Senin, 31 Agustus 2015

Mazna X Adara (Mini Story 18+) Tiga Bunga



     Mawar dan Melati. Sepasang kembar yang berbeda sifat. Mawar yang rambutnya paling panjang ekspresinya selalu terlihat datar, sedangkan Melati yang rambutnya sebatas ketiak ekspresinya selalu tersenyum ceria. Ada kisah dibalik ekspresi mereka.



     Mereka sama seperti keluarga kebanyakan. Damai dan tenteram, juga berkecukupan. Sampai sebuah petaka menimpa mereka dua tahun lalu.



     Lima orang yang ditutup wajahnya perlahan membobol pintu rumah si kembar. Mereka langsung mengambil harta yang dikiranya berharga ketika sudah di ruangan tengah. Salah seorang dari mereka merupakan kenalan ayah si kembar yang mengetahui bahwa harta paling banyak disimpan di kamar ayah tersebut.

     “Kak. Siapa itu dibawah? Berisik banget.” keluh Melati yang setengah sadar dan curiga. Menggoyang-goyangkan tubuh Mawar. Tapi dia tak kunjung bangun. Melati memutuskan untuk melihatnya sendiri dengan mengintip dari lubang ventilasi diatas pintu.

     Betapa terkejutnya ada lima orang tak dikenal menaiki anak tangga. Dan tujuannya adalah ke kamar orangtua mereka. Melati lantas dengan cepat menuju Mawar dan membekap mulutnya. Mawar tiba-tiba bangun dan mengerti setelah Melati meletakkan telunjuknya depan bibir. Mawar segera mengajak Melati bersembunyi di lemari pakaian.

     “Kakak mau kemana?” cegah Melati dengan menggenggam erat lengan Mawar.

     “Aku mau periksa keadaan diluar. Sebentar aja.”

     “Jangan, kak. Ada lima orang disana. Telpon polisi aja.”

     “Kamu tenang aja disini. Aku bakalan gapapa. Pokoknya apapun yang terjadi, kamu jangan keluar dari sini sampai aku dateng kesini. Kalo memang aku gak bakal balik lagi, kamu terobos keluar rumah dan jangan berhenti. Cari bantuan.”

     Melati mengangguk dengan pasrah dan melemahkan genggamannya.



     Mawar mengintip dari ventilasi dan mendapati kamar orang tuanya terbuka. Ia membuka pintu kamarnya dan berjalan perlahan. Dalam keadaan terdesak, suara sekecil apapun bisa menjadi suara yang besar.

     Mawar melihat pemandangan yang sangat mengerikan. Kedua orang tuanya sudah tewas bersimbah darah di tempat tidurnya. Kedua kakinya seketika lemas dan jatuh berlutut, ingin berteriak rasanya dia tidak bisa. Sementara disana para orang tak dikenal itu sedang menggasak perhiasan di kamar tersebut.



     “Woi, bro. Ada anak gadis nih.” tiba-tiba saja dari belakang, kedua tangan Mawar digenggam kuat oleh seseorang yang ternyata teman para rampok itu. Mulutnya dibekap.

     Mawar berusaha keras namun tenaganya sangat kalah jauh. Mereka yang sedang menggasak harta meninggalkan sementara dan membawa Mawar ke kamarnya.

     Ia dilempar ke kasur dan satu orang naik menindih tubuhnya. Mawar ditelanjangi dengan merobek pakaiannya dengan kasar. Mereka sangat takjub akan keindahan tubuh Mawar yang belum terjamah oleh lelaki sama sekali kecuali ayahnya saat ia masih kecil. Ia juga ditampar bibirnya setiap kali berteriak. Pada akhirnya Mawar diperkosa secara bergilir oleh lima perampok itu dan direnggut kesuciannya untuk calon suaminya nanti. Dan itu semua terekam jelas oleh mata Melati yang bersembunyi di lemari pakaian. Melati melihat dengan sangat jelas kakak kembarnya ‘dipakai’ secara bergantian oleh para bajingan itu sambil menahan suara tangisnya yang hampir pecah.

     Mereka kembali menggasak harta setelah puas memenuhi panggilan nafsunya. Sementara Mawar masih tergeletak lemas ditutupi selimut dan menangis sambil melamun memikirkan apa yang barusan terjadi. Sprei bagian bawah dan daerah selangkangannya terdapat banyak bercak darah dari kesuciannya.


     “Anjir, nikmat juga nih cewek. Bawa ah buat jadi budak seks.” seorang perampok menatap penuh kemenangan ke Mawar.



     “Suara apaan tuh?”

     Ia mendengar sesuatu didalam lemari pakaian. Perampok itu mengeluarkan pisaunya dan mendekat kearah lemari dan membuka paksa.

     Ia melihat seseorang sedang duduk ketakutan didalam lemari.

     Namun seseorang menusuk leher perampok itu dari sebelah kanan tepat saat ia ingin berteriak.

     “Jangan pernah kau sentuh adikku dengan tangan busukmu.”

     Mawar yang menusuk leher perampok itu hingga tembus. Tak sengaja ia menemukan gunting didekat meja lampu samping kasurnya.

     Mawar mengambil pisau perampok yang ingin mengambil Melati dan menusuk berkali-kali  di kepala perampok tersebut.

     Melati sungguh tak percaya apa yang ia lihat barusan yang dilakukan kakaknya. Sebagian tubuhnya banyak cipratan darah.

     “Keluarlah.” kata Mawar. Lalu menyerahkan guntingnya.

     “Mau coba?”

     Melati menerima gunting tersebut. Mawar mengambil dan memakai jaket yang memanjang sampai lututnya untuk menutupi tubuh mulusnya. Tak lupa mengambil pisau tadi.

     “Mereka membunuh ayah sama ibu. Kita lakukan hal yang sama kepada para bandot tua itu.” ujar Mawar.

     Mereka berdua menghabisi sisa perampok yang sedang  menggasak harta di kamar itu dengan amarah dan penuh kebencian.




     Setelah semuanya selesai, Melati merasa aneh. Adrenalin dan jantungnya berpacu cepat. Tak lama ia mulai tertawa dan tersenyum sendiri. Dari siniah awal ekspresi mereka terbentuk. Mawar yang melihat orang tuanya terbunuh dengan matanya sendiri, dan Melati yang euphoria akan pengalaman pertamanya membunuh seseorang.



     Sebagian bahkan hampir semua anak di sekolah itu mengingat kejadian saat orientasi siswa SMA waktu itu yang dilakukan si bunga kembar, terutama Mawar.

     Orientasi siswa macam membawa atribut aneh dan memberi nama makanan yang aneh untuk dibawa sama sekali tak masuk akal menurutnya. Lalu esoknya Mawar-Melati tidak membawa yang dimaksud. Mereka datang membawa ransel tanpa atribut apapun. Makanan pun mereka membawa nasi goreng buatan sendiri dan ayam goreng ala fastfood yang dibeli kemarin malam dan digoreng lagi paginya. dan beberapa potongan semangka.


     “Kalian yang kembar, maju sini!” ujar ketua OSIS.

     “Kenapa kalian hanya bawa satu makanan yang dimaksud?”

    “Kita kurang suka makanan itu. Kalaupun itu bawa juga nggak kemakan. Sayang kan? Masih banyak diluar sana yang belum makan. Lagipula kenapa kalian susah-susah membuat nama makanan yang sulit untuk kita. Dan apa hubungannya dengan orientasi seperti ini?” kata Mawar tanpa ekspresi. Makanan yang benar dibawanya hanya potongan semangka.

     “Seenggaknya kalian turuti aturan kami. Kalo disuruh bawa yang itu ya bawa. Jangan semaunya sendiri gak mau diatur.” ujar salah satu OSIS gelagapan.

      “Kan aku udah bilang, kita gak doyan. Memang mau gimana lagi kalo nggak doyan? Kakak mau memakannya?” tanya Mawar dengan nada datar. Mereka semua mati kutu saat itu.


     Lalu siangnya mereka berbaris. Berbaris ditengah lapangan dan diteriaki senior di siang yang panas yang bertujuan menguatkan mental siswa baru sama sekali tak berguna menurutnya lagi. Hanya menyakitkan telinga saja.

     “Oi, jangan manja lo!” pekik salah satu OSIS ke siswa lain.

     “Buat apa orientasi seperti ini? Seperti militer saja.” gumam Mawar.

     Dari belakang, Mawar ditarik kedepan oleh satu OSIS yang tak sengaja mendengar gumaman Mawar.

     “Apa lo bilang?”

     “Aku gak yakin orientasi bodoh macam baris di lapangan dan kalian teriaki kami kayak gini sampai urat kalian putus akan buat mental kami kuat, atau ini hanya ajang balas dendam karena kalian juga dulu diperlakukan seperti ini? Kita ini ingin sekolah, bukan jadi anggota tentara.” jawab Mawar dengan tenang dengan posisi istirahat. Ia tersenyum kecil saat berkata ‘diperlakukan seperti ini?’.

     Ketua OSIS menampar Mawar. Puluhan pasang mata menyaksikan itu semua dan terekam jelas di otak mereka.

     “Dari awal cuma lo yang membangkang kita. Gue masih nahan diri karena lo cewek. Apa sih mau lo?”

     “Dari awal aku nggak setuju dengan sistem orientasi perpeloncoan kayak gini. Pantas saja bangsa kita selalu tertinggal jauh jika sistem orientasi siswa barunya disuruh membawa atribut yang aneh seperti pemulung dan terlihat bodoh atau apalah itu. Tak seperti negara maju yang orientasinya seperti seminar yang memotivasi. Setahuku orientasi seperti ini sudah dilarang, kenapa di sekolah ini masih menerapkannya?”

     “Kita semua disini mau nguji mental lo semua. Kenapa harus disamain kayak yang diluar?” tanya ketua OSIS.

     “Kakak bilang kenapa? Kalau bisa memberi perubahan yang baik kenapa nggak. Yakin menguji mental, bukannya ajang balas dendam?”

     Ketua OSIS sudah naik darah dan berniat memukul namun ditahan sendiri.

     “Kenapa kak? Coba aja kalo berani, bodoh.”

     “Dasar! Nama lo aja kayak korban pemerkosaan.”

     Ketua OSIS meluncurkan serangan. Tetapi dengan cepat dihindari Mawar dan melakukan serangan balik dengan menggunakan dengkulnya menghajar perut ketua OSIS itu dan meninju wajahnya dengan keras hingga terjatuh, dan Mawar mendudukinya.

     Ia mengingat semua kejadian kelam saat melancarkan serangan tersebut sebagai kekuatan amarahnya. Mawar sangat marah ketika ada yang berkata korban pemerkosaan untuknya. Seperti membuka luka lama. Tak heran, jika sebelumnya Yudi sangat terkejut meledek Mawar seperti itu karena ia anak baru.

     Dengan tatapan kosong Mawar berkata dekat telinga ketua OSIS

     “Tau apa kakak soal mental, kalo ke sekolah aja masih pake mobil hasil merengek minta sama orang tua? Aku dan Melati sudah lebih dari cukup mental. Terutama aku, yang menyaksikan kedua orang tuaku dibunuh depan mataku sendiri.”

     Mawar melepaskannya dan menuju barisan. Semua anak menjauh kecuali Melati. Mawar menarik tangan kembarannya dan pergi dari sana.


     Esoknya ketua OSIS terbukti bersalah karena telah lebih dulu bermain fisik terhadap siswa baru. Para guru menyetujui setelah mendengar kesaksian Mawar dan Melati. Untuk menghapus sistem orientasi yang lebih cenderung seperti perpeloncoan.



     Hari-hari sekolah, mereka berdua dikenal sangat pintar. Sama seperti Aeza dan Hime, mereka bisa sekolah berkat harta warisan yang ditinggalkan kedua orang tuanya. Ada juga Lily yang sama pintarnya sehingga mereka berteman baik. Di sisi lain, Lily selalu jadi korban bully. Para pem-bully tak berani dengan si kembar, jadinya mereka melampiaskan kepada Lily. Melati selalu menolong Lily ketika kedapatan sedang di bully.


     “Stop.” Melati berlari menuju mereka yang berjumlah tiga orang.

     “Ah Melati doang mah gue berani.”

     Dibelakang Melati terlihat Mawar dengan tatapan seperti psikopat.

     “Ga. Gawat, itu Mawar.”

     Mereka meninggalkan Lily dan si kembar itu menolongnya.

     “Lily gapapa?” tanya Melati.


    Selain itu, mereka juga terpilih untuk mewakili sekolah dalam kejuaraan fisika dan tak terkalahkan. Membuat nama mereka bertiga terangkat dan dijuluki “Tiga Srikandi Fisika.”

     Si kembar perlahan menaruh sifat kesal terhadap Lily karena saat diwawancarai media, dia sama sekali tak pernah menengok kearah mereka. Seperti sudah diatas, tak mau menengok kebawah. Lily seperti tak tau berterima kasih siapa yang selama ini menolongnya. Kekesalannya makin diperkuat ketika tak sengaja mendengar omongan-omongan tak enak mengenai Tiga Srikandi Fisika. Mereka merasa dimanfaatkan oleh Lily. Nama Tiga Srikandi Fisika perlahan menghilang.

     Tak mudah bagi Lily berbicara, apalagi bertemu dengan mereka. Ia harus menjelaskan kesalahpahaman ini. Namun apa daya, nasi sudah menjadi bubur. Lily kembali seperti dulu saat ia selalu sendiri sering di bully dan tak ada yang menolongnya, kecuali yang merasa kasihan. Itupun hanya sedikit.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar