Rabu, 03 Juni 2015

Mazna X Adara (Chapter 1) Kakak Beradik


     Sebuah mobil SUV baru saja berhenti di parkiran sekolah pada pagi hari yang sejuk pukul 6.30. Kaki kiri turun setelah pintu depan bagian kiri mobil itu dibuka. Sepasang kaki milik gadis berseragam putih lengan panjang dan rok yang juga panjang,  berambut ikal sepundak menutup pintu mobilnya tanpa membawa tas.


     “Aezaa, cepetan.” kata gadis tersebut agak keras.

     “I... iya sebentar, kak Hime.” jawab gadis berambut hitam lurus sepinggang itu. Ia turun dari kemudi dan membuka pintu tengah mobil itu dan membawa dua buah tas, satu miliknya dan satu lagi milik Hime.

     “Jangan lupa lock mobilnya.” suruh Hime, mengetik di ponsel sambil berjalan.

     “Iya.” kedua lampu sign berkedip tanda mobill sudah terkunci.

     “Gak usah ngejawab deh, tinggal pencet doang.”

     Aeza mengangguk.

     Mereka memasuki kelas yang sama dan duduk sebangku.



     Hime masih terfokus oleh ponselnya begitu duduk, tidak bergabung dengan anak yang sedang berkumpul untuk sekedar basa-basi. Padahal wajah Hime cantik seperti anak populer. Ia hanya sesekali berbicara pada orang. Sifat itu semakin diperkuat sejak kedua orangtua nya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.

     Saat dirumah sakit sesaat sebelum ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya, ia berpesan agar Hime dan Aeza selalu saling menjaga satu sama lain. Mereka berdua mendapat warisan dengan jumlah yang tak main-main, mengingat ia keluarga berada dan Hime yang mewarisi marga Rusdian. Harta tersebut lebih dari cukup untuk seumur hidup mereka.

     Kebalikannya dari Hime, Aeza adalah gadis yang murah senyum, ringan tangan, tapi sedikit pendiam. Wajahnya ayu, rambutnya yang panjang tergerai lurus kebawah kadang diikat dua seperti gadis desa.

     Hime sebenarnya adalah anak tunggal atau anak satu-satunya. Aeza muncul di kehidupan keluarga mereka delapan bulan setelah Hime lahir. Aeza ditemukan oleh pembantu didalam kardus dekat tempat sampah ketika hendak membuang sampah saat malam. Mereka berniat mengadopsi untuk menemani anaknya kelak dan diberi nama Aeza Zulviandari.

     Mereka sangat peduli dan sayang  terhadap anak-anak yang terlantar, kadang tiap dini hari kedua orang tua Hime keluar keliling kota mengendarai mobil memberi anak-anak atau keluarga yang terlantar sekotak makanan.


     Hime kecil seperti anak kecil lainnya. Ia senang bermain dengan Aeza. Namun seiring beranjak remaja, Hime yang sudah tau bahwa Aeza bukanlah adik kandungnya perlahan menjaga jarak dan gengsi. Aeza lebih sering dijadikan pesuruh sejak orang tua Hime meninggal dan Hime menjadi agak galak dan cuek. Dan harta warisan milik Aeza tak seluruhnya miliknya. Hime yang mengatur semua harta peninggalan orang tua nya. Sedikit yang Hime keluarkan untuk uang jajan Aeza.

     Meski begitu, Aeza tetap menurut setiap perkataan kakaknya dan menjalani semuanya dengan senyuman. Ia sangat bersyukur dapat bergabung di keluarga ini. Kalau tidak ada yang memungutnya malam itu, mungkin ia tidak berada disini dan mengenal mereka. Maka dari itu, Aeza bersedia melakukan apa saja. Dan Aeza sangat menjaga wasiat dari almarhum ayah angkatnya untuk selalu saling menjaga Hime.



***

     Sepulang sekolah, Aeza membawa tasnya Hime. Begitulah tugasnya sehari-hari.

     “Kita ke restoran pizza dulu. Laper gue.” kata Hime yang telinganya disumbat handsfree. Aeza yang sambil menyetir mengangguk.


     “Nih.” Hime mengambil uang dua puluh ribu di saku seragamnya dan memberikan ke Aeza. Hime turun dari mobil dan masuk ke restoran itu sendirian.

     Di restoran yang berhawa sejuk itu Hime menikmati makan siangnya duduk di dekat jendela. Di seberang sana ia melihat Aeza menikmati semangkuk bakso yang dibelinya di pinggir jalan. Setiap makan diluar, Hime selalu seperti itu lantaran gengsi.



     Setelah itu mereka melanjutkan pulang kerumah mereka yang mewah itu. Hime langsung meluncur kekamarnya begitu membuka kunci pintu rumah. Ia akan tertidur biasanya sampai jam empat sore. Lain dengan Aeza, hari ini ia harus mencuci baju. Mereka hanya tinggal berdua sekarang. Supir, penjaga gerbang  dan pembantu mereka dipulangkan setelah kedua orang tua Hime meninggal. Aeza bersih-bersih kamar termasuk kamar Hime selagi bajunya dicuci dengan mesin cuci. Hawa dingin dari AC terasa saat Aeza membuka pintu kamar Hime dan mulai membersihkannya.

     Hime tidur menyamping dengan pulas setelah lelah belajar dan kenyang makan. Aeza menaikkan selimut agar Hime tak kedinginan nantinya.





     “Hoaaam.” Hime bangun dari tidurnya. Meregangkan otot-otot kedua tangannya. Hawa dingin sedikit menyelimuti bagian atas tubuhnya yang mengenakan baju tanpa lengan, sedangkan bagian bawahnya masih mengenakan rok panjang sekolah. Ia melirik jam. Masih jam empat sore seperti biasanya. Hime turun menuruni tangga dan duduk di kursi makan dengan handuk di bahunya.

     “Kak.” sapa Aeza yang sedang menyetrika didepan televisi, dengan karpet merah sebagai alas setrika.

     “Ini susu lo?” tanya Hime yang matanya setengah sadar. Ia melihat segelas susu di meja makan.

     “Iya. Minum aja, kak. Belum aku minum.”

     Hime menenggak susu itu hingga habis.

     “Itu pizza buat lo. Tadi gue nggak abis.” katanya dan pergi ke kamar mandi.




     “Aah. Seger.”

     Hime melamun dibawah pancuran shower.Sebenarnya ia juga menyayangi Aeza, namun tak terlalu menampakkannya karena alasan gengsi. Hime lebih cenderung cuek. Seperti tadi ia makan pizza, ia memberi uang untuk Aeza makan. Sebuah rasa sayang yang terhalang.

     Hime terkadang pernah menyakiti Aeza ketika mood nya buruk dan sedang masanya ketika Aeza membuat kesalahan. Aeza pernah tak sengaja menumpahkan susu ketika Hime mengerjakan tugas sekolah yang sulit lantaran tersandung. Hime menamparnya dan tak jarang memukul kepala Aeza dengan tempat pensil. Perasaan Aeza sangat sensitif jika kakak angkatnya memarahinya dengan kasar sehingga membuat Aeza menangis. Esoknya Hime meminta maaf setelah merenung kejadian tadi, namun suatu hari nanti jika Aeza membuat kesalahan, hal itu terjadi lagi.

     Ia kembali ke kamar setelah melilitkan handuk di tubuhnya. Sesampainya, Hime melihat Aeza sedang memasukkan pakaian yang telah disetrika ke lemari baju.




Malamnya...

     “Aeza, temenin gue ke minimarket. Beli bekal buat kemping besok.”

     Aeza bersiap mengambil kunci dan menyalakan mesin mobil.

     Hime yang mengambil barang keperluan sementara Aeza yang mendorong trolley.

     “Ambil aja apa yang lo butuhin.” kata Hime. Aeza mengangguk.

     “Kak, malem ini kita makan sayur sup mau gak?” tanya Aeza. Ia mengambil plastik mika persegi berisi sayuran-sayuran sup beserta bumbunya.

     “Boleh.”

     “Pake sosis juga ya.”

     Hime mengangguk.



***

     Pagi harinya mereka berdua siap dengan membawa dua tas besar ke sekolah menggunakan taksi. Seluruh anak kelas sebelas dikumpulkan di lapangan dan diabsen satu per satu. Lalu mereka naik bus yang disediakan. Rencananya akan menginap selama dua malam.




     Mereka akhirnya sampai di tujuan setelah menempuh dua jam perjalanan. Hawa sejuk menyambut para peserta kemping.

     Sesampainya disana mereka diberi tugas masing-masing. Kebetulan Aeza dan Hime kebagian menyiapkan bahan makanan. Selama menyiapkan, Aeza jarang mengobrol dengan Hime. Karena ia tau kakak angkatnya tak terlalu suka mengobrol.

     Malam telah tiba tanpa mereka sadari. Api unggun yang menyala dengan tenda-tenda yang mengelilinginya. Diatas api tersebut ada panci besar berisi sup yang sama ketika Aeza dan Hime makan kemarin.

     “Hmmm. Enak banget sup nya.” puji salah satu anak perempuan.

     Mereka semua melakukan kegiatan yang ditentukan setelah makan. Hingga akhirnya beristirahat menjelang larut malam.



     “Buuumm.”

     Sesuatu menabrak tanah. Getarannya tidak terlalu berasa. Anak-anak yang belum tidur perlahan mendekati sumber suara, begitu juga Aeza dan Hime karena mereka belum sempat tertidur, sisanya sudah di alam mimpi.

     Sebuah batu berdiameter empat meter masuk kedalam tanah sedalam tiga meter dan membentuk lubang besar. Jika diihat, jumlah anak yang melihat batu besar itu mencapai belasan orang.

     “Apaan sih?” gumam Hime ketika baru sampai dan mendekati ujung lubang.

     “Oh batu meteor biasa. Kirain apaan.” ucapnya cuek dan berbalik arah. Ketika berbalik arah, tanah yang dipijaknya tiba-tiba jatuh.

     “Aaaaaahh.” Hime terjatuh. Aeza refleks meraih tangannya namun ia kalah sigap. Hime terjatuh dan batu besar itu sudah didekatnya.

     “Kakak!” Aeza bergegas melompat kebawah sana.

     “Aeza, jangan.” cegah Randi. Namun ia telat.

     “Kakak gapapa?”

     Hime mengangguk.

     “Apa ini bener batu meteor?” tanya Hime.

     “Kayaknya iya. Tapi kita naik keatas dulu.” Aeza merangkulnya.

     Secara perlahan batu itu mulai memancarkan cahaya hijau. Semakin lama semakin terang. Cahaya hijau terang itu seketika menghilang bersama batu besar tadi ketika mencapai terang maksimal. Keadaan menjadi gelap gulita. Mereka semua yang berada di lokasi tersebut perlahan melemas dan pingsan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar