Hari-hari Aeza tak lepas untuk melayani
setiap perintah yang Hime berikan. Terkadang ia pernah menyuruhnya saat Aeza
sedang kelelahan atau sedang tidur pulas.
“Hime.” suara seperti lelaki tua seperti
memanggilnya. Hime yang berada di tempat antah berantah mencari asal suara itu.
“A... ayah.” Hime melihatya setelah
menengook kebelakang. Memakai pakaian serba putih.
“Kenapa kamu melakukan itu?”
“Melakukan apa, ayah?”
“Kenapa kamu terus menyuruh-nyuruh Aeza
melakukan pekerjaan rumah sendirian seperti pesuruh? Sementara kamu hanya
bersantai?”
“AYAH?!”
“Cuma mimpi.”
Hime terbangun dari mimpinya. Keringat
bercucuran keluar dari tubuhnya. Kepalanya sedikit pusing, kemudian ia melirik
jam. Sudah pukul 18.30. tak biasanya ia bangun magrib. Tenggorokannya terasa
kering saat ia menelan ludah. Seperti dehidrasi.
“Aeza. Bikinin es teh manis dong. Aus
nih.” suruh Hime yang sudah didepan pintu kamarnya dengan lantang agar Aeza
bisa mendengarnya. Tapi tak ada jawaban darinya.
“Pasti lagi sholat.”
Hime membuka pelan pintu dan masuk kekamar
Aeza. Tapi kosong saat ia disana. Hanya ada sajadah yang terbentang disebelah
kasur tanpa kaki. Terdapat Al-quran, ponsel dan tasbih diatas sajadah tersebut.
Suhu di kamar tersebut lebih hangat cenderung sedikit panas. Ada kipas angin
mesin yang menjadi pendingin ruangan tersebut.
Hime teringat ia belum mengecek BBM yang
masuk di ponselnya. Ia menemukan chat terakhir Aeza yang berkata PING!!!
“Aku ada pengajian abis
magrib. Sebentar aja kok, kak. Abis isya aku pulang. Tadinya aku mau ajak
kakak, tapi gak jadi deh soalnya kakak pules banget. Takut ganggu aku, hehe. Di
meja makan udah aku siapin, ada sayur sop kesukaan kak Hime jadi tinggal makan
aja pas udah bangun. Ada es teh manis di kulkas buat kakak udah aku buatin. J
“
Seperti itu isi BBM dari Aeza.
“Apaan nih?” Hime menemukan sebuah buku
dibawah Al-quran. Buku itu bertuliskan Aeza Zulviandari.
Hime mencoba membuka dan membaca
halaman demi halaman. Ternyata itu buku harian milik Aeza. Hime serius membaca
halaman demi halaman karena ia hobi membaca. Tak jarang isi buku harian itu
menyangkut tentang dirinya (Hime). Sampai ia membaca sebuah halaman.
“Aku
sayang banget sama keluarga ini karena mereka udah bersedia menampung aku yang
ditemukan sebelah tempat sampah hingga sekarang meski bukan anak kandung mereka,
terutama kak Hime. Sekarang cuma dia satu-satunya keluarga yang kupunya. Jika
ingin tau, aku sangat sayang sama kak Hime. Meski sering nyuruh-nyuruh aku,
makan beda tempat pas makan di resto, marahin aku sampe kakak mukulin aku karna
aku ceroboh. Aku selalu berusaha membalas itu semua dengan senyuman untuk kakak.
Karna aku nggak punya apa-apa lagi selain senyuman. Semua yang ada dirumah ini
milik kak Hime.”
“Mungkin kak Hime melakukan
itu semua padaku karena dia sayang sama aku. Aku yakin sebenernya Kak Hime
nggak mau ngelakuin itu.”
“Aku janji bakalan
ngelindungin kakak sekuat yang aku bisa. Dan aku sangat yakin dan berharap kak
Hime juga melakukan hal yang sama. Karena aku udah menganggap kita itu saudara.”
“Aku sayang keluarga ini,
aku sayang kak Hime Rusdian J”
Hime terdiam sejenak membaca tulisan tadi.
Dengan sendirinya pikirannya mem-flashback saat-saat dulu. Hime selalu menyuruh
Aeza yang macam-macam dan diperlakukan seperti pesuruh, bukan seperti adiknya.
Hime merasa sangat jahat terhadapnya jika mengingat itu semua kembali. Karena
tak jarang ia suka memukul kepala Aeza setiap kali Aeza berbuat ceroboh yang
sebenarnya hanya masalah sepele. Tapi Aeza tak pernah mengeluh atau membalas
perbuatan kakaknya. Dia hanya bisa menunduk dan menangis tiap kali berbuat
ceroboh.
Ponsel Aeza yang tergeletak disana
membuatnya penasaran. Sebenarnya itu adalah ponsel lamanya. Ia memberikan
kepada Aeza setelah membeli ponsel yang lebih canggih. Ponselnya ternyata tak
dipasangi kode pengaman. Wallpaper utamanya adalah saat mereka foto berdua di
tempat wisata saat kenaikan kelas 3 SMP.
Seingatnya itu mungkin terakhir kali Hime foto bareng Aeza.
“Assalamualaikum.” salam Aeza membuka
pintu utama.
“Loh, kak Hime belum bangun?” Aeza melihat
meja makannya masih tertata rapi seperti terakhir ia meninggalkannya.
“Kak?” Aeza menaiki anak tangga dan
memanggilnya, tapi tak ada respon. Ia melihat kamarnya sedikit terbuka.
“Kakak?” Aeza membuka pintu kamarnya.
“Aezaa...” Hime yang tadinya terduduk
langsung memeluk Aeza yang terkejut.
“Kakak kenapa?”
“Maafin gue, Aeza. Selama ini gue udah
jahat banget sama lo.” katanya sambil menangis.
“Udah, udah kak. Sekarang cerita sama aku.
Kenapa?” Aeza menenangkan. Menghapus air mata Hime dengan jempolnya.
“Gue gak sengaja baca buku harian lo. Pas
gue baca, ternyata lo memang sayang banget sama gue, padahal lo sering gue suruh-suruh
dan dipukulin. Tapi lo tetep senyum buat gue, malahan doa-in gue tiap abis lo
sholat. Sementara gue gak pernah peduliin lo. Gue ngerasa jahat banget sama lo.”
“Iya. Kakak gak usah nangis lagi. Aku
selalu maafin kakak. Mungkin kakak lagi capek atau khilaf saat itu. Aku juga gak pernah mikir yang jelek-jelek
tentang kakak.”
“Mulai hari ini, gue gak bakal
terus-terusan nyuruh lo lagi. Kita kerjakan sama-sama.”
Aeza tersenyum dan mengangguk.
“Ayo kita makan, adek.” ajak Hime.
Aeza terharu akan kata ‘adek’ yang Hime
sebut.
Keesokan harinya Hime benar-benar sudah
menepati omongannya. Biasanya selalu Aeza yang menyetir, kini sekarang gantian
Hime yang menyetir. Ia juga sekarang membawa tasnya sendiri.
“Baru kali ini gue ngeliat mereka begitu
akrab.” ujar Aldi di kejauhan. Melihat Hime terus senyum kearah Aeza.
“Biasanya juga diem-dieman ya? Apalagi si
Hime.” kata Indry.
“Mungkin dia semalem dapat pencerahan dari
manaa tau, tapi bagus lah kalo mereka akur sebagai adik-kakak. Walau nggak
sedarah.” komentar Aldi sambil tersenyum.
“Ya, syukurlah.” sahut Ivan. Lelaki tinggi
besar ini memang tak banyak bicara.
“Hoaaammh. Ada apa?” tanya Surya. Baru
bergabung dengan mereka.
“Surya... ganteng sekali... meski baru
bangun tidur.” gumam seorang gadis mengintip dibalik dinding tak jauh dari
mereka. Ia kembali bersembunyi dan memeluk erat boneka kesayangannya. Itu Lily.
“Aku ingin seperti mereka... bisa akrab
dengan Surya. Menurutmu bagaimana, Lila?” tanya Lily ke boneka itu sembari
membenarkan posisi kacamata. Jantungnya berdebar-debar.
“Heh, gila lo ya ngomong sendiri?” Maya, anggota tim cheerleader berpostur tinggi langsing memergoki Lily berbicara sendiri. Spontan Lily kaget.
“Maya. Jangaan.” Lily memohon. Boneka
kesayangannya dengan cepat direbut Maya.
“Ambil kalo bisa.”
Dengan cepat, Maya menjadi lima orang. Ia
juga mendapat kekuatan ajaib, yaitu bisa membuat kloningan dirinya sendiri
sebanyak yang ia mau. Pupil matanya menjadi dua dalam satu bola mata.
Maya yang asli mundur sementara keempat
kloningannya maju untuk mengerjai Lily seperti mengacak-ngacak rambutnya,
merebut kacamata. Terakhir mendorongnya hingga tersungkur.
“Segitu doang? Dasar culun.” ejek Maya.
“Kembalikan...”
“Hah?” Maya tak mendengarnya karena Lily
seperti berbisik.
“Kembalikan!!” Lily merentangkan satu
tangannya kedepan. Suaranya terdengar seperti dua orang yang mengucapnya secara
bersama. Keempat kloningan Maya terpental semua sehingga membuat kegaduhan
kecil.
“Apaan tuh?” Indry terkejut.
Kacamata Lily melayang dan terpasang di
matanya dengan sendirinya.
“Itu kenapa si Maya mundur ketakutan?” tanya
Surya.
Maya terkejut dan mundur perlahan. Para
kloningannya sudah menghilang sejak tadi. Lily pelan maju sambil menundukkan
kepalanya, dan melayang. Tangannya direntangkan kembali dan Maya melayang
seperti Lily. Ia terlihat sedang memegang lehernya sendiri seperti sedang
tercekik.
“Kembalikan Lila.”
Maya melepaskan boneka Lily dan boneka
tersebut melayang menuju Lily kemudian dipeluknya. Lily turun perlahan
sementara Maya terjatuh begitu saja dan langsung melarikan diri.
“Meskipun Lily pendiam, tapi bahaya juga kalo
dia marah. Serangannya gak terlihat.” pikir Indry.
“Sama kayak kedua rekannya dulu, sayang mereka
udah bubar. Kasian Lily jadi penyendiri lagi, Mawar dan Melati yang dulunya
akrab sama Lily sekarang memusuhinya.” Aldi menggelengkan kepalanya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar