Rabu, 03 Juni 2015

Mazna X Adara (Chapter 2) Sebuah Keajaiban


     Aeza dan Hime membuka mata. Hari sudah terang dan mendapati diri mereka terbaring bersebelahan. Hanya mereka berdua yang pertama kali siuman. Seorang panitia memberinya segelas air. Ia tak berbicara sepatah katapun. Mungkin akan berbicara saat belasan anak yang pingsan sudah sadar.

     Panitia membuka suara saat semuanya telah sadar.

     “Dengar semuanya, berhubung ada kejadian misterius yang menimpa belasan teman kita yang pingsan semalam, acara kemping ini resmi saya batalkan. Kita akan kembali ke sekolah siang ini dan kalian bisa beristirahat dirumah setelahnya. Terima kasih.”

     Beberapa hari kemudian...

     Hime sedang tiduran santai di atap rumahnya di bagian datar berlantaikan semen sambil mendengarkan musik diatas bangku panjang. Irama yang dihasilkan membuat tangannya ingin menari. Biasanya orang akan menjentikkan jari-jarinya. Hime pun demikian.

     Boff, boff, boff...

     “Apaan tuh?” gumam Hime bingung. Ia tak mendengar suara yang dihasilkan dari jentikkan jarinya. Kali ini ia mencoba lagi namun dengan melihatnya.

     “Aaaaaaahh.” Hime berteriak.

     Aeza yang akan mengantarkan sirup mendengar teriakan tersebut dan langsung menuju keatas.

     “Kakak kenapa?”

     Hime tak menjawabnya, wajah cantiknya terlihat pucat. Tangannya bergetar.

     “Gu... gue.”

     “Kenapa?”

    Hime menjentikkan jarinya kembali.  Ibu jarinya yang menghadap  keatas mengeluarkan api seperti menyalakan api dengan korek gas.

     “Kok bisa?” Aeza bingung.

     “Makanya itu. Gue juga bingung.”

     “Tapi keren juga sih, kak.”

     “Maksudnya?”

     “Coba lagi deh, tapi lebih kayak digayain gitu. Kayak di film-film lah.”

     Hime mencoba yang dimaksud Aeza. Ia bergaya seperti meninju kedepan, hasilnya keluarlah seperti bola api.

     “Waah, hebat. Pupil mata kakak juga berubah oranye kayak api.”

     “Benarkah? hahaha.” Hime tertawa kegirangan.

     Tak lama setelah itu, api membakar seluruh tubuhnya. Namun Hime tak merasa kepanasan. Hime berkonsentrasi, api itu perlahan menghilang dari tubuhnya. Pupil matanya kembali berwarna hitam.

     “Apa karena efek batu yang jatuh itu kali yak.” pikir Hime.

     “Ah. Lo coba deh.”

     “Oke. Tapi gimana caranya kak?”

     “Apa aja. Coba sirop itu.”

     “Sirop?”

     Aeza coba berkonsentrasi pada segelas sirup yang dipegangnya. Perlahan air sirup itu berputar sendiri seperti sedang diaduk.

     “Aku bisa ngendaliin air kayaknya.”

     “Eh, pupil mata lo berubah juga. Jadi biru pudar kayak air.”

     Ia pun mencoba lagi. Tangannya berada diatas bibir gelas. Air tersebut  bergerak keatas. Aeza semakin menaikkan tangannya, air itu mengikuti tangannya dan lama-lama air tersebut mengapung di udara dan membentuk bola di telapak tangannya.

     “Apa anak-anak yang waktu itu di deket batu yang jatuh puunya kekuatan aneh kayak kita ya?” tanya Hime.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar