Sudah dua hari Aeza terbaring di rumah
sakit dan belum sadar sejak kejadian itu. Hime tak henti-hentinya menyesali
perbuatannya yang sebenarnya bukan kehendak dia. Sudah dua hari juga Hime
menginap disana.
“Hmmhh...” Aeza terbangun setelah tiga
hari tak sadarkan diri. Mendapati dirinya terbaring di suatu ruangan, dengan
tangan diinfus dan mulutnya ditutup masker oksigen.
“Kakak.” Aeza melepas masker oksigen dan
mencoba membangunkan Hime yang tertidur di bangku samping dirinya. Kepala dan
kedua tangan di kasur Aeza.
Hime yang baru setengah sadar melihat Aeza
sudah membuka matanya. Tak lama ia menangis dan memeluk adiknya.
“Syukurlah lo udah bangun. Maafin gue ya.”
“Bukan salah kakak, kok. Mungkin energi
jahat itu yang ngendaiin tubuh kakak.”
Kini yang biasanya Hime selalu dilayani
oleh Aeza sekarang kebalikannya. Seperti mendorong kursi roda, karena serangan yang lalu
membuatnya lumpuh sementara. Menyuapi Aeza kadang si Aeza bisa sendiri,
menggendongnya ke kamar mandi juga ke kamarnya. Mengingat kamar mereka berada
diatas
“Nanti tidur dikamar gue aja ya.” ajak
Hime saat mereka sedang makan.
“Nggak usah, kak. Aku lagi pengen dikamar
sendiri dulu.” jawab Aeza.
“Yaah, biar gampang nanti kalo lo butuh
apa-apa.”
“Nggak apa-apa kak. Aku bisa berusaha
sendiri.”
“Yaudah gue ikut tidur dikamar lo aja deh.
Tapi lain kali tidur dikamar gue ya.”
Aeza mengangguk.
Pagi dini harinya Hime terbangun karena
suhu kamar Aeza sedikit panas meski sudah menyalakan kipas angin. Berbeda
dengan kamarnya yang dingin menggunakan AC. Disebelahnya tampak Aeza yang tidur
menghadap dinding, sangat pulas.
Air mata Hime kembali keluar dan
pikirannya kembali lagi pada waktu ia sering menyuruh-nyuruh Aeza. Sekarang
kini dirinya telah berubah dan berjanji untuk saling melindungi.
Sejam setelah itu Aeza yang bangun. Ia
melihat Hime tidur nyenyak dengan tak sedikit keringat di keningnya. Ia
mengerti suhu kamarnya panas. Dengan sedikit kekuatannya dan menyentuh dinding,
Aeza membuat suhu dikamarnya menjadi perlahan dingin seperti dikamar Hime.
Begitupun sebaliknya. Ketika
mereka tidur dikamar Hime, Aeza menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Meski
telah mematikan AC, hawa dingin tetap terasa. Tak mau Aeza kedinginan, Hime
mengeluarkan suhu hangat kedalam ranjangnya agar Aeza tak kedinginan lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar