue jadi cepet selesai.”
“Ooh.”
“Ngomong-ngomong. Kemarin lo dapet
kekuatan telekinesis ya?”
“Bukan.
Itu.. memang sudah ada sejak lama. Karena aku... lahir tepat disaat
gerhana matahari total. Aku dapat telepati dan teleportasi.” jawabnya.
Mengeluarkan beberapa cangkang dan menaruh di telapak tangannya. Kemudian
cangkang itu melayang-layang diatasnya.
Tak lama Lily mulai batuk. Suara batuknya
terdengar bukan penyakit batuk biasa bagi Surya. Terdapat bercak darah dari
saputangan Lily saat menutup batuknya.
“Seberapa parah batuknya?” tanya Surya.
“Tak tau... aku tak punya... biaya berobat
ke rumah sakit. Hanya ke dokter biasa.” jawabnya. Mengeluarkan obat di sakunya
yang ditaruh dalam tabung kecil dan meminumnya.
“Minta ramuan aja sama Putri. Siapa tau
berhasil.”
“Nanti aku coba minta.”
“Maaf. Ngomong-ngomong soal temen-temen lo
yang disana?”
“Aku akan berusaha... mengembalikan
mereka... dan menjelaskan semuanya... apapun caranya. Karena hanya mereka...
yang aku punya. Dan kita... akan seperti dulu lagi.”
Perlahan angin pantai menghembus wajahnya.
Bersinarlah wajah Lily yag tersenyum dengan air mata yang baru saja keluar.
Surya langsung terpana akan ekspresi gadis disebelahnya. Ia mulai canggung.
“Waa..!!”
Mereka berdua sangat kaget bersamaan
ketika ada bola api besar melintas tepat beberapa centi depan mereka. Ekspresi
konyol mereka terlihat jelas.
“Asik banget yang lagi pacaran. Haha.”
teriak Hime dari kejauhan. Lily menjadi salah tingkah.
“Kaget gue anjir.” bentak Surya. Ia
membalas dengan melempar sabit yang terbuat dari angin.
Hime membalasnya dengan membuat bola api
seperti tadi dan sabit angin Surya kalah dan mengarah ke mereka berdua.
“Gawat.” batin Lily.
Lily merentangkan tangannya kearah bola
api tersebut dan berhenti. Kemudian mengarahkannya ke laut. Surya menghela
nafas.
“Ki... kita nggak pacaran kok.” ujar Lily
menjelaskan. Tepat berada didepan Hime.
“Se.. sejak kapan dia langsung ada
disono?” teriak Surya yang masih di jembatan sana. Jelas ia terkejut.
“Astaga! Kok lo bisa langsung disini?”
Hime juga terkejut.
“A... aku bisa... menggunakan
teleportasi.”
Indry sedang menyusun strategi selama
mereka bertiga berdebat.
“Akan gue taruh Hime dan
Ivan di paling depan. Sementara Aldi sama gue di belakangnya. Belakangnya lagi
Aeza dan Putri sebagai tim penyembuh. Aeza dengan air keajaibannya, Putri
dengan ramuan herbalnya. Takut ada serangan mendadak dari belakang. Sisanya gue
sebar melindungi formasi.” gumam Indry. Mencoret-coret kertas membuat
formasi.
Sementara disana, Rio juga sedang
menyiapkan formasi dan strategi.
“Gue posisikan para minion hasutan gue di
paling depan. Putra dan Yudi yang bakalan mengawasi mereka. Mengingat mereka
petarung jarak jauh.”
“Selain itu, sebenernya gue
mau si kembar berpencar. Tapi Melati si anak ingusan itu nempel terus sama
kakaknya. Jadi biarlah mereka nempel, lagipula untuk serangan dadakan ini.
Mereka punya skill pertarunganjarak dekat
jempolan. Mereka pasti nggak jauh bakalan nyerang mantan temennya itu. Gue
dan Yuko bakalan mengendalikan semua dari belakang.” kata Rio dalam hati.
“Dan Anggrek. Dia seorang
penyihir dengan segala ramuan dan kekuatannya yang misterius. Meski punya nafsu
makan yang besar, badannya tak gemuk dan sangat cantik.”
“Hah?” Rio melongo.
Anggrek berada dibelakang Rio yang sedang
berpikir.
“Ooiy, jangan ganggu pikiran orang lain!”
Rio melempar pensil kearah Anggrek yang
melarikan diri.
“Hahaha.”
“Oke semua. Waktu udah hampir sore nih,
yang masih mau latihan silakan. Yang mau pulang gapapa. Besok kita latihan lagi
sampai hari H. Makasih ya.” ucap Indry.
Satu per satu mereka membubarkan diri.
“Guys, makasih ya.” kata Indry, ke Aldi
dan Ivan saat hendak pergi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar