Senin, 31 Agustus 2015

Mazna X Adara (Chapter 9) Anggota Baru



     Di dalam kelas...

     “Sialan tuh emang Rio. Seenaknya dia ngendaliin tubuh gue dan nyerang Aeza. Mana kelasannya dia libur lagi.” gerutu Hime.

     “Mau nggak mau kita harus kalahin dia dan kelompoknya. Kalo kelompoknya punya kekuatan, kita juga harus kalahin dengan kekuatan. Gue udah bicara sama temen-temen yang punya kekuatan super dan mereka juga mau kalahin mereka. Alasannya, temen terbaik mereka udah direkrut paksa sama Rio, dan mereka yang direkrut paksa itu juga punya kekuatan super. Ada juga yang emang dendam sama mereka. Mungkin bentar lagi mereka dateng.” kata Indry panjang lebar.

     “Salah satunya mereka mengambil temen kecil Ivan.” ujar Aldi kecewa.


     “Assalamualaikum.” salam Putri.

     Mereka berlima menjawab salam.

     “Aku gabung sama kalian takutnya kalo mereka menang, mereka pasti bakal merusak semuanya.” ujar Putri. Ia sangat tidak suka jika ada orang yang merusak dan mengotori lingkungan.

     Mereka akhirnya datang dengan waktu hampir bersamaan. Seperti Surya, Dharma dan Lara. Juga Doni.

     “Apa yang membuat kalian gabung sama kita?” tanya Aeza ramah.

     “Gue sebenernya males dan nggak mau ikut-ikutan. Tapi Putra ada disana. Jadi gue dan Aldi mau mengambil kembali sahabat kita.” jawab Surya yang sepertinya masih mengantuk.

     “Teman gue udah diajak paksa kesana. Kita gabung kesini untuk menyadarkan dia.” jawab Dharma.

     “Alasan gue sama kayak mereka. Gue mau ngajak Yudi berteman lagi sama gue. Meski gue belum tau apa kekuatan gue.” ujar Doni.

     “Alasan mereka semuanya sama.” kata Hime.

     “Kalo boleh tau, kekuatan lo apa ya, Lara?” tanya Indry.

     “Jadi burung Phoenix.” jawabnya singkat.

     “Waaw.” Aldi sedikit terkejut.



    “Yang ada didepan pintu, masuk aja kalo mau gabung.” Indry merasakan bau dan gerakan seseorang didepan pintu dengan telinga dan hidung sensitif bawaan kekuatannya.

     Dia yang disana terkejut karena menyadari kehadirannya. Dengan sangat pemalu ia masuk.

     “A... anu. Maaf.” Lily masuk sambil menundukkan kepalanya. Memeluk boneka.

     “Gapapa, Lily. Ayo gabung kita.” Putri menghampiri dan menarik tangannya.

     “Lo mau gabung sama kita? Katanya Mawar sama Melati, sahabat lo bergabung disana. Kita akan bantu lo jelasin kesalahpahaman antara mereka dan lo selama ini.” ajak Indry.

     “Mawar, Melati...” Lily bergumam.

     “Bo...boleh.” jawabnya malu-malu.

     “Yaudah, jadi gini rencananya...” usul Indry.




     Di atap rumah kediaman Rio...

     “Gue udah merekrut beberapa pengikut yang memiliki kekuatan kayak kita. Tapi tenang, mereka semua adalah bawahan kalian karena kalian adalah anggota gue yang paling hebat.” ujar Rio.

     “Dengan ini kita bakal kuasai sekolah. Kalo perlu seisi kota.” ujarnya lagi. Mengepalkan tangannya.

     Putra dan Yudi mengangguk yakin.

     “Asiiik.” Melati gembira dan sesekali tepuk tangan. Ditambah lagi, ia baru saja membeli jaket sweater lembut berwarna hijau bersleting. Tudungnya terdapat hiasan telinga dan mata.

     “Hmmf. Bocah ingusan  itu keliatannya seneng banget.” kata Yudi dalam hati.

     “Kak, kak.” panggil Melati. Membisikkan sesuatu ke telinga Mawar.

     “Selain itu, kita kedatangan satu anggota lagi.”



     “Haaaii.” sapa perempuan itu dengan ramah. Memakai topi kerucut yang ujungnya layu dan mengenakan jubah, mengenakan kostum penyihir. Bagian paling bawah jubah dan baju terusan batik yang dikenakannya tampak tak karuan, seperti robek-robek dan digunting asal-asalan.

     “Muncul lagi yang aneh.” gumam Yuko.

     “Kenalin, aku  Anggrek.”

     “Kamu undang cosplayer Harry Potter nyasar kesini?” tanya Mawar.

     “Jangan begitu, Mawar. Dia temen sekelas gue. Dia lebih hebat dari lo.” ujar Rio.

     “Aku tak percaya orang aneh ini lebih hebat dariku.” Mawar meremehkannya.

     “Bagaimana kalo kita buktikan.” usul Anggrek.

     “Boleh.”

     Mawar mengambil senjata besar yang terbungkus kain dibelakang punggungnya. Tampaklah sebuah Scythe-Axe, sabit berkepala dua yang panjang setengah tubuhnya. Namun kepala satunya lagi adalah kapak. Panjang tongkat sabit itu setinggi tubuh Mawar.

     “Aku juga punya.”

     Secara ajaib muncullah sebuah tongkat kayu yang panjang namun tidak lurus setinggi dirinya juga.  Ujung atasnya melingkar dan terdapat bola hitam ditengah lingkaran itu. Dibawahnya terdapat tiga buah benang yang masing-masing terdapat bola lonceng dan bulu merak.

     “Tadi penyihir. Sekarang tongkat sinterklas. Maunya apa? Apa nanti keluar sapu terbang juga?” ejek Mawar sambil senyum.

     “Itu aku sudah punya. Ayo mulai.”

     Mata anggrek seluruhnya berwarna ungu dan menyala dan dirinya melayang beberapa centi. Kakinya tak nampak.

     “Bersiaplah.” Mawar menghunuskan sabitnya yang diujung matanya terdapat cairan ungu.


     Mawar melompat sangat cepat kedepan dan melayangkan sabit besarnya. Anggrek sedikit terkejut dan menghindari sabit besar itu. Jarak sabit dan matanya hanya berjarak 5cm. Nyaris membuat buta seketika.


     “Hampir.” Anggrek mengatur nafas.

     “Sepertinya cairan itu beracun.” kata Anggrek.

     “Memang. Dan ini lebih berbahaya daripada racun ular kobra.”

     “Siapa?” tanya Anggrek.

     “Racunku.”

     “Yang nanya? Weee.” ejek Anggrek memeletkan lidahnya.

     “Kurang ajar.” Mawar murka.  Ia menyerang kembali dan Anggrek menangkis dengan tongkatnya. Kedua tongkat saling beradu dan mengeluarkan sedikit percikan api ketika berbenturan.


     “Kita bertarung di lapangan saja.”

     Tangan Anggrek yang menganggur kini mengeluarkan bola hijau bercahaya di telapaknya dan langsung menyerang tubuh Mawar hingga terpental jatuh ke tengah lapangan kosong dibawah sana.



     “Kak Mawar.” Melati khawatir.

     “Heee, kamu tiruannya ya?” tanya Anggrek saat melihat Melati sangat mirip dengan Mawar.

     “Sembarangan. Aku saudara kembarnya tau!” bentak Melati.

     “Ya, ya maaf. Ya ampun, kakak-beradik ini sama-sama sentimen, hehe.”

     Anggrek terbang turun ke lapangan sana.


     “Masih kuat?” tanya Anggrek.

     “Serangan lembek ini mana mungkin menghentikanku.”

     “Baiklah. Kalau ini gimana?”

     Anggrek memutarkan tongkatnya secara cepat dan membenturkan pijakan tongkatnya ke tanah. Bola hitam di tengah lingkaran tongkat itu menyala dan tanah bergetar. Muncul belasan tulang belulang hidup dan bangkit dari tanah lalu menyerbu Mawar.

   “Merepotkan. Seperti penyihir saja.” ujar Mawar. Menghabisi belasan tengkorak dengan menggunakan kepala sabit yang berbentuk kapak.

     “Aku memang penyihir. Cahaya dari batu yang jatuh itu memberiku kekuatan sihir. Aku bisa menyihir apapun yang kusuka. Bisa saja aku langsung menyihirmu menjadi kodok, tapi itu tidak seru. Bola besar dan cincin yang terbuat dari emas hitam ini sudah melekat sesaat setelah kejadian itu dan tak bisa kulepas.” jelas Anggrek. Menunjukkan cincin hitam di kelingking kanannya.


     “Apa?” Mawar terkejut. Tengkorak yang sudah berantakan kembali seperti semula.

     “Benar-benar merepotkan.” Mawar berputar cepat searah jarum jam. Dalam sekejap tengkorak itu hancur tak berbentuk. Ia juga menghilang saking cepatnya.

     Anggrek cepat merunduk ketika merasakan aura dibelakang tubuhnya. Mawar sudah dibelakangnya dan dengan cepat mensabet Anggrek.

     “Seperti dewa kematian.” gumam Anggrek.

     Hasilnya Mawar kalah cepat. Ia hanya mengenai rambut panjang Anggrek yang membuat tadinya rambut Anggrek sepinggang kini terpotong hingga tersisa sampai pundaknya.

     “Jangan menyerang dari belakang. Itu curang.” kata Anggrek. Melepaskan tongkatnya dan mengarahkan kedua tangan ke perut Mawar. Tangan itu  mengeluarkan bola hijau seperti tadi dan menyerang Mawar hingga terpental menabrak tiang basket. Mawar tak sanggup lagi berdiri saking lemahnya.

     “Udah gue bilang kan.” kata Rio kepada mereka.

     “Kak Mawar.” Melati berlari dan turun kebawah.

     “Aku pulang dulu ya. Laper nih. Daah.”

     Mata Anggrek kembali seperti semula dan tak melayang lagi. Tongkatnya langsung menghilang dan ia pergi. Topinya yang masih diatas terbang dan mendarat di kepalanya.



     “Ada makanan apa ya di hari terakhirku di panti asuhan?” Anggrek bicara sendiri. Lalu ia berlari untuk menghilangkan rasa penasarannya.

     “Tapi sebelumnya ke salon dulu ah, rapiin rambut ini. Main potong aja cewek sentimen itu.”


     Anggrek kini telah resmi meninggalkan panti asuhan. Tempat yang membesarkannya selama 12 tahun. Ia ingin pindah karena tak mau merepotkan pengurus disana, lagipula ia juga yang paling senior disana yang didominasi oleh anak-anak 10 tahun dan kebawah.


     Mungkin Anggrek orang yang mendapatkan keberuntungan dua kali. Pertama ada yang mau merawatnya di panti asuhan. Kedua, beberapa hari lalu ia dapat pekerjaan membersihkan kebun di villa yang ditempati orang asing yang sangat kaya karena telah mengembalikan dompetnya yang terjatuh dan isinya masih utuh. Pekerjaannya juga sangat rapih. Suatu hari saat ia hendak kembali ke villa karena pulang dulu ke panti asuhan, Anggrek melihat tuannya (orang asing) itu sekarat. Habis dihajar pikirnya, dan membawanya ke rumah sakit.

     Orang asing itu merasa sangat tertolong dan memberi sedikit hadiah kepada Anggrek karena telah bersikap jujur dan bertanggung jawab. Namun Anggrek mengatakan hadiahnya terlalu besar, sekitar 2 milyar. Namun orang asing itu tak suka jika menolak tawaran yang diberikannya. Jadilah Anggrek menerima uang sebanyak itu. Ia menyumbangkan sebanyak 600 juta untuk panti asuhan yang telah membesarkannya. Sisanya ia membeli rumah sederhana dan membeli untuk keperluannya.


     “Aduh, laper. Tapi masih berantakan. Oh iya.”

     Anggrek memunculkan tongkat besarnya dan men-summon beberapa minion tulang-belulang tadi. Ia menyihir mereka agar berpenampilan seperti kuli bangunan sementara ia pergi membeli makanan.

    

     “Masih laper. Padahal tadi udah dua piring penuh.” Anggrek berkata sendiri. Memegangi perutnya yang masih butuh asupan. Nafsu makannya lumayan besar namun tak merubah bentuk badannya yang langsing itu.

     Hingga akhirnya ia menemukan warung mie ayam tak lama ia berjalan.

     “Bang, mie ayam satu mangkok ya.” pesannya. Tak lama pesanan datang dan Anggrek langsung melahapnya.

     Baru dua sruputan mie, ada seorang anak kecil datang menghampirinya.

     “Kak, kasian kak. Belum makan.” ujarnya. Anggrek merasa kasihan dan teringat anak-anak di panti asuhan tempatnya dulu.

     “Yaudah kamu duduk sebelah kakak. Sekarang kamu pesan makanan sana.” kata Anggrek tersenyum mengelus-elus kepala anak itu.

Mazna X Adara (Chapter 8) Cinta



     Sudah dua hari Aeza terbaring di rumah sakit dan belum sadar sejak kejadian itu. Hime tak henti-hentinya menyesali perbuatannya yang sebenarnya bukan kehendak dia. Sudah dua hari juga Hime menginap disana.

     “Hmmhh...” Aeza terbangun setelah tiga hari tak sadarkan diri. Mendapati dirinya terbaring di suatu ruangan, dengan tangan diinfus dan mulutnya ditutup masker oksigen.

     “Kakak.” Aeza melepas masker oksigen dan mencoba membangunkan Hime yang tertidur di bangku samping dirinya. Kepala dan kedua tangan di kasur Aeza.

     Hime yang baru setengah sadar melihat Aeza sudah membuka matanya. Tak lama ia menangis dan memeluk adiknya.

     “Syukurlah lo udah bangun. Maafin gue ya.”

     “Bukan salah kakak, kok. Mungkin energi jahat itu yang ngendaiin tubuh kakak.”


     Kini yang biasanya Hime selalu dilayani oleh Aeza sekarang kebalikannya. Seperti mendorong  kursi roda, karena serangan yang lalu membuatnya lumpuh sementara. Menyuapi Aeza kadang si Aeza bisa sendiri, menggendongnya ke kamar mandi juga ke kamarnya. Mengingat kamar mereka berada diatas

     “Nanti tidur dikamar gue aja ya.” ajak Hime saat mereka sedang makan.

     “Nggak usah, kak. Aku lagi pengen dikamar sendiri dulu.” jawab Aeza.

     “Yaah, biar gampang nanti kalo lo butuh apa-apa.”

     “Nggak apa-apa kak. Aku bisa berusaha sendiri.”

     “Yaudah gue ikut tidur dikamar lo aja deh. Tapi lain kali tidur dikamar gue ya.”

     Aeza mengangguk.


     Pagi dini harinya Hime terbangun karena suhu kamar Aeza sedikit panas meski sudah menyalakan kipas angin. Berbeda dengan kamarnya yang dingin menggunakan AC. Disebelahnya tampak Aeza yang tidur menghadap dinding, sangat pulas.

     Air mata Hime kembali keluar dan pikirannya kembali lagi pada waktu ia sering menyuruh-nyuruh Aeza. Sekarang kini dirinya telah berubah dan berjanji untuk saling melindungi.


     Sejam setelah itu Aeza yang bangun. Ia melihat Hime tidur nyenyak dengan tak sedikit keringat di keningnya. Ia mengerti suhu kamarnya panas. Dengan sedikit kekuatannya dan menyentuh dinding, Aeza membuat suhu dikamarnya menjadi perlahan dingin seperti dikamar Hime.

     Begitupun sebaliknya. Ketika mereka tidur dikamar Hime, Aeza menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Meski telah mematikan AC, hawa dingin tetap terasa. Tak mau Aeza kedinginan, Hime mengeluarkan suhu hangat kedalam ranjangnya agar Aeza tak kedinginan lagi.

Mazna X Adara (Chapter 7) Maaf



     Serangan dimulai dari Hime dengan api hitamnya dan mengeluarkan bola api besar. Aeza berhasil menghindarinya.  Selanjutnya Hime kembali mengeluarkan kembali bola api namun dengan ukuran yang kecil dan sangat banyak seperti peluru menghantam Aeza bertubi-tubi, tapi ditangkis dengan perisai air besar Aeza.

     Dengan sekali lompatan yang cepat dan jauh kedepan, Hime berhasil menghancurkan perisai air itu dengan sekali tendangan keras mengenai tubuh Aeza dan mulai bertarung jarak dekat. Pengaruh bola energi yang dimasukkan kedalam tubuhnya membuat gerakannya menjadi sangat cepat dan pengaruh jahat yang kuat.

     Aeza tak mampu menangkis serangan supersonik Hime dan beberapa kali tinju api itu mengenai tubuhnya. Setiap bagian tubuh yang terkena pukulan membuat perisai air di tubuhnya langsung menguap.

     Hime melakukan serangan terakhir dengan menendang tubuh adiknya hinga membuatnya mundur sejauh tiga meter.

     Langsung ia membuat segitiga dengan kedua tangannya dan ditempelkan ke mulutnya. Hime menyemburkan api hitam yang sangat besar dan langsung mengenai seluruh tubuh Aeza.

     Aeza tampak ngos-ngosan, air pelindung di tubuhnya sudah menipis. Sedangkan Hime tampak biasa saja.

     Spontan Hime kehilangan keseimbangan dan jatuh kesamping. Aeza membuat cambuk dari air dan menyerang kaki Hime tanpa ia sadari.

     Namun ia segera bangkit dan bersiap menyerang Aeza yang memejamkan mata dengan tinju apinya.
    
     “Maaf ya kak.”

     Aeza membuka mata dan merentangkan kedua tangannya. Terdapat angin yang sangat dingin dari telapak tangan Aeza menyerang tubuh Hime. Angin tersebut lama-lama membuatnya tak bisa bergerak dan tubuhnya mengeras. Aeza menambah lagi kekuatannya, hingga akhirnya Hime membeku dan terperangkap didalam bongkahan es buatan Aeza.

     Namun rasa sayang Aeza terhadap Hime sangatlah besar. Ia mencairkan sebagian es di kepalanya. Jadi hanya bagian kepala sampai bawah hidung saja yang tak membeku. Terlihat Hime tampak sangat kedinginan.

     Aeza jatuh terduduk lemas. Tak mudah baginya bertarung jika belum memiliki sama sekali pengalaman.

     Hime kembali membuka mata tanpa Aeza sadari. Nafas panas yang keluar dari hidungnya membantu es tersebut mencair. Aeza yang baru menyadarinya terkejut dan dengan segera Hime menghancurkan es yang mengurung dirinya. Pecahan es terpental demikian juga Aeza.

     Tak ada lagi yang bisa dilakukan Aeza. Tenaganya hampir terkuras habis. Sementara Hime datang mendekatinya.

     Secara tak terduga Aeza yang lemas langsung bangkit dan mendorong perut Hime dengan tubuhnya sambil dipeluk. Membuat langkah majunya terhenti.

     “Kakaak. Sadar kak!” Aeza menangis.

     “Lepaskan.”

     “Aku gak bakal lepasin sampai kakak sadar.”

     “Lepaskan.”

     Hime terus meninju punggung sampai kepala Aeza hingga mengeluarkan darah dari kepalanya. Tapi Aeza takkan menyerah begitu saja. Sampai tubuh Hime diselimuti api untuk melindungi dirinya, Aeza melindungi dirinya dengan perisai air secara bersamaan hingga kedua elemen yang saling beradu itu mengeluarkan uap asap.

      “Cukup.”

     Hime mulai mencekik Aeza dan meninju perutnya, kemudian mengangkatnya ke udara dengan satu tangan. Tangan kirinya memegang perut Aeza dan diangkat keatas. Dengan sekuat tenaga Aeza dilemparnya hingga terguling menabrak dinding.

     Hime terkejut. Aeza masih bisa bangun dengan kondisi sangat lemah seperti itu.

     “Maafin aku, kak. Terpaksa aku pake kekuatan rahasia ini.” Aeza memejamkan matanya.

     Hime yang ingin menyerang tiba-tiba tak bisa menggerakkan tubuhnya. Aeza membuka mata, pupinya kini menjadi merah darah.

     Pandangan matanya bisa melihat tembus kedalam tubuh. Aeza melihat ada bola aneh yang berada di lambung kakaknya. Ia mencoba memuntahkan kembali isi perut kakaknya.

     Kekuatan tingkat tiga Aeza merupakan pengendali darah karena darah merupakan benda cair. Sama seperti Yuko yang bisa mengendalikan tubuh seseorang, namun ini lebih berbahaya. Posisi Aeza kini pun sedang tidak sadar seperti Hime.

     Hime yang tak bisa bergerak sesaat mulai mual. Dan memuntahkan semua isi perutnya. Keluarlah bola aneh itu dan Aeza menginjaknya sampai hancur saat menggelinding kearahnya. Aeza melepaskan kakaknya, dan kembali ke mode biasa.

     “Kakak...”

     “Aeza.”

      Hime sudah sepenuhnya sadar jiwanya, tapi tubuhnya masih belum bisa bergerak. Hime terkejut karena benang-benang tipis Yuko masih melekat ditubuhnya.

     “Apa itu garis tipis yang mengikat tangan sama kaki kak Hime?” beruntung Aeza menyadarinya. Dan membuat sebilah es yang tipis dan tajam untuk memotong benang itu.

     Namun tubuh Hime kembali bergerak sendiri dan dalam posisi tubuhnya seperti ingin kamekameha. Mengumpulkan energi panas.

     “Aeza cepeet.” teriak Hime dalam jiwanya. Ia menutup mata tak mau melihat hal ini.

     Aeza melempar es itu, dan berhasil. Benang yang mengikat tubuh Hime sudah putus semua.

     Di kediaman Yuko...

     Tangannya yang sedari tadi tertarik sendiri kini dengan sendirinya terlempar, tanda benang di tangannya telah putus.

     “Gagal.”


     Aeza menatap kedepan. Ia sepertinya terlambat. Bola energi panasnya sudah meluncur dan tepat mengenai dirinya dan terpental jatuh kebawah gedung.

     “AEZAAA...” Hime yang baru sadar hanya bisa berteriak. Sambil menangis  ia merangkak ke ujung gedung. Betapa terkejutnya ketika ia melihat kebawah, ada seseorang yang menangkap Aeza. Dan itu adalah  Aldi.

     “Yap, tepat waktu.” ujarnya.

     “A... Aldi?” Hime bingung.

     “Lo gapapa?” tanya seorang perempuan dibelakangnya. Itu Indry. Ada Ivan dibelakangnya.

     “Tadi gue sempet liat pertarungan lo. Dan kayaknya lo lagi dikendaliin seseorang. Tapi itu gak penting, sekarang ayo kita bawa Aeza ke rumah sakit.” kata Indry.

     Mereka semua pergi ke rumah sakit, Indry yang menyetir mobil Hime.


     “Sial. Padahal sebentar lagi kita dapet adek kakak itu.” ujar Rio kesal. Menggebrak meja.

     “Kita bikin rencana lagi. Mumpung seminggu lagi libur akhir tahun.” jawab Yuko tenang.

     “Kumpulkan semua anggota. Kita bikin rencana baru, latihan sembari gue mencari anak baru yang punya kekuatan.”