Di aula serbaguna...
“Disini cukup nyaman tempatnya.” ujar Rio.
Melompat dan duduk di kursi yang ditumpuk-tumpuk keatas, membuatnya seperti
raja.
“Terserah.” ucap seorang perempuan.
Menyalakan sebagian lampu aula lalu ia bersandar di sisi gelap dinding samping
Rio.
“Ayolah, Yuko.” ajak Rio. Menawarkan kursi
yang ditumpuk juga namun lebih rendah dari Rio.
“Lo masih nanya kenapa?” tanya balik Yuko
dengan melirik Rio.
“Tentang perjodohan kita dengan kedua
orang tua kita??”
“Kalaupun gak dijodohin, gue tetep ngga
suka. Gue juga punya standar tersendiri kali.”
Dengan cepat Rio berada dihadapan Yuko yang
menatap dingin dan memegang pipinya.
“Dengar, yang perlu lo lakukan hanya
turuti kemauan gue. Ingat siapa yang menyelamatkan lo dan keluarga lo dari
jerat hutang dan kemiskinan, sehingga lo bisa berada di sekolah elit ini. Lo
menginginkan sesuatu dari keluarga gue, dan gue juga mau minta sesuatu dari
keluarga lo. Cukup adil, bukan?”
Yuko merasa tertegun, dengan terpaksa ia mengangguk
pertanda setuju. Ia sangat tidak suka dengan sifat Rio yang terkadang sangat
serius dan dingin, lalu sifatnya berubah menjadi konyol. Seperti dua
kepribadian dalam satu tubuh. Selain itu ia juga tipe orang yang memaksa dan
tak suka ditolak.
“Ngomong-ngomong, mana yang lain?” Rio bingung.
Kilat kuning menyambar tepat didepan mereka.
“Apa sudah ngumpul semua?”
“Ah, Putra. Baru lo doang yang dateng.”
jawab Rio dingin. Putra lah yang muncul dibalik kilat itu.
“Yah, seperti biasa ya selalu gue yang
pertama, hehe.” keluhnya disertai senyum tawa.
Tak lama terdegar suara seekor burung
gagak dan burung tersebut masuk melalui jendela atas. Gagak itu perlahan turun
lalu menjadi manusia, sayapnya membesar dan menyambung di punggung orang itu.
Bulu-bulu sayapnya jatuh beberapa.
“Yo.” sambut Putra.
“Mana anggota barunya? Cantik nggak?”
“Sabarlah, bro Yudi. Kelamaan jomblo nih.”
jawab Putra dengan senyuman.
“Mereka datang.” Rio menduga.
Gagang pintu bulat diujung sana berputar. Dua orang muncul di kegelapan pintu itu.
“Ternyata sudah disini.” ujar yang jalan paling depan dan mendekat pada mereka. Nadanya ramah dan matanya terlihat antusias.
“Kak, apa si bodoh yang duduk di kursi itu
bos kita?” tanya-nya polos.
“Kurang ajar.” Rio merasa tersinggung bila
ada yang menghinanya bodoh. Dengan cepat ia mengayunkan tongkat didekatnya dan
menyerang pundak kiri gadis itu.
“Jadi ini kekuatannya.” Rio yang awalnya
terkejut perlahan senyum. Ia tak bisa menarik kembali tongkat yang dipukulnya
karena merekat kuat pada pundak gadis itu. Malah gadis itu terlihat santai
sambil memakan bunga melati.
“Hanya bercanda, pak bos.” ujarnya sambil
senyum.
“Mel, kamu gapapa?” tanya kakaknya
dibelakang. Terlihat sangat mirip, hanya saja sang kakak memakai kacamata.
“Gapapa, kak Mawar.” jawabnya. Ia merebut
tongkat yang menempel itu dan mematahkannya.
“Pfft. Mawar? Kayak nama korban pemerkosaan.” Yudi menahan tawa.
Seketika nafsu tawanya terhenti. Mawar langsung dibelakangnya, tangannya memegang kening Yudi, satunya menodongkan kuku-kuku tajam ke leher Yudi yang siap untuk digaruk hingga lehernya sobek. Meneteskan cairan bening warna ungu dari tangannya. Mereka semua memandang Yudi tanpa ekspresi.
“Hati-hati jika berbicara.” ucap Mawar dengan tatapan kosong.
“Cairan racunku ini lebih berbahaya dari
racun ikan fugu dan ular kobra.”
“Berani sekali dia berkata seperti itu ke
kak Mawar.” ujar Melati dalam hatinya.
“Hmm, wajah yang manis dengan tatapan
kosong dan nada yang datar seperti psikopat. Bodoh banget Yudi, dasar anak
pindahan!” pikir Putra.
“Anjir. Cantik-cantik bahaya juga.” gumam
Yudi setelah Mawar melepaskannya.
“Sekarang kita udah berkumpul dengan
ditambah dua anggota baru. Misi kita adalah menguasai sekolah ini. Tunjukkan
kekuatan kalian.”
Putra memukul lantai dan menimbulkan kilatan petir. Beberapa kali cahaya kilatan itu terlihat di kedua tangannya. Suara gemuruh menggema di ruangan tersebut. Ia pengendali petir. Pupilnya berwarna kuning emas dan hitam.
Yudi terbang mengapung dengan sayap hitam di punggungnya. Pupil matanya seperti mata gagak.
Mawar berdiri dengan tatapan kosong. Kedua jemari tangannya terus meneteskan cairan ungu bening yang sangat beracun. Matanya berubah menjadi ungu cerah dan hitam. Sementara Melati, adiknya. Menyatukan kedua telapak tangannya lalu memisahkannya. Terdapat banyak benang-benang lengket ketika dipisahkan. Matanya berubah abu-abu hitam. Mereka lah bunga kembar karena mereka memang kembar bersaudara. Mawar dengan rambutnya yang mencapai pinggang bawah dan berekspresi datar, sementara melati hanya sebatas ketiak dengan wajah yang selalu tersenyum.
Yuko Cassandra merentang tangannya kearah boneka manekin yang dipajang di samping panggung aula. Perlahan boneka itu bergerak mendekati dirinya. Terdapat benang-benang transparan diujung jari-jari tangannya yang masing-masing mengendalikan kepala, kedua tangan dan kedua kaki boneka. Matanya berwarna pink hitam. Wajahnya yang cantik dan populer di kelas menjadi nilai tambah. Tak heran bila Rio begitu menyukainya.
Terakhir, Rio. Mengeluarkan bola energi hitam di telapak tangannya. Ditengah bola hitam itu terdapat pusaran. Matanya juga berubah, namun bagian putihnya lah yang berubah menjadi hitam. Sementara pupilnya berwarna merah.
Mereka berenam juga merupakan anak-anak
yang berkumpul di lokasi jatuhnya batu misterius saat kemping lalu, dan
mengetahui kekuatan yang mereka dapatkan beberapa hari kemudian.
Mereka adalah Dark Lord...
Tidak ada komentar:
Posting Komentar