Aeza dan Hime membuka mata. Hari sudah
terang dan mendapati diri mereka terbaring bersebelahan. Hanya mereka berdua
yang pertama kali siuman. Seorang panitia memberinya segelas air. Ia tak
berbicara sepatah katapun. Mungkin akan berbicara saat belasan anak yang
pingsan sudah sadar.
Panitia membuka suara saat semuanya telah
sadar.
“Dengar semuanya, berhubung ada kejadian
misterius yang menimpa belasan teman kita yang pingsan semalam, acara kemping
ini resmi saya batalkan. Kita akan kembali ke sekolah siang ini dan kalian bisa
beristirahat dirumah setelahnya. Terima kasih.”
Beberapa hari kemudian...
Hime sedang tiduran santai di atap
rumahnya di bagian datar berlantaikan semen sambil mendengarkan musik diatas
bangku panjang. Irama yang dihasilkan membuat tangannya ingin menari. Biasanya
orang akan menjentikkan jari-jarinya. Hime pun demikian.
Boff, boff, boff...
“Apaan tuh?” gumam Hime bingung. Ia tak
mendengar suara yang dihasilkan dari jentikkan jarinya. Kali ini ia mencoba lagi
namun dengan melihatnya.
“Aaaaaaahh.” Hime berteriak.
Aeza yang akan mengantarkan sirup
mendengar teriakan tersebut dan langsung menuju keatas.
“Kakak kenapa?”
Hime tak menjawabnya, wajah cantiknya
terlihat pucat. Tangannya bergetar.
“Gu... gue.”
“Kenapa?”
Hime menjentikkan jarinya kembali. Ibu jarinya yang menghadap keatas mengeluarkan api seperti menyalakan
api dengan korek gas.
“Kok bisa?” Aeza bingung.
“Makanya itu. Gue juga bingung.”
“Tapi keren juga sih, kak.”
“Maksudnya?”
“Coba lagi deh, tapi lebih kayak digayain
gitu. Kayak di film-film lah.”
Hime mencoba yang dimaksud Aeza. Ia
bergaya seperti meninju kedepan, hasilnya keluarlah seperti bola api.
“Waah, hebat. Pupil mata kakak juga
berubah oranye kayak api.”
“Benarkah? hahaha.” Hime tertawa
kegirangan.
Tak lama setelah itu, api membakar seluruh
tubuhnya. Namun Hime tak merasa kepanasan. Hime berkonsentrasi, api itu
perlahan menghilang dari tubuhnya. Pupil matanya kembali berwarna hitam.
“Apa karena efek batu yang jatuh itu kali
yak.” pikir Hime.
“Ah. Lo coba deh.”
“Oke. Tapi gimana caranya kak?”
“Apa aja. Coba sirop itu.”
“Sirop?”
Aeza coba berkonsentrasi pada segelas
sirup yang dipegangnya. Perlahan air sirup itu berputar sendiri seperti sedang
diaduk.
“Aku bisa ngendaliin air kayaknya.”
“Eh, pupil mata lo berubah juga. Jadi biru
pudar kayak air.”
Ia pun mencoba lagi. Tangannya berada
diatas bibir gelas. Air tersebut
bergerak keatas. Aeza semakin menaikkan tangannya, air itu mengikuti
tangannya dan lama-lama air tersebut mengapung di udara dan membentuk bola di
telapak tangannya.
“Apa anak-anak yang waktu itu di deket
batu yang jatuh puunya kekuatan aneh kayak kita ya?” tanya Hime.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar