Aeza sedang latihan mengendalikan air di
kolam ikan belakang rumah. Dengan berkonsentrasi dan latihan setiap hari, ia
sudah bisa membuat serangan dan pertahanan. Bahkan sudah tingkat dua.
“Kak Hime, pengendalian air aku udah
meningkat nih.”
“Meningkat gimana?” tanya Hime yang sedang
minum es jeruk.
“Liat nih.”
Aeza mengarahkan tangannya ke gelas berisi
es jeruk. Isi gelas itu seketika membeku. Kemudian membenamkan tangannya ke
permukaan kolam, perlahan kolam ikan itu membeku namun hanya di permukaannya
saja.
“Wah, bisa jadi es.” Hime kagum.
“Iya kak. Kolamnya bisa aja aku bekuin
semua, tapi kasian ikannya, hehe.”
“Liat nih kekuatan gue.”
Hime meninju udara dan mengeluarkan api
yang panjang dari tangannya. Tapi api itu berwarna biru.
“Kereen. Apinya biru, kak.”
“Keren kan?”
Di sekolah...
“Hei.” seorang perempuan memanggil.
“Ya?” jawab Aeza. Ia merasa dipanggil
sekembalinya dari kantin.
“Aeza kan?”
“Iya aku. Ada apa?”
“Bisa ikut sebentar? Ada yang mau ketemu
kamu.” dia menarik tangan Aeza.
“Kenalin, aku Melati. Kelas 11-3.” sapanya
dengan senyuman.
“Kita mau kemana?” tanya Aeza bingung.
“Ikut aja.”
Melati mengajaknya menuju atap sekolah
yang datar. Disana sudah ada beberapa anak kelas lain tapi ia belum mengenal
mereka semua kecuali Rio. Semantara Melati tau, mereka adalah Dark Lord.
“Aeza.” sapa Rio.
“Ada apa Rio?”
“Waktu itu kita berada deket di lokasi
jatuhnya batu itu dan dapet kekuatan ajaib. Gue denger, lo bisa mengendalikan
air ya?”
“Iya, bener.”
“Kita semua punya kekuatan ajaib disini.
Dan lo mau gak gabung sama kita. Kalo mau ajak kakak lo juga.”
“Gabung untuk apa?”
“Kita akan menguasai sekolah ini.” Rio
membentangkan tangannya.
Aeza melihat gelagat aneh dari mereka
semua, dan tujuan mereka semua jahat.
“Ka...kayaknya aku nggak bisa. Maaf, Rio.”
Aeza perlahan mundur.
“Aeza kenapa? Udah gabung sama kita aja.”
cegah Melati.
“Maaf, aku gak bisa.” Aeza kabur dari
sana.
“Kok gak nempel sih?” Melati bingung
dalam hatinya. Sedari mengajaknya keatas, ia terus memegang punggung Aeza
dengan maksud ia tidak akan bisa kabur karena tubuhnya merekat pada tangan
Melati. Tetapi sesaat setelah diajaknya, Aeza sudah melindungi dirinya dengan
lapisan air yang sangat tipis seperti embun di sekujur tubuhnya. Kini sekarang
tangan Melati basah karena lem tak mempan jika terkena air.
Seketika ada sambaran petir saat Aeza
ingin menuju pintu keluar menuju bawah. Tangan kanannya sedikit tersambar petir
yang ditembakkan Putra saat Aeza memegang gagang pintu.
“Aaww.” Aeza memegangi tangannya yang
kesakitan.
“Hentikan, Putra. Biarkan.” cegah Yuko yang
membiarkan Aeza lepas. Sebenarnya dia juga gagal dalam menjebak Aeza. Benang
dari kelima jarinya tak mampu mengikat tubuh Aeza yang sebelumnya melindungi
diri dengan membuat embun.
“Kalo nanti berubah pikiran, dateng ke
atap bangunan tua yang disana aja ya.” teriak Melati. Tak lupa senyum yang
terus mengembang.
“Tangan lo kenapa?” tanya Hime saat sedang
menyetir. Melihat telapak kanan Aeza di perban
Aeza hanya diam tak berani berbicara.
“Kenapa?” tanya Hime paksa.
“Nanti aja dirumah, kak.”
“Hah? Lo dihasut Rio terus tangan lo
disamber petir sama Putra?”
Aeza mengangguk.
“Punya kekuatan juga dia. Awas aja.”
“Kakak mau ngapain? Jangan, kak. Mereka
ada banyak. Lagian semua punya kekuatan katanya.” cegah Aeza.
“Lo ikut gue. Ayo sekarang!” Hime
berapi-api karena ada seseorang yang berani melukai adiknya.
Sesampainya disana
“Disini tempatnya?” tanya Hime. Memandang jijik
tempat yang sudah usang.
“Mereka nunggu di lantai paling atas.”
“Pake cara cepet aja.” Hime langsung
menggendongnya.
“Hah?”
Hime melompat, dari pinggang hingga ujung
kaki muncul api yang berkobar cepat seperti turbo roket. Menuju ke lantai
paling atas secara cepat.
“Waah, kak Hime hebat.” puji Aeza.
“Siapa yang namanya Rio disini?” tanya
Hime saat sesampainya disana dan melepaskan Aeza.
“Bravo. Kekuatan yang keren. Emezing. Betewe,
gue Rio. Jadi, lo berdua udah memutuskan untuk gabung sama kita?” sambut Rio
dengan bertepuk tangan.
“Sayangnya, gue malah mau mushanin siapa yang berani
nyakitin adek gue.” kedua tangan Hime diselimuti api.
“Semangat yang berani. Bravo sekali lagi.”
Rio bertepuk tangan.
“Siapa? Cepeet!” Hime murka. Mengeluarkan
bola api dan mengarahkannya ke Rio dan jatuh dari kursinya.
“Mu... mustahil.” Hime terkejut. Rio
bangkit tanpa luka, padahal tadi tembakan itu jelas mengenainya.
Dalam gerakan lambat, tanpa diketahui
Hime, bola api yang ia keluarkan masuk kedalam lubang hitam yang Rio buat
sepersekian detik sebelum mengenai dirinya. Rio terjatuh karena disengaja.
“Terkejut?”
“Badan gue kenapa?” gumamnya. Hime tak
bisa menggerakkan tubuhnya yang masih dalam posisi meninju udara.
“Bagus, Yuko.” puji Rio.
Dibelakang mereka terlihat Yuko yang
merentangkan tangannya. Dari jari-jari tangannya terlihat benang-benang tipis
yang tersambung ke kepala, kedua tangan dan kaki Hime.
“Kakak!” teriak Aeza. Berlari menuju Hime.
Secara spontan Aeza diserang secara cepat
dari ketinggian dan membawanya terbang jauh dari sana.
“Udah lah, gabung sama kita aja.” ajak
Yudi. Dialah yang membawa terbang Aeza dengan sayap gagak yang besar di punggungnya.
Pergelangan tangan Aeza dicengkeram kuat hingga tak bisa menggerakkannya.
“Lepasin. Tolong.” mohon Aeza.
Yudi tak mendengarnya dan terus membawa Aeza
terbang ke angkasa.
Dirasa cukup, Yudi melepaskan cengkraman
kakinya yang seperti burung gagak sehingga Aeza terjun bebas dari angkasa. Ia
amat sangat ketakutan dengan ketinggian dan terus meminta tolong.
“Jadi gimana? Mau gabung?” tanya Yudi
santai. Ia terlihat seperti tiduran santai di ketinggian angkasa dan tidak
mengepakkan sayapnya.
Aeza tetap tak menjawab dan terus memohon.
Yudi langsung kembali mencengkram
pergelangan Aeza ketika sudah lima puluh meter dari pijakan atap gedung tadi,
menjatuhkannya dengan perlahan dan pergi.
“Kita tunggu jawabannya.” Yudi berlalu
terbang dan beberapa bulu sayapnya terlepas. Terdengar suara gagak saat sudah
menjauh.
Aeza mengambil nafas sebanyak-banyaknya.
Jantungnya berpacu sangat cepat, tadi ajal hampir menjemputnya jika saja Yudi
tidak menangkapnya . Seluruh tubuhnya gemetar.
“Kak? Kakak gapapa?” tanya Aeza.
Hime tak bergerak sedikitpun. Sampai ia
mendadak menyerang Aeza dengan bola api. Refleks ia menghindarinya.
“Kakak kenapa kok nyerang aku?” Aeza
sangat terkejut tadi. Namun tak ada jawaban dari Hime.
Ada yang aneh dari bola mata Hime saat
Aeza melihatnya. Pupilnya tetap warna oranye seperti biasa, namun bagian
putihnya menghitam. Api yang tadi dikeluarkan juga berwarna hitam, bukan oranye
atau biru yang pernah ia lihat.
Sebelumnya...
Aeza dibawa terbang oleh Yudi. Tinggallah
Hime sendiri tak bisa bergerak menggerakkan tubuhnya. Hanya tubuhnya saja yang
seperti membeku, sedangkan jiwanya memberontak.
“Bagus, Yuko. Pertahankan.” ujar Rio.
Mendekati Hime. Yuko juga mendekat dibelakang Hime. Terlihat benang-benang
tipis di jemari Yuko.
“Akan gue paksa dia bergabung sama kita.”
Mata putihnya berubah jadi hitam,
sedangkan pupilnya berubah merah.
Rio mengeluarkan bola energi berwarna
hitam di telapak kanannya dan mengecil hingga sebesar kelereng.
“Buka mulutnya.”
Yuko menggerakkan pelan telunjuknya. Hime
membuka mulutnya.
“Jangan... jangan...”
Hime ketakutan didalam jiwanya.
Rio memasukkan bola energi itu kedalam
mulut Hime dan masuk ke kerongkongannya.
“Lepaskan.”
Yuko melepaskannya.
Hime langsung meronta dan kejang setelah
benda itu masuk kedalam tubuhnya. Kini ia merasakan hal yang sangat aneh dan
hanya bisa berteriak kesakitan.
Tak lama kemudian Hime mulai diam. Rio
mendekati dan membisikkan sesuatu ke Hime.
“Kalahkan Aeza dan bawa dia ke gue.
Gunakan kekuatan baru.”
Hime membuka mata perlahan. Mata bagian
putihnya berubah hitam, sedangkan pupilnya tetap oranye.
“Kalahkan Aeza.” bisiknya. Kedua tangannya
sekejap diselimuti api hitam yang membara.
“Serang.” bisik lagi. Menyerang dengan
sangat cepat menggunakan tinju api.
“Kakaak!” Aeza menghindarinya.
“Kak Hime kenapa? Apa abis
dicuci otaknya sama Rio? Terpaksa aku harus lawan kak Hime dan lepasin pengaruh
itu meskipun aku nggak rela. Tapi aku harus melakukan ini. Maafin aku, kak.”
ucap Aeza dalam hati.
Seluruh tubuhnya kini dilapisi air untuk
melindungi dirinya dan siap bertarung.
“Serang.”
“Maafin aku, kak. Aku harus
mukul kakak.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar