Jumat, 29 April 2016

Mazna X Adara (Chapter 11) Rencana



     Mereka (Aeza dan kawan-kawan) berkumpul di tanah berpasir tak jauh dari rumah sederhana Indry yang terletak di pesisir pantai. Agak jauh memang dari rumah mereka semua.

     “Gue dapet kabar dari geng Rio, mereka mendeklarasikan perang ke kita. Dan kita semua bakalan perang di tempat yang udah ditentukan mereka. Mereka mau mulai perang ini seminggu lagi.  Jadi, mulai sekarang kita latihan meningkatkan kekuatan kita.” ucap Indry panjang lebar. Di genggaman tangannya memegang gulungan surat.

     “Jadi, mereka beneran serius mau melakukan itu. Dasar aneh!” protes Putri.

     “Biarlah. Kita nggak punya pilihan lain selain mengalahkan mereka.” kata Dharma.

     “Yaudah. Kita mulai aja latihannya.” Ajak Indry.

     “Aku latihan disana saja. Tanahnya pasir semua.” keluh Putri. Menuju perkebunan yang tanahnya diselimuti rumput.

     Mereka mulai latihan. Aeza berada di pinggir pantai. Sesekali telapak kakinya mengenai air laut. Ia berdiri konsentrasi disana. Sementara Hime duduk seperti meditasi mengenakan pakaian serba hitam untuk menyerap panas matahari yang sedang terik. Kekuatannya akan meningkat jika ada sinar matahari. Terlebih ia mengenakan serba hitam.

     Sementara Indry, Aldi dan Ivan sudah memulai dengan bertarung satu sama lain. Indry sudah berubah menjadi macan kumbang, kaki Aldi mengeluarkan asap tipis dan Ivan seluruh tubuhnya ditutupi berlian.

     Serangan dimulai oleh Aldi dan indry yang menyerang Ivan secara bersamaan. Dan Ivan menahannya hingga ia mundur sejauh dua langkah.

     “Gue dulu ya.” ijin Aldi. Langsung mengitari Ivan sangat cepat dan agak jauh sehingga Ivan seperti pusat lingkaran. Kecepatan lari Aldi menimbulkan seperti pusaran pasir saking cepatnya. Ketika kesempatan itu datang, ia mendadak memberikan serangan kepada Ivan dan sayangnya Ivan menahan kakinya.

     “Cukup. Sekarang gue.”

     Berbeda dengan Aldi, serangan Indry tak mudah ditepis Ivan dan selalu mengenainya. Hingga akhirnya mereka saling bergantian.

     Mereka mempunyai kelebihan dan kekurangan masing-masing. Ivan yang paling kuat dengan pertahanan dan serangannya, namun kelemahannya hanyalah kecepatan. Aldi yang paling cepat namun serangannya masih kurang keras. Dan Indry skill-nya lah yang paling menonjol namun agak kurang di pertahanan. Hanya Indry yang paling mahir berkelahi diantara mereka bertiga.

     Aeza dengan masih posisi seperti tadi perlahan-lahan mengayun-ayunkan kedua lengannya secara perlahan. Dengan penuh konsentrasi ia terus mengayunkan lengannya. Perlahan dengan kekuatan maksimal, ia dengan cepat  mengangkat tinggi-tinggi lengannya. Muncul ombak besar setinggi 15 meter.

     Mereka yang dibelakangnya panik dan Aeza harus bersikap tenang, ia mendorong lengannya dan ombak yang dihasilkannya pecah. Aeza mengatur nafasnya.


     “Doni... Doni... bisa mendengarku?” Doni merasakan ada seseorang memanggil namanya di pikirannya.

     “Loh, siapa nih yang ngomong di pikiran gue?” Doni panik. Mereka menggeleng kepala melihat keanehan Doni.

     “Ini aku... Lily. Aku bicara... melalui telepati.”

     Doni menengok kerah Lily yang sedang serius dan menutup matanya.

    “Iya. Gue bisa denger lo.” kata Doni dalam hati.

     “Baguslah. Berhasil.”

     Lily beruntung memiliki kekuatan telekinesis dan telepati didalam dirinya. Ia hanya memerlukan tangan dan pikirannya untuk melakukan itu semua.

     Lily berjalan-jalan. Tak sedikit ia menemukan cangkang kerang yang cantik disana dan mengambilnya lalu dimasukkan kedalam plastik.

     “Surya... ada dimana ya?” katanya dalam hati. Lily selalu teringat Surya, orang yang spesial dihatinya. Ia melihat sekitar, ternyata Surya ada di ujung jembatan kayu sana yang menghadap lautan. Sedang tidur menyamping dengan tangan kanan menopang kepalanya.

     “Jauh juga. Oh  iya, aku mau coba.”

     Lily memejamkan matanya. Dua detik kemudian ia berada sedang duduk diujung jembatan saat membuka matanya. Lily berhasil menggunakan teleportasi.


    “Berhasil... haah!”

     Lily terkejut karena berada disamping Surya. Sangat dekat. Jantungnya berpacu cepat.

     “Tenang Lily. Tenang.” Lily menenangkan dirinya.

     Ia membuka bekalnya. Sebuah nasi kepal dan memakannya sambil sesekali melihat Surya dengan malu-malu. Lily memberanikan diri menyentuh tangan Surya yang sedang menopang kepalanya.

     “Aaaahhhh.” Surya menguap dan meregangkan kedua tangannya. Ia menyadari keberadaan seseorang. Lily belum sempat menyentuhnya.


    “Oh Lily. Hai.” sapanya sambil masih mengantuk.

     Lily  tak tau harus berbuat apa. Ia mematung dan berkeringat.

     “Ha... hai.” balasnya. Malu menatapnya.

     “Ka... kamu mau?” Lily mendorong kotak makannya menawarkan bekal.

     “Oh ya. Makasih.” Surya mengambil satu dan langsung duduk, dekat dengan Lily. Kembali Lily dibuat jantungnya berpacu.

     “A... anginnya sejuk ya?” komentar Lily basa-basi.

     “Gue selalu suka aroma angin, apalagi angin pantai. Rasanya mau tidur pules.” kata Surya.

     “Anu... kenapa kamu selalu tidur?”

     “Abisnya nggak ada kerjaan lain. Semuanya udah selesai gue kerjain.”

     “Nggak latihan... seperti yang lain?”

     “Udah. Berkat angin pantai, latihan pengendalian angin gue jadi cepet selesai.”

     “Ooh.”

     “Ngomong-ngomong. Kemarin lo dapet kekuatan telekinesis ya?”

     “Bukan.  Itu.. memang sudah ada sejak lama. Karena aku... lahir tepat disaat gerhana matahari total. Aku dapat telepati dan teleportasi.” jawabnya. Mengeluarkan beberapa cangkang dan menaruh di telapak tangannya. Kemudian cangkang itu melayang-layang diatasnya.

     Tak lama Lily mulai batuk. Suara batuknya terdengar bukan penyakit batuk biasa bagi Surya. Terdapat bercak darah dari saputangan Lily saat menutup batuknya.

     “Seberapa parah batuknya?” tanya Surya.

     “Tak tau... aku tak punya... biaya berobat ke rumah sakit. Hanya ke dokter biasa.” jawabnya. Mengeluarkan obat di sakunya yang ditaruh dalam tabung kecil dan meminumnya.

     “Minta ramuan aja sama Putri. Siapa tau berhasil.”

     “Nanti aku coba minta.”

     “Maaf. Ngomong-ngomong soal temen-temen lo yang disana?”

     “Aku akan berusaha... mengembalikan mereka... dan menjelaskan semuanya... apapun caranya. Karena hanya mereka... yang aku punya. Dan kita... akan seperti dulu lagi.”

     Perlahan angin pantai menghembus wajahnya. Bersinarlah wajah Lily yag tersenyum dengan air mata yang baru saja keluar. Surya langsung terpana akan ekspresi gadis disebelahnya. Ia mulai canggung.

     “Waa..!!”

     Mereka berdua sangat kaget bersamaan ketika ada bola api besar melintas tepat beberapa centi depan mereka. Ekspresi konyol mereka terlihat jelas.

     “Asik banget yang lagi pacaran. Haha.” teriak Hime dari kejauhan. Lily menjadi salah tingkah.

     “Kaget gue anjir.” bentak Surya. Ia membalas dengan melempar sabit yang terbuat dari angin.

     Hime membalasnya dengan membuat bola api seperti tadi dan sabit angin Surya kalah dan mengarah ke mereka berdua.

     “Gawat.” batin Lily.

     Lily merentangkan tangannya kearah bola api tersebut dan berhenti. Kemudian mengarahkannya ke laut. Surya menghela nafas.

     “Ki... kita nggak pacaran kok.” ujar Lily menjelaskan. Tepat berada didepan Hime.

     “Se.. sejak kapan dia langsung ada disono?” teriak Surya yang masih di jembatan sana. Jelas ia terkejut.

     “Astaga! Kok lo bisa langsung disini?” Hime juga terkejut.

     “A... aku bisa... menggunakan teleportasi.”

     Indry sedang menyusun strategi selama mereka bertiga berdebat.

     “Akan gue taruh Hime dan Ivan di paling depan. Sementara Aldi sama gue di belakangnya. Belakangnya lagi Aeza dan Putri sebagai tim penyembuh. Aeza dengan air keajaibannya, Putri dengan ramuan herbalnya. Takut ada serangan mendadak dari belakang. Sisanya gue sebar melindungi formasi.” gumam Indry. Mencoret-coret kertas membuat formasi.




    Sementara disana, Rio juga sedang menyiapkan formasi dan strategi.

     “Gue posisikan para minion hasutan gue di paling depan. Putra dan Yudi yang bakalan mengawasi mereka. Mengingat mereka petarung jarak jauh.”

     “Selain itu, sebenernya gue mau si kembar berpencar. Tapi Melati si anak ingusan itu nempel terus sama kakaknya. Jadi biarlah mereka nempel, lagipula untuk serangan dadakan ini. Mereka punya skill pertarunganjarak dekat  jempolan. Mereka pasti nggak jauh bakalan nyerang mantan temennya itu. Gue dan Yuko bakalan mengendalikan semua dari belakang.”  kata Rio dalam hati.

     “Dan Anggrek. Dia seorang penyihir dengan segala ramuan dan kekuatannya yang misterius. Meski punya nafsu makan yang besar, badannya tak gemuk dan sangat cantik.”

     “Hah?” Rio melongo.

     Anggrek berada dibelakang Rio yang sedang berpikir.

     “Ooiy, jangan ganggu pikiran orang lain!”

     Rio melempar pensil kearah Anggrek yang melarikan diri.

     “Hahaha.”


     “Oke semua. Waktu udah hampir sore nih, yang masih mau latihan silakan. Yang mau pulang gapapa. Besok kita latihan lagi sampai hari H. Makasih ya.” ucap Indry.

     Satu per satu mereka membubarkan diri.

     “Guys, makasih ya.” kata Indry, ke Aldi dan Ivan saat hendak pergi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar