Serangan dimulai dari Hime dengan api
hitamnya dan mengeluarkan bola api besar. Aeza berhasil menghindarinya. Selanjutnya Hime kembali mengeluarkan kembali
bola api namun dengan ukuran yang kecil dan sangat banyak seperti peluru menghantam
Aeza bertubi-tubi, tapi ditangkis dengan perisai air besar Aeza.
Dengan sekali lompatan yang cepat dan jauh
kedepan, Hime berhasil menghancurkan perisai air itu dengan sekali tendangan
keras mengenai tubuh Aeza dan mulai bertarung jarak dekat. Pengaruh bola energi
yang dimasukkan kedalam tubuhnya membuat gerakannya menjadi sangat cepat dan
pengaruh jahat yang kuat.
Aeza tak mampu menangkis serangan
supersonik Hime dan beberapa kali tinju api itu mengenai tubuhnya. Setiap
bagian tubuh yang terkena pukulan membuat perisai air di tubuhnya langsung
menguap.
Hime melakukan serangan terakhir dengan
menendang tubuh adiknya hinga membuatnya mundur sejauh tiga meter.
Langsung ia membuat segitiga dengan kedua
tangannya dan ditempelkan ke mulutnya. Hime menyemburkan api hitam yang sangat
besar dan langsung mengenai seluruh tubuh Aeza.
Aeza tampak ngos-ngosan, air pelindung di
tubuhnya sudah menipis. Sedangkan Hime tampak biasa saja.
Spontan Hime kehilangan keseimbangan dan
jatuh kesamping. Aeza membuat cambuk dari air dan menyerang kaki Hime tanpa ia
sadari.
Namun ia segera bangkit dan bersiap
menyerang Aeza yang memejamkan mata dengan tinju apinya.
“Maaf ya kak.”
Aeza membuka mata dan merentangkan kedua
tangannya. Terdapat angin yang sangat dingin dari telapak tangan Aeza menyerang
tubuh Hime. Angin tersebut lama-lama membuatnya tak bisa bergerak dan tubuhnya
mengeras. Aeza menambah lagi kekuatannya, hingga akhirnya Hime membeku dan
terperangkap didalam bongkahan es buatan Aeza.
Namun rasa sayang Aeza terhadap Hime
sangatlah besar. Ia mencairkan sebagian es di kepalanya. Jadi hanya bagian
kepala sampai bawah hidung saja yang tak membeku. Terlihat Hime tampak sangat
kedinginan.
Aeza jatuh terduduk lemas. Tak mudah
baginya bertarung jika belum memiliki sama sekali pengalaman.
Hime kembali membuka mata tanpa Aeza
sadari. Nafas panas yang keluar dari hidungnya membantu es tersebut mencair.
Aeza yang baru menyadarinya terkejut dan dengan segera Hime menghancurkan es
yang mengurung dirinya. Pecahan es terpental demikian juga Aeza.
Tak ada lagi yang bisa dilakukan Aeza.
Tenaganya hampir terkuras habis. Sementara Hime datang mendekatinya.
Secara tak terduga Aeza yang lemas
langsung bangkit dan mendorong perut Hime dengan tubuhnya sambil dipeluk.
Membuat langkah majunya terhenti.
“Kakaak. Sadar kak!” Aeza menangis.
“Lepaskan.”
“Aku
gak bakal lepasin sampai kakak sadar.”
“Lepaskan.”
Hime terus meninju punggung sampai kepala
Aeza hingga mengeluarkan darah dari kepalanya. Tapi Aeza takkan menyerah begitu
saja. Sampai tubuh Hime diselimuti api untuk melindungi dirinya, Aeza
melindungi dirinya dengan perisai air secara bersamaan hingga kedua elemen yang
saling beradu itu mengeluarkan uap asap.
“Cukup.”
Hime mulai mencekik Aeza dan meninju
perutnya, kemudian mengangkatnya ke udara dengan satu tangan. Tangan kirinya
memegang perut Aeza dan diangkat keatas. Dengan sekuat tenaga Aeza dilemparnya
hingga terguling menabrak dinding.
Hime terkejut. Aeza masih bisa bangun
dengan kondisi sangat lemah seperti itu.
“Maafin aku, kak. Terpaksa aku pake
kekuatan rahasia ini.” Aeza memejamkan matanya.
Hime yang ingin menyerang tiba-tiba tak
bisa menggerakkan tubuhnya. Aeza membuka mata, pupinya kini menjadi merah
darah.
Pandangan matanya bisa melihat tembus
kedalam tubuh. Aeza melihat ada bola aneh yang berada di lambung kakaknya. Ia
mencoba memuntahkan kembali isi perut kakaknya.
Kekuatan tingkat tiga Aeza merupakan
pengendali darah karena darah merupakan benda cair. Sama seperti Yuko yang bisa
mengendalikan tubuh seseorang, namun ini lebih berbahaya. Posisi Aeza kini pun
sedang tidak sadar seperti Hime.
Hime yang tak bisa bergerak sesaat mulai
mual. Dan memuntahkan semua isi perutnya. Keluarlah bola aneh itu dan Aeza
menginjaknya sampai hancur saat menggelinding kearahnya. Aeza melepaskan
kakaknya, dan kembali ke mode biasa.
“Kakak...”
“Aeza.”
Hime sudah sepenuhnya sadar jiwanya, tapi
tubuhnya masih belum bisa bergerak. Hime terkejut karena benang-benang tipis
Yuko masih melekat ditubuhnya.
“Apa itu garis tipis yang mengikat tangan
sama kaki kak Hime?” beruntung Aeza menyadarinya. Dan membuat sebilah es yang
tipis dan tajam untuk memotong benang itu.
Namun tubuh Hime kembali bergerak sendiri
dan dalam posisi tubuhnya seperti ingin kamekameha. Mengumpulkan energi panas.
“Aeza cepeet.” teriak Hime dalam jiwanya.
Ia menutup mata tak mau melihat hal ini.
Aeza melempar es itu, dan berhasil. Benang
yang mengikat tubuh Hime sudah putus semua.
Di kediaman Yuko...
Tangannya yang sedari tadi tertarik
sendiri kini dengan sendirinya terlempar, tanda benang di tangannya telah
putus.
“Gagal.”
Aeza menatap kedepan. Ia sepertinya
terlambat. Bola energi panasnya sudah meluncur dan tepat mengenai dirinya dan
terpental jatuh kebawah gedung.
“AEZAAA...” Hime yang baru sadar hanya
bisa berteriak. Sambil menangis ia
merangkak ke ujung gedung. Betapa terkejutnya ketika ia melihat kebawah, ada
seseorang yang menangkap Aeza. Dan itu adalah
Aldi.
“Yap, tepat waktu.” ujarnya.
“A... Aldi?” Hime bingung.
“Lo gapapa?” tanya seorang perempuan
dibelakangnya. Itu Indry. Ada Ivan dibelakangnya.
“Tadi gue sempet liat pertarungan lo. Dan
kayaknya lo lagi dikendaliin seseorang. Tapi itu gak penting, sekarang ayo kita
bawa Aeza ke rumah sakit.” kata Indry.
Mereka semua pergi ke rumah sakit, Indry
yang menyetir mobil Hime.
“Sial. Padahal sebentar lagi kita dapet
adek kakak itu.” ujar Rio kesal. Menggebrak meja.
“Kita bikin rencana lagi. Mumpung seminggu
lagi libur akhir tahun.” jawab Yuko tenang.
“Kumpulkan semua anggota. Kita bikin
rencana baru, latihan sembari gue mencari anak baru yang punya kekuatan.”
Tidak ada komentar:
Posting Komentar