Di dalam kelas...
“Sialan tuh emang Rio. Seenaknya dia
ngendaliin tubuh gue dan nyerang Aeza. Mana kelasannya dia libur lagi.” gerutu
Hime.
“Mau nggak mau kita harus kalahin dia dan
kelompoknya. Kalo kelompoknya punya kekuatan, kita juga harus kalahin dengan
kekuatan. Gue udah bicara sama temen-temen yang punya kekuatan super dan mereka
juga mau kalahin mereka. Alasannya, temen terbaik mereka udah direkrut paksa
sama Rio, dan mereka yang direkrut paksa itu juga punya kekuatan super. Ada
juga yang emang dendam sama mereka. Mungkin bentar lagi mereka dateng.” kata
Indry panjang lebar.
“Salah satunya mereka mengambil temen
kecil Ivan.” ujar Aldi kecewa.
“Assalamualaikum.” salam Putri.
Mereka berlima menjawab salam.
“Aku gabung sama kalian takutnya kalo
mereka menang, mereka pasti bakal merusak semuanya.” ujar Putri. Ia sangat
tidak suka jika ada orang yang merusak dan mengotori lingkungan.
Mereka akhirnya datang dengan waktu hampir
bersamaan. Seperti Surya, Dharma dan Lara. Juga Doni.
“Apa yang membuat kalian gabung sama
kita?” tanya Aeza ramah.
“Gue sebenernya males dan nggak mau ikut-ikutan.
Tapi Putra ada disana. Jadi gue dan Aldi mau mengambil kembali sahabat kita.”
jawab Surya yang sepertinya masih mengantuk.
“Teman gue udah diajak paksa kesana. Kita
gabung kesini untuk menyadarkan dia.” jawab Dharma.
“Alasan gue sama kayak mereka. Gue mau
ngajak Yudi berteman lagi sama gue. Meski gue belum tau apa kekuatan gue.” ujar
Doni.
“Alasan mereka semuanya sama.” kata Hime.
“Kalo boleh tau, kekuatan lo apa ya,
Lara?” tanya Indry.
“Jadi burung Phoenix.” jawabnya singkat.
“Waaw.” Aldi sedikit terkejut.
“Yang ada didepan pintu, masuk aja kalo
mau gabung.” Indry merasakan bau dan gerakan seseorang didepan pintu dengan
telinga dan hidung sensitif bawaan kekuatannya.
Dia yang disana terkejut karena menyadari
kehadirannya. Dengan sangat pemalu ia masuk.
“A... anu. Maaf.” Lily masuk sambil
menundukkan kepalanya. Memeluk boneka.
“Gapapa, Lily. Ayo gabung kita.” Putri
menghampiri dan menarik tangannya.
“Lo mau gabung sama kita? Katanya Mawar
sama Melati, sahabat lo bergabung disana. Kita akan bantu lo jelasin
kesalahpahaman antara mereka dan lo selama ini.” ajak Indry.
“Mawar,
Melati...” Lily bergumam.
“Bo...boleh.” jawabnya malu-malu.
“Yaudah, jadi gini rencananya...” usul Indry.
Di atap rumah kediaman Rio...
“Gue udah merekrut beberapa pengikut yang
memiliki kekuatan kayak kita. Tapi tenang, mereka semua adalah bawahan kalian
karena kalian adalah anggota gue yang paling hebat.” ujar Rio.
“Dengan ini kita bakal kuasai sekolah.
Kalo perlu seisi kota.” ujarnya lagi. Mengepalkan tangannya.
Putra dan Yudi mengangguk yakin.
“Asiiik.” Melati gembira dan sesekali
tepuk tangan. Ditambah lagi, ia baru saja membeli jaket sweater lembut berwarna
hijau bersleting. Tudungnya terdapat hiasan telinga dan mata.
“Hmmf.
Bocah ingusan itu keliatannya seneng
banget.” kata Yudi dalam hati.
“Kak, kak.” panggil Melati. Membisikkan
sesuatu ke telinga Mawar.
“Selain itu, kita kedatangan satu anggota
lagi.”
“Haaaii.” sapa perempuan itu dengan ramah.
Memakai topi kerucut yang ujungnya layu dan mengenakan jubah, mengenakan kostum
penyihir. Bagian paling bawah jubah dan baju terusan batik yang dikenakannya tampak
tak karuan, seperti robek-robek dan digunting asal-asalan.
“Muncul lagi yang aneh.” gumam Yuko.
“Kenalin, aku Anggrek.”
“Kamu undang cosplayer Harry Potter nyasar
kesini?” tanya Mawar.
“Jangan begitu, Mawar. Dia temen sekelas
gue. Dia lebih hebat dari lo.” ujar Rio.
“Aku tak percaya orang aneh ini
lebih hebat dariku.” Mawar meremehkannya.
“Bagaimana kalo kita buktikan.” usul
Anggrek.
“Boleh.”
Mawar mengambil senjata besar yang
terbungkus kain dibelakang punggungnya. Tampaklah sebuah Scythe-Axe, sabit
berkepala dua yang panjang setengah tubuhnya. Namun kepala satunya lagi adalah kapak.
Panjang tongkat sabit itu setinggi tubuh Mawar.
“Aku juga punya.”
Secara ajaib muncullah sebuah
tongkat kayu yang panjang namun tidak lurus setinggi dirinya juga. Ujung atasnya melingkar dan terdapat bola
hitam ditengah lingkaran itu. Dibawahnya terdapat tiga buah benang yang
masing-masing terdapat bola lonceng dan bulu merak.
“Tadi penyihir. Sekarang tongkat
sinterklas. Maunya apa? Apa nanti keluar sapu terbang juga?” ejek Mawar sambil
senyum.
“Itu aku sudah punya. Ayo mulai.”
Mata anggrek seluruhnya berwarna ungu dan
menyala dan dirinya melayang beberapa centi. Kakinya tak nampak.
“Bersiaplah.” Mawar menghunuskan sabitnya
yang diujung matanya terdapat cairan ungu.
Mawar melompat sangat cepat kedepan dan
melayangkan sabit besarnya. Anggrek sedikit terkejut dan menghindari sabit
besar itu. Jarak sabit dan matanya hanya berjarak 5cm. Nyaris membuat buta
seketika.
“Hampir.” Anggrek mengatur nafas.
“Sepertinya cairan itu beracun.” kata
Anggrek.
“Memang. Dan ini lebih berbahaya daripada
racun ular kobra.”
“Siapa?” tanya Anggrek.
“Racunku.”
“Yang nanya? Weee.” ejek Anggrek
memeletkan lidahnya.
“Kurang ajar.” Mawar murka. Ia menyerang kembali dan Anggrek menangkis
dengan tongkatnya. Kedua tongkat saling beradu dan mengeluarkan sedikit
percikan api ketika berbenturan.
“Kita bertarung di lapangan saja.”
Tangan Anggrek yang menganggur kini
mengeluarkan bola hijau bercahaya di telapaknya dan langsung menyerang tubuh
Mawar hingga terpental jatuh ke tengah lapangan kosong dibawah sana.
“Kak Mawar.” Melati khawatir.
“Heee, kamu tiruannya ya?” tanya Anggrek
saat melihat Melati sangat mirip dengan Mawar.
“Sembarangan. Aku saudara kembarnya tau!”
bentak Melati.
“Ya, ya maaf. Ya ampun, kakak-beradik ini
sama-sama sentimen, hehe.”
Anggrek terbang turun ke lapangan sana.
“Masih kuat?” tanya Anggrek.
“Serangan lembek ini mana mungkin
menghentikanku.”
“Baiklah. Kalau ini gimana?”
Anggrek memutarkan tongkatnya secara cepat
dan membenturkan pijakan tongkatnya ke tanah. Bola hitam di tengah lingkaran
tongkat itu menyala dan tanah bergetar. Muncul belasan tulang belulang hidup
dan bangkit dari tanah lalu menyerbu Mawar.
“Merepotkan. Seperti penyihir saja.” ujar
Mawar. Menghabisi belasan tengkorak dengan menggunakan kepala sabit yang
berbentuk kapak.
“Aku memang penyihir. Cahaya dari batu
yang jatuh itu memberiku kekuatan sihir. Aku bisa menyihir apapun yang kusuka. Bisa
saja aku langsung menyihirmu menjadi kodok, tapi itu tidak seru. Bola besar dan
cincin yang terbuat dari emas hitam ini sudah melekat sesaat setelah kejadian
itu dan tak bisa kulepas.” jelas Anggrek. Menunjukkan cincin hitam di
kelingking kanannya.
“Apa?” Mawar terkejut. Tengkorak yang
sudah berantakan kembali seperti semula.
“Benar-benar merepotkan.” Mawar berputar
cepat searah jarum jam. Dalam sekejap tengkorak itu hancur tak berbentuk. Ia
juga menghilang saking cepatnya.
Anggrek cepat merunduk ketika merasakan
aura dibelakang tubuhnya. Mawar sudah dibelakangnya dan dengan cepat mensabet
Anggrek.
“Seperti dewa kematian.” gumam Anggrek.
Hasilnya Mawar kalah cepat. Ia hanya
mengenai rambut panjang Anggrek yang membuat tadinya rambut Anggrek sepinggang
kini terpotong hingga tersisa sampai pundaknya.
“Jangan menyerang dari belakang. Itu
curang.” kata Anggrek. Melepaskan tongkatnya dan mengarahkan kedua tangan ke
perut Mawar. Tangan itu mengeluarkan
bola hijau seperti tadi dan menyerang Mawar hingga terpental menabrak tiang
basket. Mawar tak sanggup lagi berdiri saking lemahnya.
“Udah gue bilang kan.” kata Rio kepada
mereka.
“Kak Mawar.” Melati berlari dan turun
kebawah.
“Aku pulang dulu ya. Laper nih. Daah.”
Mata Anggrek kembali seperti semula dan
tak melayang lagi. Tongkatnya langsung menghilang dan ia pergi. Topinya yang
masih diatas terbang dan mendarat di kepalanya.
“Ada makanan apa ya di hari terakhirku di
panti asuhan?” Anggrek bicara sendiri. Lalu ia berlari untuk menghilangkan rasa
penasarannya.
“Tapi sebelumnya ke salon dulu ah, rapiin
rambut ini. Main potong aja cewek sentimen itu.”
Anggrek kini telah resmi meninggalkan
panti asuhan. Tempat yang membesarkannya selama 12 tahun. Ia ingin pindah
karena tak mau merepotkan pengurus disana, lagipula ia juga yang paling senior
disana yang didominasi oleh anak-anak 10 tahun dan kebawah.
Mungkin Anggrek orang yang mendapatkan
keberuntungan dua kali. Pertama ada yang mau merawatnya di panti asuhan. Kedua,
beberapa hari lalu ia dapat pekerjaan membersihkan kebun di villa yang
ditempati orang asing yang sangat kaya karena telah mengembalikan dompetnya yang
terjatuh dan isinya masih utuh. Pekerjaannya juga sangat rapih. Suatu hari saat
ia hendak kembali ke villa karena pulang dulu ke panti asuhan, Anggrek melihat
tuannya (orang asing) itu sekarat. Habis dihajar pikirnya, dan membawanya ke
rumah sakit.
Orang asing itu merasa sangat tertolong dan memberi sedikit hadiah
kepada Anggrek karena telah bersikap jujur dan bertanggung jawab. Namun Anggrek
mengatakan hadiahnya terlalu besar, sekitar 2 milyar. Namun orang asing itu tak
suka jika menolak tawaran yang diberikannya. Jadilah Anggrek menerima uang
sebanyak itu. Ia menyumbangkan sebanyak 600 juta untuk panti asuhan yang telah
membesarkannya. Sisanya ia membeli rumah sederhana dan membeli untuk
keperluannya.
“Aduh, laper. Tapi masih berantakan. Oh
iya.”
Anggrek memunculkan tongkat besarnya dan
men-summon beberapa minion tulang-belulang tadi. Ia menyihir mereka agar
berpenampilan seperti kuli bangunan sementara ia pergi membeli makanan.
“Masih laper. Padahal tadi udah dua piring
penuh.” Anggrek berkata sendiri. Memegangi perutnya yang masih butuh asupan.
Nafsu makannya lumayan besar namun tak merubah bentuk badannya yang langsing
itu.
Hingga akhirnya ia menemukan warung mie
ayam tak lama ia berjalan.
“Bang, mie ayam satu mangkok ya.”
pesannya. Tak lama pesanan datang dan Anggrek langsung melahapnya.
Baru dua sruputan mie, ada seorang anak
kecil datang menghampirinya.
“Kak, kasian kak. Belum makan.” ujarnya.
Anggrek merasa kasihan dan teringat anak-anak di panti asuhan tempatnya dulu.
“Yaudah kamu duduk sebelah kakak. Sekarang
kamu pesan makanan sana.” kata Anggrek tersenyum mengelus-elus kepala anak itu.