Senin, 31 Agustus 2015

Mazna X Adara (Chapter 5) Sadar




     Hari-hari Aeza tak lepas untuk melayani setiap perintah yang Hime berikan. Terkadang ia pernah menyuruhnya saat Aeza sedang kelelahan atau sedang tidur pulas.

     “Hime.” suara seperti lelaki tua seperti memanggilnya. Hime yang berada di tempat antah berantah mencari asal suara itu.

     “A... ayah.” Hime melihatya setelah menengook kebelakang. Memakai pakaian serba putih.

     “Kenapa kamu melakukan itu?”

     “Melakukan apa, ayah?”

     “Kenapa kamu terus menyuruh-nyuruh Aeza melakukan pekerjaan rumah sendirian seperti pesuruh? Sementara kamu hanya bersantai?”



     “AYAH?!”

     “Cuma mimpi.”

     Hime terbangun dari mimpinya. Keringat bercucuran keluar dari tubuhnya. Kepalanya sedikit pusing, kemudian ia melirik jam. Sudah pukul 18.30. tak biasanya ia bangun magrib. Tenggorokannya terasa kering saat ia menelan ludah. Seperti dehidrasi.

     “Aeza. Bikinin es teh manis dong. Aus nih.” suruh Hime yang sudah didepan pintu kamarnya dengan lantang agar Aeza bisa mendengarnya. Tapi tak ada jawaban darinya.

     “Pasti lagi sholat.”

     Hime membuka pelan pintu dan masuk kekamar Aeza. Tapi kosong saat ia disana. Hanya ada sajadah yang terbentang disebelah kasur tanpa kaki. Terdapat Al-quran, ponsel dan tasbih diatas sajadah tersebut. Suhu di kamar tersebut lebih hangat cenderung sedikit panas. Ada kipas angin mesin yang menjadi pendingin ruangan tersebut.

     Hime teringat ia belum mengecek BBM yang masuk di ponselnya. Ia menemukan chat terakhir Aeza yang berkata PING!!!


     “Aku ada pengajian abis magrib. Sebentar aja kok, kak. Abis isya aku pulang. Tadinya aku mau ajak kakak, tapi gak jadi deh soalnya kakak pules banget. Takut ganggu aku, hehe. Di meja makan udah aku siapin, ada sayur sop kesukaan kak Hime jadi tinggal makan aja pas udah bangun. Ada es teh manis di kulkas buat kakak udah aku buatin. J

     Seperti itu isi BBM dari Aeza.

     “Apaan nih?” Hime menemukan sebuah buku dibawah Al-quran. Buku itu bertuliskan Aeza Zulviandari.

     Hime mencoba membuka dan membaca halaman demi halaman. Ternyata itu buku harian milik Aeza. Hime serius membaca halaman demi halaman karena ia hobi membaca. Tak jarang isi buku harian itu menyangkut tentang dirinya (Hime). Sampai ia membaca sebuah halaman.

     “Aku sayang banget sama keluarga ini karena mereka udah bersedia menampung aku yang ditemukan sebelah tempat sampah hingga sekarang meski bukan anak kandung mereka, terutama kak Hime. Sekarang cuma dia satu-satunya keluarga yang kupunya. Jika ingin tau, aku sangat sayang sama kak Hime. Meski sering nyuruh-nyuruh aku, makan beda tempat pas makan di resto, marahin aku sampe kakak mukulin aku karna aku ceroboh. Aku selalu berusaha membalas itu semua dengan senyuman untuk kakak. Karna aku nggak punya apa-apa lagi selain senyuman. Semua yang ada dirumah ini milik kak Hime.”

     “Mungkin kak Hime melakukan itu semua padaku karena dia sayang sama aku. Aku yakin sebenernya Kak Hime nggak mau ngelakuin itu.”

     “Aku janji bakalan ngelindungin kakak sekuat yang aku bisa. Dan aku sangat yakin dan berharap kak Hime juga melakukan hal yang sama. Karena aku udah menganggap kita itu saudara.”

     “Aku sayang keluarga ini, aku sayang kak Hime Rusdian J


     Hime terdiam sejenak membaca tulisan tadi. Dengan sendirinya pikirannya mem-flashback saat-saat dulu. Hime selalu menyuruh Aeza yang macam-macam dan diperlakukan seperti pesuruh, bukan seperti adiknya. Hime merasa sangat jahat terhadapnya jika mengingat itu semua kembali. Karena tak jarang ia suka memukul kepala Aeza setiap kali Aeza berbuat ceroboh yang sebenarnya hanya masalah sepele. Tapi Aeza tak pernah mengeluh atau membalas perbuatan kakaknya. Dia hanya bisa menunduk dan menangis tiap kali berbuat ceroboh.


     Ponsel Aeza yang tergeletak disana membuatnya penasaran. Sebenarnya itu adalah ponsel lamanya. Ia memberikan kepada Aeza setelah membeli ponsel yang lebih canggih. Ponselnya ternyata tak dipasangi kode pengaman. Wallpaper utamanya adalah saat mereka foto berdua di tempat wisata saat kenaikan kelas 3 SMP.  Seingatnya itu mungkin terakhir kali Hime foto bareng Aeza.



     “Assalamualaikum.” salam Aeza membuka pintu utama.

     “Loh, kak Hime belum bangun?” Aeza melihat meja makannya masih tertata rapi seperti terakhir ia meninggalkannya.

     “Kak?” Aeza menaiki anak tangga dan memanggilnya, tapi tak ada respon. Ia melihat kamarnya sedikit terbuka.

     “Kakak?” Aeza membuka pintu kamarnya.

     “Aezaa...” Hime yang tadinya terduduk langsung memeluk Aeza yang terkejut.

     “Kakak kenapa?”

     “Maafin gue, Aeza. Selama ini gue udah jahat banget sama lo.” katanya sambil menangis.

     “Udah, udah kak. Sekarang cerita sama aku. Kenapa?” Aeza menenangkan. Menghapus air mata Hime dengan jempolnya.

     “Gue gak sengaja baca buku harian lo. Pas gue baca, ternyata lo memang sayang banget sama gue, padahal lo sering gue suruh-suruh dan dipukulin. Tapi lo tetep senyum buat gue, malahan doa-in gue tiap abis lo sholat. Sementara gue gak pernah peduliin lo. Gue ngerasa jahat banget sama lo.”

     “Iya. Kakak gak usah nangis lagi. Aku selalu maafin kakak. Mungkin kakak lagi capek atau khilaf saat itu.  Aku juga gak pernah mikir yang jelek-jelek tentang kakak.”

     “Mulai hari ini, gue gak bakal terus-terusan nyuruh lo lagi. Kita kerjakan sama-sama.”

     Aeza tersenyum dan mengangguk.

     “Ayo kita makan, adek.” ajak Hime.

     Aeza terharu akan kata ‘adek’ yang Hime sebut.



     Keesokan harinya Hime benar-benar sudah menepati omongannya. Biasanya selalu Aeza yang menyetir, kini sekarang gantian Hime yang menyetir. Ia juga sekarang membawa tasnya sendiri.

     “Baru kali ini gue ngeliat mereka begitu akrab.” ujar Aldi di kejauhan. Melihat Hime terus senyum kearah Aeza.

    “Biasanya juga diem-dieman ya? Apalagi si Hime.” kata Indry.

     “Mungkin dia semalem dapat pencerahan dari manaa tau, tapi bagus lah kalo mereka akur sebagai adik-kakak. Walau nggak sedarah.” komentar Aldi sambil tersenyum.

     “Ya, syukurlah.” sahut Ivan. Lelaki tinggi besar ini memang tak banyak bicara.

     “Hoaaammh. Ada apa?” tanya Surya. Baru bergabung dengan mereka.




     “Surya... ganteng sekali... meski baru bangun tidur.” gumam seorang gadis mengintip dibalik dinding tak jauh dari mereka. Ia kembali bersembunyi dan memeluk erat boneka kesayangannya. Itu Lily.

     “Aku ingin seperti mereka... bisa akrab dengan Surya. Menurutmu bagaimana, Lila?” tanya Lily ke boneka itu sembari membenarkan posisi kacamata. Jantungnya berdebar-debar.


     “Heh, gila lo ya ngomong sendiri?” Maya, anggota tim cheerleader berpostur tinggi langsing memergoki Lily berbicara sendiri. Spontan Lily kaget.

     “Maya. Jangaan.” Lily memohon. Boneka kesayangannya dengan cepat direbut Maya.

     “Ambil kalo bisa.”

     Dengan cepat, Maya menjadi lima orang. Ia juga mendapat kekuatan ajaib, yaitu bisa membuat kloningan dirinya sendiri sebanyak yang ia mau. Pupil matanya menjadi dua dalam satu bola mata.

     Maya yang asli mundur sementara keempat kloningannya maju untuk mengerjai Lily seperti mengacak-ngacak rambutnya, merebut kacamata. Terakhir mendorongnya hingga tersungkur.

     “Segitu doang? Dasar culun.” ejek Maya.

     “Kembalikan...”

     “Hah?” Maya tak mendengarnya karena Lily seperti berbisik.

     “Kembalikan!!” Lily merentangkan satu tangannya kedepan. Suaranya terdengar seperti dua orang yang mengucapnya secara bersama. Keempat kloningan Maya terpental semua sehingga membuat kegaduhan kecil.

     “Apaan tuh?” Indry  terkejut.

     Kacamata Lily melayang dan terpasang di matanya dengan sendirinya.

     “Itu kenapa si Maya mundur ketakutan?” tanya Surya.

     Maya terkejut dan mundur perlahan. Para kloningannya sudah menghilang sejak tadi. Lily pelan maju sambil menundukkan kepalanya, dan melayang. Tangannya direntangkan kembali dan Maya melayang seperti Lily. Ia terlihat sedang memegang lehernya sendiri seperti sedang tercekik.

     “Kembalikan Lila.”

     Maya melepaskan boneka Lily dan boneka tersebut melayang menuju Lily kemudian dipeluknya. Lily turun perlahan sementara Maya terjatuh begitu saja dan langsung melarikan diri.

     “Meskipun Lily pendiam, tapi bahaya juga kalo dia marah. Serangannya gak terlihat.” pikir Indry.

     “Sama kayak kedua rekannya dulu, sayang mereka udah bubar. Kasian Lily jadi penyendiri lagi, Mawar dan Melati yang dulunya akrab sama Lily sekarang memusuhinya.” Aldi menggelengkan kepalanya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar