Rabu, 03 Juni 2015

Mazna X Adara (Chapter 3) Dark Lord


Di aula serbaguna...



     “Disini cukup nyaman tempatnya.” ujar Rio. Melompat dan duduk di kursi yang ditumpuk-tumpuk keatas, membuatnya seperti raja.

     “Terserah.” ucap seorang perempuan. Menyalakan sebagian lampu aula lalu ia bersandar di sisi gelap dinding samping Rio.

     “Ayolah, Yuko.” ajak Rio. Menawarkan kursi yang ditumpuk juga namun lebih rendah dari Rio.

     “Lo masih nanya kenapa?” tanya balik Yuko dengan melirik Rio.

     “Tentang perjodohan kita dengan kedua orang tua kita??”

     “Kalaupun gak dijodohin, gue tetep ngga suka. Gue juga punya standar tersendiri kali.”

     Dengan cepat Rio berada dihadapan Yuko yang menatap dingin dan memegang pipinya.

     “Dengar, yang perlu lo lakukan hanya turuti kemauan gue. Ingat siapa yang menyelamatkan lo dan keluarga lo dari jerat hutang dan kemiskinan, sehingga lo bisa berada di sekolah elit ini. Lo menginginkan sesuatu dari keluarga gue, dan gue juga mau minta sesuatu dari keluarga lo. Cukup adil, bukan?”

     Yuko merasa tertegun, dengan terpaksa ia mengangguk pertanda setuju. Ia sangat tidak suka dengan sifat Rio yang terkadang sangat serius dan dingin, lalu sifatnya berubah menjadi konyol. Seperti dua kepribadian dalam satu tubuh. Selain itu ia juga tipe orang yang memaksa dan tak suka ditolak.


     “Ngomong-ngomong, mana yang lain?” Rio bingung.



     Kilat kuning menyambar tepat didepan mereka.

     “Apa sudah ngumpul semua?”

     “Ah, Putra. Baru lo doang yang dateng.” jawab Rio dingin. Putra lah yang muncul dibalik kilat itu.

     “Yah, seperti biasa ya selalu gue yang pertama, hehe.” keluhnya disertai senyum tawa.

     Tak lama terdegar suara seekor burung gagak dan burung tersebut masuk melalui jendela atas. Gagak itu perlahan turun lalu menjadi manusia, sayapnya membesar dan menyambung di punggung orang itu. Bulu-bulu sayapnya jatuh beberapa.


     “Yo.” sambut Putra.

     “Mana anggota barunya? Cantik nggak?”

     “Sabarlah, bro Yudi. Kelamaan jomblo nih.” jawab Putra dengan senyuman.

     “Mereka datang.” Rio menduga.


     Gagang pintu bulat diujung sana berputar. Dua orang muncul di kegelapan pintu itu.



     “Ternyata sudah disini.” ujar yang jalan paling depan dan mendekat pada mereka. Nadanya ramah dan matanya terlihat antusias.

      “Kak, apa si bodoh yang duduk di kursi itu bos kita?” tanya-nya polos.

     “Kurang ajar.” Rio merasa tersinggung bila ada yang menghinanya bodoh. Dengan cepat ia mengayunkan tongkat didekatnya dan menyerang pundak kiri gadis itu.

     “Jadi ini kekuatannya.” Rio yang awalnya terkejut perlahan senyum. Ia tak bisa menarik kembali tongkat yang dipukulnya karena merekat kuat pada pundak gadis itu. Malah gadis itu terlihat santai sambil memakan bunga melati.

      “Hanya bercanda, pak bos.” ujarnya sambil senyum.

     “Mel, kamu gapapa?” tanya kakaknya dibelakang. Terlihat sangat mirip, hanya saja sang kakak memakai kacamata.

     “Gapapa, kak Mawar.” jawabnya. Ia merebut tongkat yang menempel itu dan mematahkannya.


     “Pfft. Mawar? Kayak nama korban pemerkosaan.” Yudi menahan tawa.


     Seketika nafsu tawanya terhenti. Mawar langsung dibelakangnya, tangannya memegang kening Yudi, satunya menodongkan kuku-kuku tajam ke leher Yudi yang siap untuk digaruk hingga lehernya sobek. Meneteskan cairan bening warna ungu dari tangannya. Mereka semua memandang Yudi tanpa ekspresi.


     “Hati-hati jika berbicara.” ucap Mawar dengan tatapan kosong.

     “Cairan racunku ini lebih berbahaya dari racun ikan fugu dan ular kobra.”

     “Berani sekali dia berkata seperti itu ke kak Mawar.” ujar Melati dalam hatinya.

     “Hmm, wajah yang manis dengan tatapan kosong dan nada yang datar seperti psikopat. Bodoh banget Yudi, dasar anak pindahan!” pikir Putra.

     “Anjir. Cantik-cantik bahaya juga.” gumam Yudi setelah Mawar melepaskannya.

     “Sekarang kita udah berkumpul dengan ditambah dua anggota baru. Misi kita adalah menguasai sekolah ini. Tunjukkan kekuatan kalian.”


     Putra memukul lantai dan menimbulkan kilatan petir. Beberapa kali cahaya kilatan itu terlihat di kedua tangannya. Suara gemuruh menggema di ruangan tersebut. Ia pengendali petir. Pupilnya berwarna kuning emas dan hitam.


     Yudi terbang mengapung dengan sayap hitam di punggungnya. Pupil matanya seperti mata gagak.


     Mawar berdiri dengan tatapan kosong. Kedua jemari tangannya terus meneteskan cairan ungu bening yang sangat beracun. Matanya berubah menjadi ungu cerah dan hitam. Sementara Melati, adiknya. Menyatukan kedua telapak tangannya lalu memisahkannya. Terdapat banyak benang-benang lengket ketika dipisahkan. Matanya berubah abu-abu hitam. Mereka lah bunga kembar karena mereka memang kembar bersaudara. Mawar dengan rambutnya yang mencapai pinggang bawah dan berekspresi datar, sementara melati hanya sebatas ketiak dengan wajah yang selalu tersenyum.


     Yuko Cassandra merentang tangannya kearah boneka manekin yang dipajang di samping panggung aula. Perlahan boneka itu bergerak mendekati dirinya. Terdapat benang-benang transparan diujung jari-jari tangannya yang masing-masing mengendalikan kepala, kedua tangan dan kedua kaki boneka. Matanya berwarna pink hitam. Wajahnya yang  cantik dan populer di kelas menjadi nilai tambah. Tak heran bila Rio begitu menyukainya.


     Terakhir, Rio. Mengeluarkan bola energi hitam di telapak tangannya. Ditengah bola hitam itu terdapat pusaran. Matanya juga berubah, namun bagian putihnya lah yang berubah menjadi hitam. Sementara pupilnya berwarna merah.

     Mereka berenam juga merupakan anak-anak yang berkumpul di lokasi jatuhnya batu misterius saat kemping lalu, dan mengetahui kekuatan yang mereka dapatkan beberapa hari kemudian.




     Mereka adalah Dark Lord...

Tidak ada komentar:

Posting Komentar