Sebuah mobil SUV baru saja berhenti di
parkiran sekolah pada pagi hari yang sejuk pukul 6.30. Kaki kiri turun setelah
pintu depan bagian kiri mobil itu dibuka. Sepasang kaki milik gadis berseragam
putih lengan panjang dan rok yang juga panjang,
berambut ikal sepundak menutup pintu mobilnya tanpa membawa tas.
“Aezaa, cepetan.” kata gadis tersebut agak
keras.
“I... iya sebentar, kak Hime.” jawab gadis
berambut hitam lurus sepinggang itu. Ia turun dari kemudi dan membuka pintu
tengah mobil itu dan membawa dua buah tas, satu miliknya dan satu lagi milik
Hime.
“Jangan lupa lock mobilnya.” suruh Hime,
mengetik di ponsel sambil berjalan.
“Iya.” kedua lampu sign berkedip tanda
mobill sudah terkunci.
“Gak usah ngejawab deh, tinggal pencet
doang.”
Aeza mengangguk.
Mereka memasuki kelas yang sama dan duduk
sebangku.
Hime masih terfokus oleh ponselnya begitu
duduk, tidak bergabung dengan anak yang sedang berkumpul untuk sekedar
basa-basi. Padahal wajah Hime cantik seperti anak populer. Ia hanya sesekali
berbicara pada orang. Sifat itu semakin diperkuat sejak kedua orangtua nya
tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.
Saat dirumah sakit sesaat sebelum ayahnya
menghembuskan nafas terakhirnya, ia berpesan agar Hime dan Aeza selalu saling
menjaga satu sama lain. Mereka berdua mendapat warisan dengan jumlah yang tak
main-main, mengingat ia keluarga berada dan Hime yang mewarisi marga Rusdian.
Harta tersebut lebih dari cukup untuk seumur hidup mereka.
Kebalikannya dari Hime, Aeza adalah gadis
yang murah senyum, ringan tangan, tapi sedikit pendiam. Wajahnya ayu, rambutnya
yang panjang tergerai lurus kebawah kadang diikat dua seperti gadis desa.
Hime sebenarnya adalah anak tunggal atau
anak satu-satunya. Aeza muncul di kehidupan keluarga mereka delapan bulan
setelah Hime lahir. Aeza ditemukan oleh pembantu didalam kardus dekat tempat
sampah ketika hendak membuang sampah saat malam. Mereka berniat mengadopsi
untuk menemani anaknya kelak dan diberi nama Aeza Zulviandari.
Mereka sangat peduli dan sayang terhadap anak-anak yang terlantar, kadang
tiap dini hari kedua orang tua Hime keluar keliling kota mengendarai mobil
memberi anak-anak atau keluarga yang terlantar sekotak makanan.
Hime kecil seperti anak kecil lainnya. Ia
senang bermain dengan Aeza. Namun seiring beranjak remaja, Hime yang sudah tau
bahwa Aeza bukanlah adik kandungnya perlahan menjaga jarak dan gengsi. Aeza
lebih sering dijadikan pesuruh sejak orang tua Hime meninggal dan Hime menjadi
agak galak dan cuek. Dan harta warisan milik Aeza tak seluruhnya miliknya. Hime
yang mengatur semua harta peninggalan orang tua nya. Sedikit yang Hime
keluarkan untuk uang jajan Aeza.
Meski begitu, Aeza tetap menurut setiap
perkataan kakaknya dan menjalani semuanya dengan senyuman. Ia sangat bersyukur
dapat bergabung di keluarga ini. Kalau tidak ada yang memungutnya malam itu,
mungkin ia tidak berada disini dan mengenal mereka. Maka dari itu, Aeza bersedia
melakukan apa saja. Dan Aeza sangat menjaga wasiat dari almarhum ayah angkatnya
untuk selalu saling menjaga Hime.
***
Sepulang sekolah, Aeza membawa tasnya
Hime. Begitulah tugasnya sehari-hari.
“Kita ke restoran pizza dulu. Laper gue.”
kata Hime yang telinganya disumbat handsfree. Aeza yang sambil menyetir
mengangguk.
“Nih.” Hime mengambil uang dua puluh ribu
di saku seragamnya dan memberikan ke Aeza. Hime turun dari mobil dan masuk ke
restoran itu sendirian.
Di restoran yang berhawa sejuk itu Hime
menikmati makan siangnya duduk di dekat jendela. Di seberang sana ia melihat Aeza
menikmati semangkuk bakso yang dibelinya di pinggir jalan. Setiap makan diluar,
Hime selalu seperti itu lantaran gengsi.
Setelah itu mereka melanjutkan pulang
kerumah mereka yang mewah itu. Hime langsung meluncur kekamarnya begitu membuka
kunci pintu rumah. Ia akan tertidur biasanya sampai jam empat sore. Lain dengan
Aeza, hari ini ia harus mencuci baju. Mereka hanya tinggal berdua sekarang.
Supir, penjaga gerbang dan pembantu
mereka dipulangkan setelah kedua orang tua Hime meninggal. Aeza bersih-bersih
kamar termasuk kamar Hime selagi bajunya dicuci dengan mesin cuci. Hawa dingin
dari AC terasa saat Aeza membuka pintu kamar Hime dan mulai membersihkannya.
Hime tidur menyamping dengan pulas setelah
lelah belajar dan kenyang makan. Aeza menaikkan selimut agar Hime tak
kedinginan nantinya.
“Hoaaam.” Hime bangun dari tidurnya.
Meregangkan otot-otot kedua tangannya. Hawa dingin sedikit menyelimuti bagian
atas tubuhnya yang mengenakan baju tanpa lengan, sedangkan bagian bawahnya
masih mengenakan rok panjang sekolah. Ia melirik jam. Masih jam empat sore
seperti biasanya. Hime turun menuruni tangga dan duduk di kursi makan dengan
handuk di bahunya.
“Kak.” sapa Aeza yang sedang menyetrika
didepan televisi, dengan karpet merah sebagai alas setrika.
“Ini susu lo?” tanya Hime yang matanya
setengah sadar. Ia melihat segelas susu di meja makan.
“Iya. Minum aja, kak. Belum aku minum.”
Hime menenggak susu itu hingga habis.
“Itu pizza buat lo. Tadi gue nggak abis.”
katanya dan pergi ke kamar mandi.
“Aah. Seger.”
Hime melamun dibawah pancuran shower.Sebenarnya
ia juga menyayangi Aeza, namun tak terlalu menampakkannya karena alasan gengsi.
Hime lebih cenderung cuek. Seperti tadi ia makan pizza, ia memberi uang untuk Aeza
makan. Sebuah rasa sayang yang terhalang.
Hime terkadang pernah menyakiti Aeza
ketika mood nya buruk dan sedang masanya ketika Aeza membuat kesalahan. Aeza
pernah tak sengaja menumpahkan susu ketika Hime mengerjakan tugas sekolah yang
sulit lantaran tersandung. Hime menamparnya dan tak jarang memukul kepala Aeza
dengan tempat pensil. Perasaan Aeza sangat sensitif jika kakak angkatnya
memarahinya dengan kasar sehingga membuat Aeza menangis. Esoknya Hime meminta
maaf setelah merenung kejadian tadi, namun suatu hari nanti jika Aeza membuat
kesalahan, hal itu terjadi lagi.
Ia kembali ke kamar setelah melilitkan handuk
di tubuhnya. Sesampainya, Hime melihat Aeza sedang memasukkan pakaian yang telah
disetrika ke lemari baju.
Malamnya...
“Aeza, temenin gue ke minimarket. Beli
bekal buat kemping besok.”
Aeza bersiap mengambil kunci dan
menyalakan mesin mobil.
Hime yang mengambil barang keperluan
sementara Aeza yang mendorong trolley.
“Ambil aja apa yang lo butuhin.” kata
Hime. Aeza mengangguk.
“Kak, malem ini kita makan sayur sup mau
gak?” tanya Aeza. Ia mengambil plastik mika persegi berisi sayuran-sayuran sup
beserta bumbunya.
“Boleh.”
“Pake sosis juga ya.”
Hime mengangguk.
***
Pagi harinya mereka berdua siap dengan
membawa dua tas besar ke sekolah menggunakan taksi. Seluruh anak kelas sebelas
dikumpulkan di lapangan dan diabsen satu per satu. Lalu mereka naik bus yang
disediakan. Rencananya akan menginap selama dua malam.
Mereka akhirnya sampai di tujuan setelah
menempuh dua jam perjalanan. Hawa sejuk menyambut para peserta kemping.
Sesampainya disana mereka diberi tugas
masing-masing. Kebetulan Aeza dan Hime kebagian menyiapkan bahan makanan.
Selama menyiapkan, Aeza jarang mengobrol dengan Hime. Karena ia tau kakak
angkatnya tak terlalu suka mengobrol.
Malam telah tiba tanpa mereka sadari. Api unggun yang menyala dengan tenda-tenda yang
mengelilinginya. Diatas api tersebut ada panci besar berisi sup yang sama
ketika Aeza dan Hime makan kemarin.
“Hmmm. Enak banget sup nya.” puji salah
satu anak perempuan.
Mereka semua melakukan kegiatan yang
ditentukan setelah makan. Hingga akhirnya beristirahat menjelang larut malam.
“Buuumm.”
Sesuatu menabrak tanah. Getarannya tidak
terlalu berasa. Anak-anak yang belum tidur perlahan mendekati sumber suara,
begitu juga Aeza dan Hime karena mereka belum sempat tertidur, sisanya sudah di
alam mimpi.
Sebuah batu berdiameter empat meter masuk
kedalam tanah sedalam tiga meter dan membentuk lubang besar. Jika diihat,
jumlah anak yang melihat batu besar itu mencapai belasan orang.
“Apaan sih?” gumam Hime ketika baru sampai
dan mendekati ujung lubang.
“Oh batu meteor biasa. Kirain apaan.”
ucapnya cuek dan berbalik arah. Ketika berbalik arah, tanah yang dipijaknya
tiba-tiba jatuh.
“Aaaaaahh.” Hime terjatuh. Aeza refleks
meraih tangannya namun ia kalah sigap. Hime terjatuh dan batu besar itu sudah
didekatnya.
“Kakak!” Aeza bergegas melompat kebawah
sana.
“Aeza, jangan.” cegah Randi. Namun ia
telat.
“Kakak gapapa?”
Hime mengangguk.
“Apa ini bener batu meteor?” tanya Hime.
“Kayaknya iya. Tapi kita naik keatas
dulu.” Aeza merangkulnya.
Secara perlahan batu itu mulai memancarkan
cahaya hijau. Semakin lama semakin terang. Cahaya hijau terang itu seketika
menghilang bersama batu besar tadi ketika mencapai terang maksimal. Keadaan
menjadi gelap gulita. Mereka semua yang berada di lokasi tersebut perlahan
melemas dan pingsan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar