Jumat, 29 April 2016

Epilog



     Yuko memutuskan untuk melepas penat didalam dirinya dengan pergi berkemah ke suatu hutan di kaki gunung mengendarai mobilnya setelah semua perang, pemakaman dan perjanjian damai usai. Selama mengendarai, ia tetap konsen sambil berpikir kebelakang. Sejak Rio menghilang, secara mendadak keluarga mereka dengan keluarganya memutus semua tekanan pada keluarga Yuko. Hingga beberapa hari kemudian keluarga Rio pindah ke luar negeri.  Itu seperti belenggu yang tiba-tiba terlepas dari beban keluarganya. Tapi ada rasa kehilangan juga dari mereka. Pasalnya ekonomi keluarga Yuko setidaknya sudah lebih baik berkat mereka. Uang yang mencukupi dan ayahnya mendapatkan pekerjaan yang lebih baik, dan mobil yang ia kendarai sekarang ini. Mereka semua yang memiliki kekuatan melakukan kesibukan masing-masing.

     Tak lama Yuko sampai di tempat yang ia maksud. Untuk berkemah disana ia terlebih dahulu mendaftar di administrasi untuk berjaga-jaga jika ia terjadi sesuatu yang tak diinginkan. Lalu masuk ke hutan setelah semuanya beres.

     Tak terlalu banyak yang dibawa Yuko. Tas besar berisi pakaian yang cukup, sarung, perlengkapan mandi, bekal dan sebotol minyak tanah serta korek batangan.  Tangan kanannya menenteng perlengkapan tenda.

     Yuko berusaha membangun tenda setelah mendapat tempat yang tepat untuknya singgah. Yaitu tempat dimana dekat sungai.

     Ia selesai membangun dalam dua jam, mengingat ia tak terlalu ahli dalam membangun tenda. Lalu Yuko mengumpulkan ranting kering untuk dijadikan api unggun, kemudian pergi ke sungai yang berada dibawah untuk menangkap ikan segar walau ia membawa bekal kalengan dan mi instan. Sengaja memilih dekat sungai agar mempermudah jika Yuko ingin mencari ikan atau sekedar mandi.

     Dengan kekuatannya, Yuko membuat jaring-jaring untuk mendapatkan ikan seperti nelayan dan membakarnya setelah sampai di tenda.

     Lambat laun hari mulai gelap. Ia sadar situasi seperti di alam terbuka ini bahaya bisa datang dari mana saja dan kapan saja, Yuko membuat kelambu dari jaring-jaring benang transparan yang sangat tajam, berbentuk seperti kubah berdiameter 5 meter dengan tenda sebagai pusat lingkarannya sebelum tidur. Yuko juga mengikatkan benang ke lonceng agar ia mengetahui bahaya yang akan datang diluar kubah saat ia tidur nanti.


     Esok paginya Yuko terbangun. Suhu masih sangat dingin saat itu, ia melihat jam menunjukkan pukul 04.30 lalu ia kembali tidur. Padahal niatnya tadi ingin segera mandi namun terhalang oleh suhu dingin tersebut. Sampai ia dua jam kemudian terbangun lagi, suhu sudah sedikit naik dan matahari meninggi. Yuko keluar dari tendanya lalu menghilangkan kelambu tipisnya, pergi ke sungai membawa perlengkapan mandi dan pakaian.



     “Apa-apaan ini?!”

     Yuko yang sekembalinya dari mandi terkejut barang-barang bawaannya berantakan dimana-mana. Ia yang mengenakan tudung jaket karena masih kedinginan itu mulai merapikan kembali. Setelah merapikannya, Yuko baru sadar kalau tak ada satupun barangnya yang hilang.

     “Ada yang mengawasi.” gumamnya. Ia merasakan ada seseorang yang memperhatikannya diatas pohon. Namun saat melihat kesana, tak ada siapapun.

     Dibalik pohon yang tinggi besar itu seorang perempuan memegang senapan jenis sniper. Mengenakan topi, kaos tanpa lengan diindungi rompi anti peluru depan-belakang, celana pendek 10 cm dari lutut dan mengenakan boots mengawasi Yuko.

     Perempuan itu mengkokang setelah memasukkan peluru bius kedalam senapannya dan mulai membidik.

     Yuko langsung melompat kebelakang menghindari tembakan yang mengarah kearahnya.

     “Peluru bius?” Yuko terkejut dan langsung bersembunyi.

     Perempuan itu kembali bersembunyi dibalik pohon, mengambil peluru di sakunya lalu mengkokang dan mulai membidik.

     Setengah bagian senapan dan scoopnya terbelah dua tanpa ia sadari ketika ingin menembak. Yuko sudah mengetahui dimana posisi orang yang mengincarnya dan menghancurkan senapan dengan benang tajam.

     Ia melompat dari dahan dan melesat tajam kearah Yuko.

      “Manusia super!” Yuko dibuat terkejut  karena perempuan itu mengeluarkan sayap cokelat saat melesat. Anehnya tak ada suara yang ditimbulkan dari kepakkan sayap tersebut.

     Terjadi pertarungan singkat antara mereka. Serangan diakhiri oleh Yuko yang berhasil menendang jauh darinya dan menabrak pohon. Perempuan itu bangkit dan menyerang dengan berlari.

     “Kena.”

     Satu kakinya terkena benang jebakan buatan Yuko dan tertarik keatas hingga posisinya terbalik. Ia coba memotong benang itu namun tak ada hasil.

     “Percuma. Sampai mati pun kau tak akan bisa memotong benang itu. Hanya aku yang bisa.”

     Yuko berusaha mengikat kedua tangan orang tersebut.

     “Sekarang, siapa orang ini?” gumam Yuko.

     Yuko membuka tudungnya dan melepas benang jebakan itu lalu membuka topi perempuan tersebut.

     “Nggak... nggak mungkin.” Yuko mundur dengan cepat. Tak percaya apa yang ia lihat barusan.

     “Hayami?!”

     Ternyata yang mengincarnya adalah adiknya sendiri.

     Yuko memeluknya dengan erat setelah melepaskan ikatan di kedua tangan Hayami.

     “Akhirnya kamu ketemu juga setelah tiga tahun menghilang.” Yuko menangis.

     Yuko dan Hayami adalah kakak beradik. Meski begitu mereka hampir mirip seperti pasangan kembar padahal hanya selisih dua tahun. Perbedaannya terletak pada rambut Hayami yang panjang melewati punggung, dan ia memiliki keterbatasan. Hayami tak bisa berbicara alias bisu. Mereka terpisah karena insiden saat naik gunung ini. Hayami tak sengaja menginjak tanah yang rapuh lalu terjadi longsor kecil dan tercebur ke sungai yang deras, saat itu hujan turun dengan sangat deras.

     Hayami melepaskan pelukannya, tangannya bergerak-gerak mulai berisyarat.

     “Maaf, aku tidak tau kalo itu kakak. Kukira pemburu hewan atau penebang liar.”

     “Tapi syukurlah kamu masih hidup. Kamu dimana selama ini?”

     “Aku bekerja di polisi hutan.”

     “Polisi hutan?”

     Hayami mengangguk.

     “Tidak resmi, seperti organisasi terselubung. Mereka yang menemukanku saat terdampar di pinggir sungai tak jauh dari markas mereka. Lalu aku mulai bergabung.”
     Yuko memeluknya lagi dan mencium pipi adiknya agak lama.

     “Kamu lanjutin sekolah?”

     “Ada sekolah didekat kaki gunung.”

     “Ayo pulang.” ajak Yuko. Mengusap air matanya.

     “Aku tidak bisa pulang begitu aja. Kita ke bos aku dulu.”

     Hayami mengajaknya dengan menarik tangan Yuko.

     Letaknya berada sangat dalam di hutan yang lebat. Sesampainya Yuko disuguhkan todongan senjata laras panjang dilengkapi pisau tajam terikat dibawah ujung lubang senapan dan tatapan tak senang  para penjaga karena tak diikat. Hayami menganggukan kepalanya tanda orang yang ia bawa tak berbahaya. Semua penjaga melepaskan todongannya.

     Mereka masuk kedalam gua tempat ruang kerja pemimpin Hayami dan duduk melipat seperti orang Jepang.

     “Ada apa?” tanya pemimpin Hayami setelah datang.

     Hayami menjelaskan dengan rinci tentang semuanya. Pemimpinnya begitu paham meski Hayami menggunakan bahasa isyarat. Dan sedikit berdebat dan bernegosiasi.

     “Hmm begitu rupanya. Begini, kakaknya Hayami. Keberadaan Hayami disini sangat penting membantu kita dalam memberantas para pemburu hewan dan perusak hutan. Namun mengembalikan Hayami ke keluarganya lebih dari segalanya. Kita disini semua sudah mengurus Hayami dengan baik sejak dia ditemukan di pinggir sungai. Jadi, Hayami ingin meninggalkan tempat ini kapan saja kami siap. Namun jangan pernah lupa dengan saya dan anggota disini yang sudah mengurus dan mengajari kamu. Karena kamu sudah dianggap sebagai keluarga disini. Kalo kamu ingin meninggalkan tempat ini besok atau lusa, silakan.” ceramahnya panjang lebar.

     Setelah melalui semuanya. Hayami pulang dengan Yuko. Setibanya dirumah orang tua mereka sangat terharu dengan kepulangan Hayami setelah tiga tahun menghilang.

     Dan juga, mereka berdua mempunyai kekuatan super. Hayami memperlihatkannya kepada kakaknya. Dia bisa berubah menjadi burung hantu berwarna cokelat seperti kayu. Kepalanya bisa memutar 180 derajat. Pendengaran dan penglihatannya sangat tajam. Sayapnya bisa muncul dari punggungnya selain di tangan. Hayami bisa terbang dengan sayapnya tanpa mengeuarkan suara sama sekali. Persis seperti burung hantu.



     Di sekolah itu kedatangan murid baru terutama di kelas 10-B setelah sepuluh hari liburan tengah semester satu.

     Seorang murid berdiri didepan kelas. Seisi murid merasa tak asing dengan wajahnya.

     “Silakan perkenalkan dirimu, nak.”

     Ia mengambil spidol di tempat penghapus dibawah white board.

     “NAMA SAYA HAYAMI KURAHASHI. SALAM KENAL YA J

     Tak sedikit yang menjawab ‘ooh’ karena ia sangat mirip dengan Yuko.

     “Kamu adiknya Yuko, ya?” tanya guru perempuan itu. Hayami mengangguk.

     “Jaah, gagu yak? Hahaha.” ejek Joko. Seorang yang paling besar dan preman di kelas itu. Setengah dari mereka menyoraki Joko. Di hari pertamanya, Hayami sudah mendapat musuh baru.

     Lalu Hayami duduk di bangku kosong paling belakang.


     Saat istirahat, Joko dihadang Hayami saat hendak keluar kelas.

     “Maksud kamu apa tadi?” tanya Hayami, dengan berisyarat.

     “Lo ngapain sih tangannya gerak-gerak? Ngomong dong!” ejek Joko. Ia sama sekali tak mengerti dan tak tau bahasa isyarat.

     “Oh iye gue lupa, lo kan gak bisa ngomong ya. Hahaha.” ejeknya lagi.

     Berkat kejujurannya, Joko dihadiahi bogem mentah Hayami di perutnya. Pukulannya cukup keras.

     “Berani banget lo sama gue.”

     Hayami mundur beberapa langkah mengambil jarak aman.

     Joko terus menyerang Hayami dengan pukulan namun tak berhasil mengenainya. Hanya satu serangan Hayami dengan menyandung kaki Joko, Joko pun terjatuh menabrak tempat sampah dan sukses ditertawakan satu kelas. Hayami keluar kelas, menusuk kotak susu dengan sedotan dan meminumnya. Bersandar di dinding luar kelas dan menatap kedepan.

     Disebelah kanannya ada murid perempuan sedang mengobrol dengan lainnya, sedang sebelah kirinya seorang murid laki-laki tengah sibuk mengetik di ponselnya. Otak Hayami mulai merencanakan sesuatu.

     Dikarenakan jarak mereka cukup dekat, tangan Hayami ‘mencomot’ pantat anak perempuan yang membelakanginya. Si lawan bicaranya juga tak melihat karena asik mengobrol.

     Perempuan yang dijahili Hayami refleks menengok kebelakang, sedangkan Hayami berekspresi menutup mulut seperti tak percaya menatap anak laki yang sedang sibuk dengan ponselnya.

     Akhirnya mereka saling kejar-kejaran setelah anak perempuan itu menamparnya.

     “Berenti lo, dasar cowok mesum!” teriak perempuan itu. Mengejar anak laki.

     “Salah gue apaaa?” anak laki itu sambil berlari.


     Hayami pergi melihat sesuatu di mading setelah puas menjahili mereka.

     Kepalanya refleks memiringkan ke samping kiri. Sebuah bogem mentah yang tadinya hendak memukul kepala Hayami kebablasan meninju kaca mading hingga retak.  Dia adalah anggota geng Joko, Faisal atau Togi, singkatan dari Tonggos giginya. Sialnya, seorang guru yang terkenal galak melihat aksinya menghancurkan kaca mading dan diseret ke ruang guru. Apes baginya, tangan berdarah diseret ke ruang guru pula. Hayami melihat adegan itu dengan ekspresi tak bersalah.

     Hayami merasa kesepian, pasalnya kelas Yuko sedang ada kegiatan diluar kelas hingga jam 11.00



     “Semuanya, kenalin ini Hayami, adek gue.” kata Yuko mempersilakan. Mereka semua yang mempunyai kekuatan super berkumpul di taman sekolah memperkenalkan diri.

     “Oh iya, dia juga punya kekuatan. Tunjukkin deh.”

     Hayami mengeluarkan sayapnya dari punggung. Matanya berubah seperti mata burung hantu.

     “Wah keren. Sama kayak gue.” puji Doni. Mengeluarkan sayap putih yang seperti malaikat dari punggungnya.

     Hayami menghampiri sayap indah milik Doni dan mengelus-elusnya. Sepertinya dia terpukau.

     Ia mengisyaratkan sesuatu.

     “Katanya semoga kita bisa berteman baik sampai nanti.” Yuko menerjemahkannya.

     Lalu hari-hari berikutnya mereka mulai berteman seperti biasa. Akhirnya mereka menemukan teman baru pengganti Anggrek dan Lily yang sudah tenang di alam sana.




                                                                                End





 Sampai Jumpa di Season dua :))

Maaf kalo udah lama jarang update setelah chapter 9, banyak kesibukan dan project yang harus dijalani. terus baca ya biar saya semangat updatenya untuk season 2. 

Dicari seorang komikuss yang mau menggambar cerita ini. kirim gmail aja...

Mazna X Adara (Chapter 15) [End] Bunga Itu Akan Terus hidup Selamanya



     Mereka semua pergi ke rumah sakit tempat Anggrek dan Lily dirawat beberapa hari setelah tubuh mereka membaik.

     Tapi bagi Aeza dan Hime, mereka sudah terlambat. Dokter mengatakan bahwa dini hari sebelumnya Anggrek menghembuskan nafas terakhirnya ketika hendak menjenguknya dan membawa bekal. Ia menderita luka yang cukup parah dan mengenai organ-organ tubuh yang penting.

     Aeza lah yang sangat terpukul dengan peristiwa ini mengingat ia yang paling dekat dengannya walau kenal dan berteman dengan singkat pula. Datang pula Mawar dan Melati yang mengetahui kabar duka ini.

     Seorang dokter memberikan selembar surat pada Aeza dan membacanya. Di kertas itu ia menulis  jika dia mati, tolong semua anak-anak dan pengasuh panti asuhan yang sudah mengisi lembar enam belas tahun kehidupannya agar menempati rumah barunya dan memulai hidup baru disana.

     Siangnya tubuh Anggrek dibawa ke rumah barunya yang dipenuhi semua penghuni panti asuhan yang terbakar diiringi isak tangis. Mawar-Melati, Yuko dan tim jubah putih hadir meski tak terlalu mengenalnya.

     Hal yang paling diingat Aeza dan si bunga kembar tentangnya adalah kekonyolan dan betapa rakusnya dia soal makanan yang tak pernah kenyang itu.

                          

     “Lily?”

     Sebuah suara memanggil namanya dari luar pintu kamar inap. Mawar dan Melati datang lebih telat dari tim jubah putih.

     “Bagaimana keadaanmu?” tanya Mawar. Duduk di kursi samping ranjang Lily.

     “Sedikit lebih baik.” Jawabnya lemas. Ia tak memakai kacamatanya kali ini, membuat wajah aslinya terlihat jelas.

     “Kenapa kamu tak memberitahu kita sejak awal kalo punya penyakit seperti ini?” tanya Melati sambil mengelus tangannya.

     “Aku tak ingin... merepotkan kalian.”

     Suara Lily kali ini agak serak dan mulai tak terdengar dengan jelas. Begitu juga dengan batuknya yang berdahak.

     “Anu... apa pukulanku saat itu makin memperparah sakitmu? Saat itu aku sangat kehilangan kendali.” Mawar menundukkan kepalanya dan bertanya secara berat hati.

     “Tidak. Aku bertanya pada dokter... tapi dia bilang malah tak ada luka pukul sama sekali.”

     Saat masih menjadi sisi keduanya, Lily membasuh tubuh bagian depannya dengan air yang diberikan Aeza dan pulih dalam beberapa saat.

     “Aku ingin keluar.” pinta Lily.

     Mereka membantu Lily beranjak dari ranjangnya menuju kursi roda dan keluar sambil mendorong tiang infus. Melati yang mendorong kursi roda Lily.

     “Sangat asri dan hijau disini.” komentar Lily saat menghirup udara di taman. Aroma aneka tumbuhan hijau memasuki hidungnya dan angin sepoi-sepoi di cuaca yang berawan itu.

     “Anu... ada yang ingin kutanya pada kalian.” kata Lily.

     “Ini hanya umpama saja... Kalo aku tak bisa bertahan melawan penyakit ini... dan meninggalkan kalian semua, apa yang akan kalian lakukan?” tanyanya pelan.

     “Kamu jangan berbicara seperti itu. Apa kamu sudah ingin menyerah dengan penyakitmu ini?” tanya balik Mawar yang tak percaya akan perkataan Lily.

     “Ini hanya umpama... aku juga tidak ingin terjadi.” Lily mengencangkan cengkeraman tangannya yang sedang memegang kedua telapak Mawar.

     “Tenanglah, kak.” Melati mengelus bahu kakak kembarnya.

     “Pastinya aku sangat sedih kalo kamu kalah dari penyakit itu. Kita sepakat memulai tatanan baru denganmu setelah sekian lama kita salah paham.” jawab Mawar.

     “Tapi... kalo aku bisa bertahan dari penyakit ini... kalian mau menemaniku berjualan?”

     “Mau. Kita sangat mau.” jawab mereka sambil mengangguk berbarengan.


     “Permisi. Maaf, saudari Lily harus istirahat dulu. Jam besuk juga sudah habis.” seorang suster dan dokter datang menjemputnya setelah mereka ngobrol cukup lama.

     “Besok kita kesini lagi pagi-pagi. Tetap sehat.” Mawar pamit.

     “Terima kasih.”

     “Mereka teman-temanmu?” tanya dokter saat Lily didorong kursi rodanya oleh suster.

     “Mereka yang terbaik.”

     “Hmm, baiklah kita lanjutkan perawatanmu.”



Esok paginya...

     “Aku penasaran apa Lily sekarang sudah makin membaik?” kata Aeza saat baru memasuki pintu dekat administrasi.

     “Jawabannya bakal tau saat kita menemuinya.” jawab Hime.

     Mereka melihat Mawar dan Melati di lorong dekat kamar inap Lily dengan sikap yang tak biasa. Mawar berdiri bersandar tembok dengan ekspresi terkejut, sedangkan Melati duduk di kursi dan menangis tak bersuara.

     “Kalian kenapa?” Aeza bingung.

     Melati langsung memeluk Aeza dengan sangat erat sambil menangis agak keras.

     “Lily... Lily!!”

     “Lily... meninggal.” jawab Mawar pelan dengan tatapan kosong.

     Jawaban itu membuat mereka sangat terkejut dan memasuki kamar inapnya. Terlihat seseorang di ranjang yang ditutupi kain putih seluruhnya. Wajah Lily terlihat pucat dan damai saat Hime membuka kain di bagian kepalanya dan disusul oleh tangis mereka berdua.


     Setengah jam lalu Mawar-Melati datang, lalu melihat dokter dan suster terburu-buru memasuki kamar Lily. Semua benda kecil didalam kamar bergerak-gerak sendiri ketika Lily dalam kondisi kritis, dan kemudian tak bergerak lagi. Dokter berusaha menyadarkan kembali dengan menyetrum dada Lily dengan chest paddle namun sudah terlambat. Tubuh lemas dan menangis langsung mendatangi bunga kembar. Lily meninggal dengan meneteskan air mata terakhirnya. Dokter dan suster yang merawat Lily mengucapkan kalimat duka mendalam dan meminta maaf yang sebesar-besarnya.

     Mawar menemukan kertas yang sudah dilecek di tempat sampah samping Lily dan mengambilnya. Tertulis tanggal tiga hari yang lalu Lily divonis menderita penyakit yang menyerang paru-parunya dan sudah stadium akhir sehingga hidupnya hanya menghitung hari. Sepertinya Lily sengaja membuang kertas itu dan menyembunyikan penyakitnya agar teman-temannya tidak terlalu mengkhawatirkannya. Ia merasa sangat bodoh selama ini telah memusuhinya dan beberapa hari yang lalu mereka sempat bertarung dengannya dengan kondisi yang seburuk itu.

     Pemakaman Lily dihadiri oleh seluruh guru, beberapa teman dan tim jubah putih. Jubah hitam hanya Mawar-Melati dan Yuko. Yang lebih miris lagi, rumah Lily sederhana dan hanya tinggal bersama kakek dan neneknya. Lily sudah tak memiliki kedua orang tua sejak kelas dua menengah pertama dan ia juga anak tunggal. Sekarang ia dimakamkan disamping makam kedua orang tuanya, suasana haru pecah saat Lily dimasukkan kedalam liang lahat.


     “Surya, bisa bicara denganmu sebentar?” Melati menghampiri Surya setelah penguburan tubuh Lily. Surya juga terlihat lebih diam sedari dirumah Lily.

     Yuko yang memang menyukai Surya sejak dulu mendengarnya secara tak sengaja dan bersembunyi.

     “Aku hanya ingin menyampaikan apa yang dikatakan Lily sebelum pergi. Kalo dia selama ini suka dan sayang sama kamu, dia sering banget stalk kamu.” kata Melati.

     “Gue juga... tadinya juga abis perang itu gue mau nyatain ke Lily kalo gue juga suka dia. Tapi dia... udah keburu pergi.” jawab Surya murung.

     Yuko mendengar itu semua dan menangis lalu meninggalkan tempat itu.


     Seminggu kemudian Mawar dan Melati memenuhi janji Lily untuk berjualan. Sesampainya disana mereka melihat gerobak ayam goreng penyet yang biasa Lily dorong untuk menyambung hidup. Terlihat bagus dan masih terawat dengan baik. Neneknya lah yang membuat bumbu ayam penyet, juga tahu dan tempenya. Sementara kakeknya yang membuat sambel ulek dengan rasa yang khas dan terkenal pedas. Mereka siap berjualan setelah berdiskusi dan berbincang mengenai permintaan terakhir sahabatnya.

     Berpindah ke kamar Lily. Mereka pernah kesini beberapa kali sebelum bermusuhan. Kamarnya sangat rapi, terdapat biola pemberian mereka saat ulang tahunnya di kursi kayu, dan di meja belajarnya ada beberapa foto bersama mereka masih disimpan. Berbeda dengan Mawar dan Melati yang sudah membakar habis semua yang berhubungan dengannya dulu. Sekarang mereka sangat menyesal telah melakukan itu.

     Esok sore Mawar-Melati mulai jalan dan mendorong gerobak bersama menuju tempat biasa Lily berjualan dan menata alat seperti kursi, meja panjang serta terpal yang tersambung dengan gerobak.


     “Hei, nak. Oh kamu temennya Lily itu ya yang si kembar itu?” tanya seorang ibu penjual soto ayam disampingnya yang memakai gerobak juga.

     “I... iya, bu.” jawab Mawar pelan.

     Malam mulai menyelimuti kota dan pelanggan mulai datang satu per satu. Mereka tak menduga ternyata banyak sekali yang ingin merasakan ayam penyet istimewa ini. Ibu penjual soto tersenyum ditengah kesibukan mereka. Ada tak sedikit pelanggan yang bertanya Lily dimana dan mereka jawab seadanya yang membuat mereka kecewa dan merasa kehilangan.

     “Dulu waktu masih disini, Lily itu selalu senyum ke pelanggan jadi dia punya banyak langganan dari banyak kalangan. Dia juga cerita kalo dia sering banget terima pesanan nasi box. Ayam buatannya juga lebih enak dari yang ibu makan sekarang. Kalo kamu pernah coba, pasti kamu mau lagi.” curhat ibu penjual soto sambil memakan ayam penyet disaat mulai sepi.

     “Sayangnya... kita nggak pernah dapat kesempatan lagi buat coba masakan temen kita.” kata Melati.


     Ternyata lebih banyak yang menyukai Lily dibandingkan yang membencinya. Dia disekolah kerap ditindas atau di bully oleh anak yang kastanya lebih tinggi. Sejak cerita itu hingga sampai dirumahnya dan beranjak tidur mereka sudah total menyesal karena telah membuang Lily dari kehidupan mereka hanya karena iri, cemburu dan kesalah pahaman yang ada didalam hati mereka. Melati kembali menangis di ranjangnya ketika mengingat saat bersama Lily dulu dan terakhir mereka bbersama sore itu. Mawar menenangkannya dengan memeluk erat tubuhnya dan bersedih.

     Sejahat apapun Mawar-Melati, namun Lily tak pernah marah, menyesal dan kapok memiliki teman kakak beradik itu. Tekadnya sangat kuat untuk menyadarkan mereka kembali meski didera penyakit yang sangat parah hingga stadium akhir.

Mazna X Adara (Chapter 14) Perang Antar Kepentingan



     “APA YANG KAMU LAKUKAN?” Anggrek marah besar.

     “Anggrek...” gumam Aeza.

     “Akhirnya lo balik juga.” Rio bangkit.

     “Kenapa kamu membakar panti asuhan tempatku dulu tinggal?!” Anggrek kelihatan sangat marah.

     Aeza dan Hime terkejut.

     Beberapa saat yang lalu, Anggrek menghilang dari hadapan Aeza. Rupanya ia pergi ke panti asuhan tempatnya dulu untuk merayakan 20 tahun berdirinya panti asuhan tersebut. Sedari pagi semua anak dan staf sibuk mendekorasi dalam panti. Semua itu dibiayai oleh Anggrek.

     Acara dimulai saat sore. Namun beberapa menit setelah mulai, Anggrek baru sampai disana. Sesampainya disana Anggrek dibuat shock karena panti asuhan tempatnya berteduh selama belasan tahun itu mengalami kebakaran hebat. Anggrek melihat hal yang ganjil, api yang menjilat panti asuhan itu berwarna hitam. Ia segera kesana dan mengamankan semua orang dan meminta mereka untuk mengungsi sementara.

     “Gue sengaja melakukan itu. Supaya lo bisa fokus melakukan apa yang sedang lo kerjakan saat itu juga. Lo pikir gue nggak tau, selama latihan atau ngumpul kalo lo sering ngilang gak jelas kemana? Gue tau semua!” jawab Rio tenang.

     “Sengaja? Kamu bilang sengaja. Kamu pikir aku bakalan menurut sama kamu kalau kamu membakar tempat anak-anak yang tidak mempunyai orang tua?”

     Anggrek melempar lagi bola hijau namun lebih besar.

     “Kuhabisi kau.” bisik Anggrek. Matanya mulai menyala ungu.

     “Coba saja. Jongos tetaplah jongos.” tangan Rio diselimuti api hitam.

     Aeza dan Hime mulai maju namun dihadang tangan Anggrek.

     “Kalian bantu yang lain saja. Aku ingin menghabisi dia sendirian.”

     “Hmm... jangan kalah ya.” Hime dengan senyum sinisnya.

     “Aku akan berusaha.”

     Anggrek menoleh ke mereka dan tersenyum.

     Mereka pergi membantu yang lain.



     “Sial, Putra sekarang makin kuat.” gumam Aldi.

     “Ayolah, gak ada yang bisa nyerang gue apa?” ujar Putra sombong. Melayang di udara dan kedua tangannya diselimuti kilatan petir.

     “Jangan terburu-buru, kita butuh rencana.” kata Surya.

     “Surya selalu berpikir seperti biasa. Jangan kelamaan, nanti keburu ditembak Belanda!” ejek Putra. Membuat bola kilat diatas telapak kanannya dan membuat mereka terpental dengan ledakan petir itu dan tersengat lagi.


     "Masih ada lagi coy!" Putra mengeluarkan bola petir.

     “Apa?”

     Putra tak bisa menggerakkan tangan kanannya yang hendak melempar petir. Seluruh lengan kanannya membeku saat ia melihatnya dan terkejut.

     “Ugh, sial!” Putra menepis beberapa tembakan bola api dengan lengan kirinya.

     “Butuh bantuan?” tanya Hime saat datang menghampiri mereka disusul Aeza.


     “Cih. Lagi-lagi pamer.” gumam Surya.

     Aeza terus mengeluarkan angin beku seperti badai salju kearah Putra dan semakin besar. Gerakan Putra semakin melemah dan sebagian kecil tubuhnya membeku.

     “Angin esnya kemana-mana. Gue akan bantu supaya tetap disekitar Putra.”

     Surya merentangkan tangannya dan muncullah angin kencang yang melapisi angin es Aeza yang tak karuan berbentuk kubah agar tak kemana-mana.

     “Gue akan coba buat angin beku itu melingkar di Putra.” ujar Aldi. Ia berlari sangat cepat mengitari dua lapis angin yang menutup seluruh tubuh Putra.

     “Apa-apaan ini?”

     Putra mencoba menembakkan belasan petir sebisanya untuk menghancurkan dinding angin ini namun usahanya tak membuahkan hasil. Suhu semakin dingin dan tubuh Putra sulit digerakkan karena sebagian tubuhnya sudah membeku.

     Mereka menghentikan serangannya secara bersamaan. Hasil serangan kombinasi membentuk kepulan asap kabut berbentuk kubah. Surya menghilangkannya dengan meniupkan angin. Mereka berempat sangat terkejut ketika didalamnya terdapat Putra yang sudah membeku yang kelihatannya sangat keras.

     “Apa Putra bisa balik lagi ke kondisi semula?” tanya Aldi bingung dan terlihat lelah.

     “Mau gue cairkan esnya?” usul Hime.

     “Jangan dulu. Kita nggak tau hasilnya nanti. Bisa aja dia langsung nyerang kita pas udah cair.” cegah Surya.



     “Lily... Lily...” Mawar jalan perlahan seperti zombie dengan aura jahat yang luar biasa. Berjalan sambil menyeret sabitnya. Rasa amarahnya terhadap Lily sudah sangat besar dan tak bisa terbendung lagi.

     Seketika tubuhnya tak bisa bergerak saat sedang berjalan.

     “Apa?”

     Belasan meter didepannya ada Lily yang seperti duduk didepan Melati yang terbaring lalu berdiri balik badan menghadapnya.

     “Apa ini perbuatanmu?” tanya Mawar.

     Lily hanya diam.

     Beberapa saat kekuatan yang membuat tubuhnya kaku mulai menghilang dan Mawar langsung berlari menyerang Lily dengan amarah yang meluap.


     “Aaaaahh.”

     Mawar kesakitan memegangi kepalanya dan terjatuh. Ia merasakan otaknya seperti kesetrum hebat.

     “Aku tau kamu akan menyerangku dengan sepenuh amarahmu padaku. Benar begitu, Mawar?” Lily berbicara lewat pikirannya dengan telepati. Namun yang membuatnya terkejut adalah Lily memiliki dua suara yang berbicara secara bersama. Serangan telepati itu juga yang membuat otak Mawar seperti tersetrum aliran listrik.

     “Sial. Dia bisa menyerang dengan jarak jauh. Berbeda denganku yang hanya serangan jarak dekat.” gumam Mawar.

     “Itu benar.”

     “Dia bisa mendengarku.”

     “Ya. Aku bisa. Bahkan aku tau isi pikiranmu.” jawab Lily.

     “Ayo, serang aku. Seperti kamu menyerang perampok yang dulu menguras isi hartamu.”

     Mawar terkejut karena Lily bisa tau isi pikirannya sedalam itu. Selama ini mereka berdua tak pernah menceritakannya kepada siapapun termasuk Lily yang ‘dulu’ sahabatnya.

          “He...hentikan.” kata Mawar pelan.

       “Kemarahanmu pada para perampok yang telah membunuh kedua orang tuamu dengan sadis...”

       “Hentikan...” Mawar mulai menangis. Pikirannya langsung teringat akan kejadian itu.

     “Kemarahanmu ketika para perampok yang telah menghancurkan masa depanmu dengan cara memperkosamu secara bergiliran...”

     “Hentikan... tolong!” Mawar berusaha menahannya.

     “Kemarahanmu saat Melati hampir diperkosa...”

     “HENTIKAAAAN!!!”

     Lily menepis lima jarum berlumuran racun yang dilempar Mawar secepat peluru dan mengapung didepannya.


     Mawar berdiri dengan sebagian wajah tertutup rambut dan melakukan ancang-ancang untuk menyerang dengan sabitnya dipenuhi rasa benci dan amarah yang sangat besar

     “Ini dia.” gumam Lily dengan senyum lebarnya dan kembali mengapung tak jauh diatas tanah.

     Mawar menyerang dengan tiba-tiba sesaat setelah ancang-ancang dan menghilang. Namun Lily sudah mengetahui posisi sebelumnya sehingga bisa menghindar dengan mudah.

     “Seranganmu sangat mudah ditebak...”

     “Diam!” Mawar terus menyerang Lily yang menghindari serangannya dengan teleportasi.

     Mawar membasahi kedua mata sabitnya dengan racun paling mematikan dan langsung berputar 360 derajat dengan sangat cepat seperti bayangan.

     “Kau tau, kenapa seranganmu tak pernah bisa mengenaiku selain perbedaan gaya bertarung kita?”
     “Karena kamu hanya menyerang menggunakan otot dan perasaan yang berapi-api, tidak menggunakan isi kepalamu.”

     “Sama saja seperti sapi pemalas yang hanya makan rumput didepannya yang sudah tak segar. Itulah kenapa gerakanmu sangat mudah ditebak.”

     Lily kembali menyetrum kepala Mawar dengan telepatinya.


     “Jika kamu berpikir, mungkin aku akan sedikit kesulitan menyerang atau menghindarimu.”


     “Berisik!!!” Mawar langsung menyerang kepala Lily.

     “Hampir saja.” ucap Lily. Mata sabitnya tertahan oleh telekinesis, dan dengan cepat kedua mata sabit itu patah dari tongkatnya dan terpental ke belakang.

     Mawar menjauh dari Lily dan berhenti sebentar. Otot-otot kakinya menumpu tanah dan semua tenaganya, Mawar melesat cepat menyerang Lily dari depan dengan tongkatnya dan berhasil mengenai dada Lily hingga tongkat tersebut patah. Darah terciprat cepat keluar dari mulutnya dan membuatnya berhenti sesaat.

     “Rasakan!” gumam Mawar. Bersiap untuk menyerang lagi.

     “Itu sakit tau...” ia menatap Mawar dan membunyikan lehernya sendiri.

     Lily menangkap leher Mawar dengan sangat mudah dan seketika berhenti. Ia menangkapnya hanya dengan satu tangan. Mawar tak tinggal diam begitu saja, ia mengeluarkan semua racun yang keluar dari seluruh tubuhnya. Lily sudah mengetahui hal ini akan terjadi dan ia langsung melindungi tangannya dengan cahaya biru tipis di kedua tangannya. Semakin lama cengkraman tangannya semakin kuat dan membuat Mawar kesulitan bernafas.

     Perlahan-lahan Lily melepaskan Mawar dan mengapung menjauh secara pelan namun Mawar tetap seperti tercekik.

     “Mari kita akhiri ini.”

     Lily merentangkan tangan kanannya kedepan, dan Mawar terpental jauh dan terseret-seret.


     Sementara disana Anggrek masih bertarung dengan seluruh amarahnya melawan Rio. Bola sihir dan bola kegelapan terus dilontarkan sehingga ada beberapa yang bertabrakan dan menimbulkan ledakan sedang.

     Sedangkan Indry baru saja berhasil mengalahkan Leo dengan gigitan yang sangat kuat di lehernya sehingga membuat manusia singa itu kalah dan pingsan. Ivan sudah mengikis beberapa batu yang menyelimuti tubuh Jojo yang membesar itu. Tubuh berliannya sangatlah kuat sehingga tak mudah hancur.

     “Lo tetep aja lemah meski gue udah nggak menggunakan sayap ini. Hahaha.” ejek Yudi santai yang melihat Doni kelelahan.


     “Kayaknya sebagian dari kita udah kalah. Apa boleh buat, langsung aja gue habisi Doni.” ucapnya dalam hati. Yudi melesat dan langsung mengeluarkan sayap hitam di punggungnya  dan merubah kakinya menjadi kaki gagak lalu mencengkeram kedua bahu Doni membawanya terbang ke angkasa.

     Yudi melemaskan cengkeraman kakinya disaat mencapai ketinggian yang cukup dan membuat Doni terjun bebas dari ketinggian.

     Ditengah kepanikannya Doni berusaha tenang dan harus berpikir keras sampai sebuah keajaiban terjadi. Sepasang sayap putih besar muncul dari punggungnya seperti Yudi dengan beberapa helai terlepas bebas.

     “Nggak mungkin!” gumam Yudi kesal.

     Awalnya Doni terbang tak berarah karena baru pertama kalinya. Butuh waktu singkat baginya supaya terbiasa dengan sepasang sayap barunya.

     Kini Doni telah menyesuaikan diri dengan kekuatan barunya dan hendak mengincar dada Yudi, titik kelemahnnya. Doni berhasil mengenainya setelah beberapa kali ditepis serangannya dan tepat mengenai dadanya, ia lalu jatuh terhuyung dan pingsan karena menghantam tanah cukup keras.


     Di tempat lain, terjadi pertarungan antar monster. Dharma sudah kembali menjadi manusia setelah dikalahkan Johan. Kini hanya tersisa Lara dan dirinya.

     “Akan kubuat Johan menyesal!”  Lara mulai geram. Mulai terbang  dan mengeluarkan angin api panas di kepakkan sayapnya berkali-kali sehingga membuat tanah disekitar Johan mulai terbakar lalu kemudian membakar dirinya hingga tidak mampu berkutik lagi.


     Di lain tempat, Mawar berjalan tertatih membawa tongkat yang kehilangan setengah bagian dan kepala sabitnya sambil memegangi perutnya yang masih terasa sakit.  Tak lama diujung sana ia melihat dua orang duduk memperhatikan seseorang yang sedang berbaring, Mawar mengenali sepatu seorang yang sedang berbaring itu, Melati.

     Seluruh tubuh Mawar dipaksa bergerak cepat menuju kesana dan siap memukul dengan tongkatnya.

     Ia begitu terkejut saat akan memukul dua orang itu. Ternyata Melati sedang diobati oleh Lily dan Putri. Kondisinya sudah setengah sadar.

     “Baru ingin kujemput.” kata Putri.

     “Apa... yang kalian lakukan?” tanya Mawar lemas.

     “Mengobati adikmu tentu saja.” jawab Putri cuek.

   “Sudah kak. Lily tidak bersalah, kita yang seharusnya salah. Biar aku yang menjelaskan semuanya.” Melati berusaha bangun dan mendekati Mawar.

     “Ambillah... masih ada setengah. Ini air yang bisa menyembuhkan.” Lily memberi botol Aeza itu kepada Mawar.


     Setelah menceritakan semuanya, Mawar merasa sangat bersalah apa yang selama ini ia perbuat. Mereka berdua sudah dibutakan oleh kesalahpahaman dan rasa dendam kepada Lily yang tak melakukan apapun yang merugikan mereka. Lily mengangguk saat Mawar mengkonfirmasi apa yang dikatakan Melati itu benar.

     “Aku nggak tau harus melakukan apa dan kamu mau memaafkanku atau nggak. Yang jelas sekarang ini aku merasa sangat bersalah selama ini telah memusuhimu. Tetapi kamu sama sekali nggak marah dan terus percaya kalo kita bakal memaafkan kamu. Maaf.” Mawar terlihat begitu sangat menyesalinya.

     “Udah, nggak apa. Yang penting kamu berdua udah tau kesalahpahaman kita selama ini dan sadar. Aku udah memaafkan kalian.” jawab Lily tersenyum ditengah sakitnya sambil sesekali terbatuk.

     “Coba ini. Mungkin bisa.” kata Putri, memberikan obat berwarna hijau hasil tumbukan dari daun herbal.

     “Ada apa denganmu?” tanya Melati khawatir.

     “Maaf... aku tak memberitahu kalian... sejak pertama kita bertemu. Aku mengidap penyakit yang sudah parah.” jawabnya, ditambah lagi batuk seperti tadi. Mawar memeganginya.

     “Aku sudah memperburuk keadaanmu dengan memukul tubuhmu tadi.”

     “Jangan khawatirkan aku. Bagaimana... dengan yang lain, Putri?”

     “Kayaknya tinggal Rio sama Yuko aja. Ayo kita kesana!”

     Sesampainya disana sudah ada semua anggota berjubah putih yang tak sedikit dari mereka terluka. Sedang menyaksikan pertarungan yang membuat Mawar dan Melati tercengang, Anggrek sedang bertarung melawan Rio!

     “Ah, si kembar. Kebetulan, bantu gue melawan mereka!” suruh Rio sambil masih bertarung dengan Anggrek.

     “Hentikan semua ini, Rio!” tolak Mawar lantang.

     “Oh. Jadi lo berdua memihak mereka sekarang? Dasar pengkhianat!”

     Rio mengeluarkan bola hitam besar kearah mereka semua. Namun bola itu meledak sebelum sampai tujuan seperti ada yang mengenainya.

     Ada sesuatu yang terpental di ledakan itu dan menghantam tanah dengan keras. Aeza tak menyangka, sesuatu yang terpental itu tak lain adalah Anggrek. Ia melindungi semuanya  dengan menjadi perisai.

     Anggrek ditemukan pingsan dengan luka yang cukup parah. Aeza beberapa kali menggoyang-goyangkan tubuhnya dan mengobatinya dengan air ajaib namun tak ada respon.

     “Masi ada lagi!” Rio kembali mengeluarkan bola hitam tadi dan dilempar menuju Mawar dan Melati.

     Bola itu meledak tetapi mereka berdua tak merasakan apapun. Saat mereka melihat, ternyata Lily melindungi mereka dengan perisai force field besar sambil melayang di udara.

     “Tenang... kalian aman.” Lily tersenyum. Perlahan perisai tersebut menghilang.

     Mawar dan Melati bernafas lega. Namun itu tak lama, karena kemudian mereka berubah menjadi sangat terkejut dengan apa yang dilihatnya.

     “Awaaaas!” teriak mereka. Sebuah bola hitam besar tambahan menghantam tanah dan meledak sehingga membuat tim jubah putih terpental.

     Diantara mereka semua, hanya Lily yang paling parah karena yang paling dekat dengan ledakan tersebut dan membuatnya ikut terpental paling jauh dan pingsan.

     “Lily... Lily!” Mawar berusaha menyadarkannya namun sepertinya ia kritis.

     Mereka semua yang melihat kondisi Lily seperti itu terdiam menunduk.

     “Siapapun, tolong bawa Anggrek dan Lily ke rumah sakit. Kalian yang masih bisa bertarung, tolong gue.” ujar Hime pelan.

     “Untuk menghadapi bajingan itu! Mereka berdua telah mengorbankan dirinya untuk kita.”

     Hime mendadak menatap tajam Rio. Seluruh tubuhnya diselimuti api biru.

     Akhirnya Doni dan Melati pergi membawa Anggrek dan Lily dari sana.

     Mereka semua perlahan memperlihatkan kekuatan dari dalam tubuhnya. Aeza kedua tangannya mulai membeku dan diselimuti es, Indry berubah menjadi macan kumbang.

     Surya menghembuskan angin-angin kecil disekitarnya, kedua tangan Putri mulai diselimuti akar berdaun yang perlahan menjadi keras, kemudian Mawar yang mengeluarkan cairan ungu bening yang mampu mengikis tanah. Hanya Dharma dan Lara yang tak ikut bertarung.

     Hime menggunakan jurus beladiri meninju udara dan mengeluarkan bola api di setiap serangannya yang mengarah ke Rio.

     “Jurus bola api murah lagi.” ejek Rio.

     Tak lama Hime mengarahkan kedua tangannya kedepan dan muncul api yang sangat besar dan panjang seperti senjata pelontar api.

     Ditengah kobaran api yang menghalangi pandangannya secara mengejutkan datang Mawar yang langsung meninju pipi Rio dengan keras sehingga terjatuh dari ia melayang tadi.

     “Kau... telah menyakiti temanku!”

     “Karena temen lo itu, lo jadi berkhianat sekarang sama gue!” Rio mengeluarkan tinjunya yang langsung ditepis Mawar dengan kedua lengannya.

     Rio diserang oleh mereka setelah mendarat di tanah secar berurutan. Dimulai dari pukulan keras Ivan dengan tangan berliannya, Rio berhasil menghindari beberapa serangannya dan memukul mundur Ivan.

     Semua yang menyerang berhasil ditahan dipatahkan oleh Rio. Dari Aldi yang berlari sangat cepat mengitarinya puluhan kali dan menyerang seecara mendadak dengan tendangan memutarnya. Indry dengan serangan macan kumbang, akar rambat Putri yang muncul dari tangan kanannya untuk mengikat Rio dihancurkan, angin puyuh besar milik Surya menghilang dalam lubang hitam yang Rio buat.

     Spontan saja Aeza menghembuskan angin es dingin seperti untuk menyerang Putra tadi dan mengelilingi Rio dengan cepat dan membuatnya menghambat pergerakan Rio.

     Aeza terus menyemburnya dengan angin es setelah berhenti mengelilinginya.

     Usahanya kini tak berbuah manis, beberapa saat kemudian es yang membungkus Rio perlahan retak dan hancur, memperlihatkan Rio yang ber aura gelap.

     “Jangan meremehkan kekuatan kegelapaan!”

     Rio meninju tanah dengan keras hingga retak dan muncul gelombang gelap yang membuat mereka semua terpental dan Aeza yang paling terkena dampaknya karena yang paling dekat. Semua tak mampu lagi bertarung dan melemah.

     “Kurang ajar!” kata Hime pelan.

     Api di seluruh tubuhnya kembali menjadi biru dan kembali menyerang Rio bertubi-tubi.

     Tiba-tiba tubuh Hime seperti membeku dan tak bisa digerakkan. Dari kejauhan Yuko kembali mengendalikan tubuh Hime dengan benang-benang dari jemari tangannya.

     “Kemana aja Lo?”

     “Maaf, agak sulit mengincarnya.” jawab Yuko.

     Ia juga melihat Aeza sedang bersiap menyerang dan menyegel tubuhnya dengan benang seperti Hime.

     Tak lama Yuko mengalami keadaan aneh, kini giliran tubuhnya yang tak bisa digerakkan.

     “Ke... kenapa ini?” Yuko bingung.

     Aeza berdiri lemas diantara teman-temannya yang terbaring lemah, warna matanya berubah menjadi merah darah. Aeza berhasil membalikkan keadaan. Ia mengendalikan tubuh Yuko dari benang tipis yang tertanam di tubuhnya. Hanya dengan menggerakkan tangannya pelan, Yuko langsung terpental dengan cepat.

     “Jangan-jangan? Astaga, aku baru sadar ternyata darah juga benda cair!” duga Yuko sesaat setelah terseret belasan meter.

     Yuko terangkat dua meter ke udara dan kemudian merasakan tubuhnya remuk seperti terjepit atau dipeluk sesuatu yang sangat erat hingga menjerit kesakitan dan terdengar suara tulang berbunyi. Yuko jatuh lemas dan tak bergerak setelahnya.

     Perlahan Aeza  berjalan kearahnya dengan wajah tak senang dan menatap mata Yuko yang masih berwarna merah muda.

     “Aeza... tolong aku. Aku selama ini terpaksa... mengikuti semua kemauan Rio. Ia mengancam akan menyakiti keluargaku... jika tidak kuturuti. Tolong tatap mataku, aku tidak berbohong. Kalahkan monster itu!” Yuko berbicara terbata-bata ditengah sakitnya.

     Yuko akhirnya pingsan.

     “Dia nggak bersalah.” kata Aeza pelan.

     Ia kembali ke pertarungan dan melihat Hime yang sudah tak mampu bertarung dan mereka sudah sama-sama lemah.

     “Kalian semua, menghilanglah dari dunia ini!”

     Rio bangkit dan membentangkan kedua tangannya. Dibelakangnya terlihat spiral raksasa yang diselimuti petir di pinggirannya dan menghisap benda-benda ringan didepannya. Ia mengeluarkan lubang hitam menuju dimensi lain.

     “Rupanya masih hidup lo.” Rio menatap Aeza yang masih berdiri.

     “Masuklah lo semua!”

     Lubang hitam tersebut menghisap semakin kuat. Aeza harus melindungi semuanya agar tak tertelan ke lubang hitam itu. Aeza langsung fokus dan mengarahkan tangannya kearah Rio dan berhasil mengendalikan aliran darah Rio.

     “Apa-apaan ini?!” Rio terkejut tak bisa menggerakkan tubuhnya.

     Ia menjerit kesakitan karena organ dalam tubuhnya seperti diserang dari dalam yang disebabkan oleh pengendalian darah Aeza.

     “Menghilanglah...” Aeza berkata pelan.

     Rio terkena tumpukan tubuh Putra dan Yudi yang terbawa arus hisap dan membawa mereka bertiga masuk kedalam lubang hitam buatannya sendiri dan tertutup menghilang tak lama kemudian.

     Perang berakhir dengan kemenangan tim jubah putih yang dimana hanya Aeza yang masih bertahan.


     “Kak? Kakak gapapa?” Aeza menggoyangkan tubuh Hime berkali-kali.

     “Kita menang?” tanya Hime dan menjawab anggukan terharu dari Aeza. 

     “Lo hebat. Melindungi kita semua.” katanya lemah.