Senin, 31 Agustus 2015

Mazna X Adara (Chapter 6) Penghasut



     Aeza sedang latihan mengendalikan air di kolam ikan belakang rumah. Dengan berkonsentrasi dan latihan setiap hari, ia sudah bisa membuat serangan dan pertahanan. Bahkan sudah tingkat dua.

     “Kak Hime, pengendalian air aku udah meningkat nih.”

     “Meningkat gimana?” tanya Hime yang sedang minum es jeruk.

     “Liat nih.”

     Aeza mengarahkan tangannya ke gelas berisi es jeruk. Isi gelas itu seketika membeku. Kemudian membenamkan tangannya ke permukaan kolam, perlahan kolam ikan itu membeku namun hanya di permukaannya saja.

     “Wah, bisa jadi es.” Hime kagum.

     “Iya kak. Kolamnya bisa aja aku bekuin semua, tapi kasian ikannya, hehe.”

     “Liat nih kekuatan gue.”

     Hime meninju udara dan mengeluarkan api yang panjang dari tangannya. Tapi api itu berwarna biru.

     “Kereen. Apinya biru, kak.”

     “Keren kan?”



Di sekolah...

     “Hei.” seorang perempuan memanggil.

     “Ya?” jawab Aeza. Ia merasa dipanggil sekembalinya dari kantin.

     “Aeza kan?”

     “Iya aku. Ada apa?”

     “Bisa ikut sebentar? Ada yang mau ketemu kamu.” dia menarik tangan Aeza.

     “Kenalin, aku Melati. Kelas 11-3.” sapanya dengan senyuman.

     “Kita mau kemana?” tanya Aeza bingung.

     “Ikut aja.”

     Melati mengajaknya menuju atap sekolah yang datar. Disana sudah ada beberapa anak kelas lain tapi ia belum mengenal mereka semua kecuali Rio. Semantara Melati tau, mereka adalah Dark Lord.

 
     “Aeza.” sapa Rio.

     “Ada apa Rio?”

     “Waktu itu kita berada deket di lokasi jatuhnya batu itu dan dapet kekuatan ajaib. Gue denger, lo bisa mengendalikan air ya?”

     “Iya, bener.”

     “Kita semua punya kekuatan ajaib disini. Dan lo mau gak gabung sama kita. Kalo mau ajak kakak lo juga.”

     “Gabung untuk apa?”

     “Kita akan menguasai sekolah ini.” Rio membentangkan tangannya.

     Aeza melihat gelagat aneh dari mereka semua, dan tujuan mereka semua jahat.

     “Ka...kayaknya aku nggak bisa. Maaf, Rio.” Aeza perlahan mundur.

     “Aeza kenapa? Udah gabung sama kita aja.” cegah Melati.

     “Maaf, aku gak bisa.” Aeza kabur dari sana.


    “Kok gak nempel sih?” Melati bingung dalam hatinya. Sedari mengajaknya keatas, ia terus memegang punggung Aeza dengan maksud ia tidak akan bisa kabur karena tubuhnya merekat pada tangan Melati. Tetapi sesaat setelah diajaknya, Aeza sudah melindungi dirinya dengan lapisan air yang sangat tipis seperti embun di sekujur tubuhnya. Kini sekarang tangan Melati basah karena lem tak mempan jika terkena air.

     Seketika ada sambaran petir saat Aeza ingin menuju pintu keluar menuju bawah. Tangan kanannya sedikit tersambar petir yang ditembakkan Putra saat Aeza memegang gagang pintu.

     “Aaww.” Aeza memegangi tangannya yang kesakitan.

     “Hentikan, Putra. Biarkan.” cegah Yuko yang membiarkan Aeza lepas. Sebenarnya dia juga gagal dalam menjebak Aeza. Benang dari kelima jarinya tak mampu mengikat tubuh Aeza yang sebelumnya melindungi diri dengan membuat embun.
     “Kalo nanti berubah pikiran, dateng ke atap bangunan tua yang disana aja ya.” teriak Melati. Tak lupa senyum yang terus mengembang.



     “Tangan lo kenapa?” tanya Hime saat sedang menyetir. Melihat telapak kanan Aeza di perban

     Aeza hanya diam tak berani berbicara.

     “Kenapa?” tanya Hime paksa.

     “Nanti aja dirumah, kak.”


     “Hah? Lo dihasut Rio terus tangan lo disamber petir sama Putra?”

     Aeza mengangguk.

     “Punya kekuatan juga dia. Awas aja.”

     “Kakak mau ngapain? Jangan, kak. Mereka ada banyak. Lagian semua punya kekuatan katanya.” cegah Aeza.

     “Lo ikut gue. Ayo sekarang!” Hime berapi-api karena ada seseorang yang berani melukai adiknya.

     Sesampainya disana

     “Disini tempatnya?” tanya Hime. Memandang jijik tempat yang sudah usang.

     “Mereka nunggu di lantai paling atas.”

     “Pake cara cepet aja.” Hime langsung menggendongnya.

     “Hah?”

     Hime melompat, dari pinggang hingga ujung kaki muncul api yang berkobar cepat seperti turbo roket. Menuju ke lantai paling atas secara cepat.

     “Waah, kak Hime hebat.” puji Aeza.



     “Siapa yang namanya Rio disini?” tanya Hime saat sesampainya disana dan melepaskan Aeza.

     “Bravo. Kekuatan yang keren. Emezing. Betewe, gue Rio. Jadi, lo berdua udah memutuskan untuk gabung sama kita?” sambut Rio dengan bertepuk tangan.

     “Sayangnya,  gue malah mau mushanin siapa yang berani nyakitin adek gue.” kedua tangan Hime diselimuti api.

     “Semangat yang berani. Bravo sekali lagi.” Rio bertepuk tangan.

     “Siapa? Cepeet!” Hime murka. Mengeluarkan bola api dan mengarahkannya ke Rio dan jatuh dari kursinya.

     “Mu... mustahil.” Hime terkejut. Rio bangkit tanpa luka, padahal tadi tembakan itu jelas mengenainya.

     Dalam gerakan lambat, tanpa diketahui Hime, bola api yang ia keluarkan masuk kedalam lubang hitam yang Rio buat sepersekian detik sebelum mengenai dirinya. Rio terjatuh karena disengaja.
     “Terkejut?”

     “Badan gue kenapa?” gumamnya. Hime tak bisa menggerakkan tubuhnya yang masih dalam posisi meninju udara.

     “Bagus, Yuko.” puji Rio.

     Dibelakang mereka terlihat Yuko yang merentangkan tangannya. Dari jari-jari tangannya terlihat benang-benang tipis yang tersambung ke kepala, kedua tangan dan kaki Hime.

     “Kakak!” teriak Aeza. Berlari menuju Hime.

     Secara spontan Aeza diserang secara cepat dari ketinggian dan membawanya terbang jauh dari sana.



     “Udah lah, gabung sama kita aja.” ajak Yudi. Dialah yang membawa terbang Aeza dengan sayap gagak yang besar di punggungnya. Pergelangan tangan Aeza dicengkeram kuat hingga tak bisa menggerakkannya.

     “Lepasin. Tolong.” mohon Aeza.

     Yudi tak mendengarnya dan terus membawa Aeza terbang ke angkasa.

     Dirasa cukup, Yudi melepaskan cengkraman kakinya yang seperti burung gagak sehingga Aeza terjun bebas dari angkasa. Ia amat sangat ketakutan dengan ketinggian dan terus meminta tolong.

     “Jadi gimana? Mau gabung?” tanya Yudi santai. Ia terlihat seperti tiduran santai di ketinggian angkasa dan tidak mengepakkan sayapnya.

     Aeza tetap tak menjawab dan terus memohon.


     Yudi langsung kembali mencengkram pergelangan Aeza ketika sudah lima puluh meter dari pijakan atap gedung tadi, menjatuhkannya dengan perlahan dan pergi.

     “Kita tunggu jawabannya.” Yudi berlalu terbang dan beberapa bulu sayapnya terlepas. Terdengar suara gagak saat sudah menjauh.


     Aeza mengambil nafas sebanyak-banyaknya. Jantungnya berpacu sangat cepat, tadi ajal hampir menjemputnya jika saja Yudi tidak menangkapnya . Seluruh tubuhnya gemetar.


     “Kak? Kakak gapapa?” tanya Aeza.

     Hime tak bergerak sedikitpun. Sampai ia mendadak menyerang Aeza dengan bola api. Refleks  ia menghindarinya.

     “Kakak kenapa kok nyerang aku?” Aeza sangat terkejut tadi. Namun tak ada jawaban dari Hime.

     Ada yang aneh dari bola mata Hime saat Aeza melihatnya. Pupilnya tetap warna oranye seperti biasa, namun bagian putihnya menghitam. Api yang tadi dikeluarkan juga berwarna hitam, bukan oranye atau biru yang pernah ia lihat.




Sebelumnya...

     Aeza dibawa terbang oleh Yudi. Tinggallah Hime sendiri tak bisa bergerak menggerakkan tubuhnya. Hanya tubuhnya saja yang seperti membeku, sedangkan jiwanya memberontak.

     “Bagus, Yuko. Pertahankan.” ujar Rio. Mendekati Hime. Yuko juga mendekat dibelakang Hime. Terlihat benang-benang tipis di jemari Yuko.

     “Akan gue paksa dia bergabung sama kita.”
     Mata putihnya berubah jadi hitam, sedangkan pupilnya berubah merah.

     Rio mengeluarkan bola energi berwarna hitam di telapak kanannya dan mengecil hingga sebesar kelereng.

     “Buka mulutnya.”

     Yuko menggerakkan pelan telunjuknya. Hime membuka mulutnya.

     “Jangan... jangan...” Hime ketakutan didalam jiwanya.

    Rio memasukkan bola energi itu kedalam mulut Hime dan masuk ke kerongkongannya.

     “Lepaskan.”

     Yuko melepaskannya.

     Hime langsung meronta dan kejang setelah benda itu masuk kedalam tubuhnya. Kini ia merasakan hal yang sangat aneh dan hanya bisa berteriak kesakitan.

     Tak lama kemudian Hime mulai diam. Rio mendekati dan membisikkan sesuatu ke Hime.

     “Kalahkan Aeza dan bawa dia ke gue. Gunakan kekuatan baru.”

     Hime membuka mata perlahan. Mata bagian putihnya berubah hitam, sedangkan pupilnya tetap oranye.


     “Kalahkan Aeza.” bisiknya. Kedua tangannya sekejap diselimuti api hitam yang membara.

     “Serang.” bisik lagi. Menyerang dengan sangat cepat menggunakan tinju api.

     “Kakaak!” Aeza menghindarinya.

     “Kak Hime kenapa? Apa abis dicuci otaknya sama Rio? Terpaksa aku harus lawan kak Hime dan lepasin pengaruh itu meskipun aku nggak rela. Tapi aku harus melakukan ini. Maafin aku, kak.” ucap Aeza dalam hati.

     Seluruh tubuhnya kini dilapisi air untuk melindungi dirinya dan siap bertarung.

     “Serang.”

     “Maafin aku, kak. Aku harus mukul kakak.”

Tidak ada komentar:

Posting Komentar