Rabu, 03 Juni 2015

Mazna X Adara (Chapter 4) Membuka Kartu Tertutup



     Tiga orang yang terdiri dari satu perempuan dan dua laki-laki bersama menuju sekolah mengendarai masing-masing motor bertangki depan.

     Beberapa menit sebelum sampai sekolah, mereka berhenti dan melihat banyak anak dari sekolah lain menghadang jalan lima puluh meter dari mereka.

     “Serangan fajar sepertinya.” ucap yang perempuan sambil membuka helm. Ia berada di tengah.

     “Boleh lah olahraga dikit pagi-pagi.” ucap Aldi yang memiliki postur tinggi kurus. Ia berada di samping kanan perempuan itu.

     Sementara Ivan yang berbadan tinggi gemuk hanya diam dan mematikan mesin motor.

     Mereka maju belasan meter dari motor yang terparkir.

     “Satu, dua... seraaang!!” teriak satu anak dari sekolah lain. Ia dan komplotannya maju berbarengan.

     “Siap?” tanya yang perempuan. Menengok ke kedua temannya.




Di parkiran sekolah...

     “Kira-kira siapa aja ya kak yang waktu itu dideket jatuhan batu itu?” tanya Aeza penasaran. Mematikan mesin mobil.

     “Yang jelas sih ada belasan, tapi gue gak inget pasti siapa aja. Ayo buruan.”

     “Hei. Bareng dong.” teriak seseorang dibelakang mereka. Itu mereka bertiga yang tawuran tadi.

     “Pada kusut seragam lo semua.” kata Hime. Melihat sekilas penampilan mereka.

     “Serangan fajar. Diserang sekolah lain.” jawab perempuan ber nametag Indry Devita.

     “Terus lo bertiga menang?”

     “Kita nggak bakalan sampe sekolah kalo kalah.”

     “Eh iya, mau nanya dong. Kalian waktu itu ada di deket lokasi batu jatuh gak pas kemping?” tanya Aeza.

     “Kita ke kelas aja dulu. Gue tau lo berdua ngalamin sesuatu kan?”





     “Jadi Hime bisa mengendalikan api, sementara Aeza bisa mengendalikan air?” tanya Indry serius di bangku belakang dengan Aeza dan Hime saat jam istirahat.

     “Iya. Sementara lo?” tanya Hime.

     “Gue... gue bisa berubah jadi macan kumbang. Mata gue juga berubah kayak mamalia buas itu.”

     “Serius?” Aeza tak percaya.

     Indry mengangguk.
     “Selain itu, luka gue juga bisa sembuh dengan sendirinya.”

     “Kedua temen lo?” tanya Hime lagi.

     “Aldi punya kecepatan lari yang kenceng banget. Sementara Ivan badannya bisa berubah jadi berlian. Badannya jadi super keras.”

     “Terus siapa lagi yang udah lo liat?”

     Gadis tomboy itupun menjelaskan yang ia tau.


     Pertama ia melihat Lily, si gadis yang dianggap aneh oleh setiap anak karena selalu membawa boneka porselen kecil. Tampilannya tak jauh berbeda dengan Mawar, hanya saja Lily lebih pemalu. Dia dapat menggunakan telekinesis, menggerakkan objek tanpa menyentuh tangannya, melainkan dengan pikirannya.

     Dia juga dijuluki “Tiga Srikandi Bunga.” karena sering menjuarai lomba fisika tingkat kota hingga internasional bersama Mawar dan Melati. Namun julukan itu memudar ketika si kembar membenci Lily dan bubar jauh sebelum mereka mendapat kekuatan ajaib. Alasannya, hanya Lily yang selalu disorot media, sementara mereka tak diacuhkan. Alasan itulah yang membuat mereka bergabung dengan Dark Lord untuk menghukum Lily.

     Lalu ada Putri. Gadis berjilbab yang sifatnya kalem seperti Aeza. Ia dapat mengendalikan, bahkan menumbuhkan segala hal yang berhubungan dengan tanaman atau tumbuhan. Putri bisa menumbuhkan pohon kecil apapun setinggi dirinya dan langsung menumbuhkan buah yang sudah matang. Ia sangat benci dengan seseorang yang merusak tumbuhan dan membuang sampah sembarangan, bahkan Putri bisa mendengar dan mengerti apa yang tumbuhan ucap yang tak bisa didengar manusia biasa. Pupil matanya berubah menjadi hijau daun.

     Surya. Si tukang tidur yang terlihat malas namun sangat pintar. Kabarnya Yuko juga menyukai Surya karena sifatnya yang ramah. Dia bisa mengendalikan angin sesuka hatinya. Warna pupilnya hijau limau.

     Dharma dan Lara. Mereka dapat julukan “Pasangan Jadul.” Karena memang mereka berpacaran dan gaya dandanannya baik di sekolah maupun saat jalan bareng terkesan kuno. Seperti di film-film era ’70 an. Wajah Dharma juga tak terlalu culun dan tak termasuk dalam kategori kutu buku. Sementara Lara semua pakaian yang berkancing dikancingi semua. Terlebih saat mereka jalan-jalan. Mengendarai vespa klasik. Dharma mengenakan kemeja panjang kotak-kotak, sementara Lara mengenakan gaun terusan model A dan model rambut sebahu pada jaman itu membuatnya terlihat sangat jadul. Kebiasaan Lara sangat berbeda dengan gadis kebanyakan, ia suka menggosokkan bibir dan mulutnya dengan sirih atau biasa disebut ‘nyirih’ seperti nenek-nenek.Tempat favoritnya hanya museum dan tempat bersejarah. Kabarnya mereka juga seperti Indry bisa menjadi hewan juga namun ia belum tau pasti hewan apa. Indry pernah mengintip mereka berubah menjadi hewan legenda. Namun salah satu dari mereka ada yang berubah menjadi naga yang panjang seperti ular.

     “Itu aja sih yang gue tau. Selebihnya gue belum tau siapa lagi.”

Mazna X Adara (Chapter 3) Dark Lord


Di aula serbaguna...



     “Disini cukup nyaman tempatnya.” ujar Rio. Melompat dan duduk di kursi yang ditumpuk-tumpuk keatas, membuatnya seperti raja.

     “Terserah.” ucap seorang perempuan. Menyalakan sebagian lampu aula lalu ia bersandar di sisi gelap dinding samping Rio.

     “Ayolah, Yuko.” ajak Rio. Menawarkan kursi yang ditumpuk juga namun lebih rendah dari Rio.

     “Lo masih nanya kenapa?” tanya balik Yuko dengan melirik Rio.

     “Tentang perjodohan kita dengan kedua orang tua kita??”

     “Kalaupun gak dijodohin, gue tetep ngga suka. Gue juga punya standar tersendiri kali.”

     Dengan cepat Rio berada dihadapan Yuko yang menatap dingin dan memegang pipinya.

     “Dengar, yang perlu lo lakukan hanya turuti kemauan gue. Ingat siapa yang menyelamatkan lo dan keluarga lo dari jerat hutang dan kemiskinan, sehingga lo bisa berada di sekolah elit ini. Lo menginginkan sesuatu dari keluarga gue, dan gue juga mau minta sesuatu dari keluarga lo. Cukup adil, bukan?”

     Yuko merasa tertegun, dengan terpaksa ia mengangguk pertanda setuju. Ia sangat tidak suka dengan sifat Rio yang terkadang sangat serius dan dingin, lalu sifatnya berubah menjadi konyol. Seperti dua kepribadian dalam satu tubuh. Selain itu ia juga tipe orang yang memaksa dan tak suka ditolak.


     “Ngomong-ngomong, mana yang lain?” Rio bingung.



     Kilat kuning menyambar tepat didepan mereka.

     “Apa sudah ngumpul semua?”

     “Ah, Putra. Baru lo doang yang dateng.” jawab Rio dingin. Putra lah yang muncul dibalik kilat itu.

     “Yah, seperti biasa ya selalu gue yang pertama, hehe.” keluhnya disertai senyum tawa.

     Tak lama terdegar suara seekor burung gagak dan burung tersebut masuk melalui jendela atas. Gagak itu perlahan turun lalu menjadi manusia, sayapnya membesar dan menyambung di punggung orang itu. Bulu-bulu sayapnya jatuh beberapa.


     “Yo.” sambut Putra.

     “Mana anggota barunya? Cantik nggak?”

     “Sabarlah, bro Yudi. Kelamaan jomblo nih.” jawab Putra dengan senyuman.

     “Mereka datang.” Rio menduga.


     Gagang pintu bulat diujung sana berputar. Dua orang muncul di kegelapan pintu itu.



     “Ternyata sudah disini.” ujar yang jalan paling depan dan mendekat pada mereka. Nadanya ramah dan matanya terlihat antusias.

      “Kak, apa si bodoh yang duduk di kursi itu bos kita?” tanya-nya polos.

     “Kurang ajar.” Rio merasa tersinggung bila ada yang menghinanya bodoh. Dengan cepat ia mengayunkan tongkat didekatnya dan menyerang pundak kiri gadis itu.

     “Jadi ini kekuatannya.” Rio yang awalnya terkejut perlahan senyum. Ia tak bisa menarik kembali tongkat yang dipukulnya karena merekat kuat pada pundak gadis itu. Malah gadis itu terlihat santai sambil memakan bunga melati.

      “Hanya bercanda, pak bos.” ujarnya sambil senyum.

     “Mel, kamu gapapa?” tanya kakaknya dibelakang. Terlihat sangat mirip, hanya saja sang kakak memakai kacamata.

     “Gapapa, kak Mawar.” jawabnya. Ia merebut tongkat yang menempel itu dan mematahkannya.


     “Pfft. Mawar? Kayak nama korban pemerkosaan.” Yudi menahan tawa.


     Seketika nafsu tawanya terhenti. Mawar langsung dibelakangnya, tangannya memegang kening Yudi, satunya menodongkan kuku-kuku tajam ke leher Yudi yang siap untuk digaruk hingga lehernya sobek. Meneteskan cairan bening warna ungu dari tangannya. Mereka semua memandang Yudi tanpa ekspresi.


     “Hati-hati jika berbicara.” ucap Mawar dengan tatapan kosong.

     “Cairan racunku ini lebih berbahaya dari racun ikan fugu dan ular kobra.”

     “Berani sekali dia berkata seperti itu ke kak Mawar.” ujar Melati dalam hatinya.

     “Hmm, wajah yang manis dengan tatapan kosong dan nada yang datar seperti psikopat. Bodoh banget Yudi, dasar anak pindahan!” pikir Putra.

     “Anjir. Cantik-cantik bahaya juga.” gumam Yudi setelah Mawar melepaskannya.

     “Sekarang kita udah berkumpul dengan ditambah dua anggota baru. Misi kita adalah menguasai sekolah ini. Tunjukkan kekuatan kalian.”


     Putra memukul lantai dan menimbulkan kilatan petir. Beberapa kali cahaya kilatan itu terlihat di kedua tangannya. Suara gemuruh menggema di ruangan tersebut. Ia pengendali petir. Pupilnya berwarna kuning emas dan hitam.


     Yudi terbang mengapung dengan sayap hitam di punggungnya. Pupil matanya seperti mata gagak.


     Mawar berdiri dengan tatapan kosong. Kedua jemari tangannya terus meneteskan cairan ungu bening yang sangat beracun. Matanya berubah menjadi ungu cerah dan hitam. Sementara Melati, adiknya. Menyatukan kedua telapak tangannya lalu memisahkannya. Terdapat banyak benang-benang lengket ketika dipisahkan. Matanya berubah abu-abu hitam. Mereka lah bunga kembar karena mereka memang kembar bersaudara. Mawar dengan rambutnya yang mencapai pinggang bawah dan berekspresi datar, sementara melati hanya sebatas ketiak dengan wajah yang selalu tersenyum.


     Yuko Cassandra merentang tangannya kearah boneka manekin yang dipajang di samping panggung aula. Perlahan boneka itu bergerak mendekati dirinya. Terdapat benang-benang transparan diujung jari-jari tangannya yang masing-masing mengendalikan kepala, kedua tangan dan kedua kaki boneka. Matanya berwarna pink hitam. Wajahnya yang  cantik dan populer di kelas menjadi nilai tambah. Tak heran bila Rio begitu menyukainya.


     Terakhir, Rio. Mengeluarkan bola energi hitam di telapak tangannya. Ditengah bola hitam itu terdapat pusaran. Matanya juga berubah, namun bagian putihnya lah yang berubah menjadi hitam. Sementara pupilnya berwarna merah.

     Mereka berenam juga merupakan anak-anak yang berkumpul di lokasi jatuhnya batu misterius saat kemping lalu, dan mengetahui kekuatan yang mereka dapatkan beberapa hari kemudian.




     Mereka adalah Dark Lord...

Mazna X Adara (Chapter 2) Sebuah Keajaiban


     Aeza dan Hime membuka mata. Hari sudah terang dan mendapati diri mereka terbaring bersebelahan. Hanya mereka berdua yang pertama kali siuman. Seorang panitia memberinya segelas air. Ia tak berbicara sepatah katapun. Mungkin akan berbicara saat belasan anak yang pingsan sudah sadar.

     Panitia membuka suara saat semuanya telah sadar.

     “Dengar semuanya, berhubung ada kejadian misterius yang menimpa belasan teman kita yang pingsan semalam, acara kemping ini resmi saya batalkan. Kita akan kembali ke sekolah siang ini dan kalian bisa beristirahat dirumah setelahnya. Terima kasih.”

     Beberapa hari kemudian...

     Hime sedang tiduran santai di atap rumahnya di bagian datar berlantaikan semen sambil mendengarkan musik diatas bangku panjang. Irama yang dihasilkan membuat tangannya ingin menari. Biasanya orang akan menjentikkan jari-jarinya. Hime pun demikian.

     Boff, boff, boff...

     “Apaan tuh?” gumam Hime bingung. Ia tak mendengar suara yang dihasilkan dari jentikkan jarinya. Kali ini ia mencoba lagi namun dengan melihatnya.

     “Aaaaaaahh.” Hime berteriak.

     Aeza yang akan mengantarkan sirup mendengar teriakan tersebut dan langsung menuju keatas.

     “Kakak kenapa?”

     Hime tak menjawabnya, wajah cantiknya terlihat pucat. Tangannya bergetar.

     “Gu... gue.”

     “Kenapa?”

    Hime menjentikkan jarinya kembali.  Ibu jarinya yang menghadap  keatas mengeluarkan api seperti menyalakan api dengan korek gas.

     “Kok bisa?” Aeza bingung.

     “Makanya itu. Gue juga bingung.”

     “Tapi keren juga sih, kak.”

     “Maksudnya?”

     “Coba lagi deh, tapi lebih kayak digayain gitu. Kayak di film-film lah.”

     Hime mencoba yang dimaksud Aeza. Ia bergaya seperti meninju kedepan, hasilnya keluarlah seperti bola api.

     “Waah, hebat. Pupil mata kakak juga berubah oranye kayak api.”

     “Benarkah? hahaha.” Hime tertawa kegirangan.

     Tak lama setelah itu, api membakar seluruh tubuhnya. Namun Hime tak merasa kepanasan. Hime berkonsentrasi, api itu perlahan menghilang dari tubuhnya. Pupil matanya kembali berwarna hitam.

     “Apa karena efek batu yang jatuh itu kali yak.” pikir Hime.

     “Ah. Lo coba deh.”

     “Oke. Tapi gimana caranya kak?”

     “Apa aja. Coba sirop itu.”

     “Sirop?”

     Aeza coba berkonsentrasi pada segelas sirup yang dipegangnya. Perlahan air sirup itu berputar sendiri seperti sedang diaduk.

     “Aku bisa ngendaliin air kayaknya.”

     “Eh, pupil mata lo berubah juga. Jadi biru pudar kayak air.”

     Ia pun mencoba lagi. Tangannya berada diatas bibir gelas. Air tersebut  bergerak keatas. Aeza semakin menaikkan tangannya, air itu mengikuti tangannya dan lama-lama air tersebut mengapung di udara dan membentuk bola di telapak tangannya.

     “Apa anak-anak yang waktu itu di deket batu yang jatuh puunya kekuatan aneh kayak kita ya?” tanya Hime.

Mazna X Adara (Chapter 1) Kakak Beradik


     Sebuah mobil SUV baru saja berhenti di parkiran sekolah pada pagi hari yang sejuk pukul 6.30. Kaki kiri turun setelah pintu depan bagian kiri mobil itu dibuka. Sepasang kaki milik gadis berseragam putih lengan panjang dan rok yang juga panjang,  berambut ikal sepundak menutup pintu mobilnya tanpa membawa tas.


     “Aezaa, cepetan.” kata gadis tersebut agak keras.

     “I... iya sebentar, kak Hime.” jawab gadis berambut hitam lurus sepinggang itu. Ia turun dari kemudi dan membuka pintu tengah mobil itu dan membawa dua buah tas, satu miliknya dan satu lagi milik Hime.

     “Jangan lupa lock mobilnya.” suruh Hime, mengetik di ponsel sambil berjalan.

     “Iya.” kedua lampu sign berkedip tanda mobill sudah terkunci.

     “Gak usah ngejawab deh, tinggal pencet doang.”

     Aeza mengangguk.

     Mereka memasuki kelas yang sama dan duduk sebangku.



     Hime masih terfokus oleh ponselnya begitu duduk, tidak bergabung dengan anak yang sedang berkumpul untuk sekedar basa-basi. Padahal wajah Hime cantik seperti anak populer. Ia hanya sesekali berbicara pada orang. Sifat itu semakin diperkuat sejak kedua orangtua nya tewas dalam sebuah kecelakaan mobil.

     Saat dirumah sakit sesaat sebelum ayahnya menghembuskan nafas terakhirnya, ia berpesan agar Hime dan Aeza selalu saling menjaga satu sama lain. Mereka berdua mendapat warisan dengan jumlah yang tak main-main, mengingat ia keluarga berada dan Hime yang mewarisi marga Rusdian. Harta tersebut lebih dari cukup untuk seumur hidup mereka.

     Kebalikannya dari Hime, Aeza adalah gadis yang murah senyum, ringan tangan, tapi sedikit pendiam. Wajahnya ayu, rambutnya yang panjang tergerai lurus kebawah kadang diikat dua seperti gadis desa.

     Hime sebenarnya adalah anak tunggal atau anak satu-satunya. Aeza muncul di kehidupan keluarga mereka delapan bulan setelah Hime lahir. Aeza ditemukan oleh pembantu didalam kardus dekat tempat sampah ketika hendak membuang sampah saat malam. Mereka berniat mengadopsi untuk menemani anaknya kelak dan diberi nama Aeza Zulviandari.

     Mereka sangat peduli dan sayang  terhadap anak-anak yang terlantar, kadang tiap dini hari kedua orang tua Hime keluar keliling kota mengendarai mobil memberi anak-anak atau keluarga yang terlantar sekotak makanan.


     Hime kecil seperti anak kecil lainnya. Ia senang bermain dengan Aeza. Namun seiring beranjak remaja, Hime yang sudah tau bahwa Aeza bukanlah adik kandungnya perlahan menjaga jarak dan gengsi. Aeza lebih sering dijadikan pesuruh sejak orang tua Hime meninggal dan Hime menjadi agak galak dan cuek. Dan harta warisan milik Aeza tak seluruhnya miliknya. Hime yang mengatur semua harta peninggalan orang tua nya. Sedikit yang Hime keluarkan untuk uang jajan Aeza.

     Meski begitu, Aeza tetap menurut setiap perkataan kakaknya dan menjalani semuanya dengan senyuman. Ia sangat bersyukur dapat bergabung di keluarga ini. Kalau tidak ada yang memungutnya malam itu, mungkin ia tidak berada disini dan mengenal mereka. Maka dari itu, Aeza bersedia melakukan apa saja. Dan Aeza sangat menjaga wasiat dari almarhum ayah angkatnya untuk selalu saling menjaga Hime.



***

     Sepulang sekolah, Aeza membawa tasnya Hime. Begitulah tugasnya sehari-hari.

     “Kita ke restoran pizza dulu. Laper gue.” kata Hime yang telinganya disumbat handsfree. Aeza yang sambil menyetir mengangguk.


     “Nih.” Hime mengambil uang dua puluh ribu di saku seragamnya dan memberikan ke Aeza. Hime turun dari mobil dan masuk ke restoran itu sendirian.

     Di restoran yang berhawa sejuk itu Hime menikmati makan siangnya duduk di dekat jendela. Di seberang sana ia melihat Aeza menikmati semangkuk bakso yang dibelinya di pinggir jalan. Setiap makan diluar, Hime selalu seperti itu lantaran gengsi.



     Setelah itu mereka melanjutkan pulang kerumah mereka yang mewah itu. Hime langsung meluncur kekamarnya begitu membuka kunci pintu rumah. Ia akan tertidur biasanya sampai jam empat sore. Lain dengan Aeza, hari ini ia harus mencuci baju. Mereka hanya tinggal berdua sekarang. Supir, penjaga gerbang  dan pembantu mereka dipulangkan setelah kedua orang tua Hime meninggal. Aeza bersih-bersih kamar termasuk kamar Hime selagi bajunya dicuci dengan mesin cuci. Hawa dingin dari AC terasa saat Aeza membuka pintu kamar Hime dan mulai membersihkannya.

     Hime tidur menyamping dengan pulas setelah lelah belajar dan kenyang makan. Aeza menaikkan selimut agar Hime tak kedinginan nantinya.





     “Hoaaam.” Hime bangun dari tidurnya. Meregangkan otot-otot kedua tangannya. Hawa dingin sedikit menyelimuti bagian atas tubuhnya yang mengenakan baju tanpa lengan, sedangkan bagian bawahnya masih mengenakan rok panjang sekolah. Ia melirik jam. Masih jam empat sore seperti biasanya. Hime turun menuruni tangga dan duduk di kursi makan dengan handuk di bahunya.

     “Kak.” sapa Aeza yang sedang menyetrika didepan televisi, dengan karpet merah sebagai alas setrika.

     “Ini susu lo?” tanya Hime yang matanya setengah sadar. Ia melihat segelas susu di meja makan.

     “Iya. Minum aja, kak. Belum aku minum.”

     Hime menenggak susu itu hingga habis.

     “Itu pizza buat lo. Tadi gue nggak abis.” katanya dan pergi ke kamar mandi.




     “Aah. Seger.”

     Hime melamun dibawah pancuran shower.Sebenarnya ia juga menyayangi Aeza, namun tak terlalu menampakkannya karena alasan gengsi. Hime lebih cenderung cuek. Seperti tadi ia makan pizza, ia memberi uang untuk Aeza makan. Sebuah rasa sayang yang terhalang.

     Hime terkadang pernah menyakiti Aeza ketika mood nya buruk dan sedang masanya ketika Aeza membuat kesalahan. Aeza pernah tak sengaja menumpahkan susu ketika Hime mengerjakan tugas sekolah yang sulit lantaran tersandung. Hime menamparnya dan tak jarang memukul kepala Aeza dengan tempat pensil. Perasaan Aeza sangat sensitif jika kakak angkatnya memarahinya dengan kasar sehingga membuat Aeza menangis. Esoknya Hime meminta maaf setelah merenung kejadian tadi, namun suatu hari nanti jika Aeza membuat kesalahan, hal itu terjadi lagi.

     Ia kembali ke kamar setelah melilitkan handuk di tubuhnya. Sesampainya, Hime melihat Aeza sedang memasukkan pakaian yang telah disetrika ke lemari baju.




Malamnya...

     “Aeza, temenin gue ke minimarket. Beli bekal buat kemping besok.”

     Aeza bersiap mengambil kunci dan menyalakan mesin mobil.

     Hime yang mengambil barang keperluan sementara Aeza yang mendorong trolley.

     “Ambil aja apa yang lo butuhin.” kata Hime. Aeza mengangguk.

     “Kak, malem ini kita makan sayur sup mau gak?” tanya Aeza. Ia mengambil plastik mika persegi berisi sayuran-sayuran sup beserta bumbunya.

     “Boleh.”

     “Pake sosis juga ya.”

     Hime mengangguk.



***

     Pagi harinya mereka berdua siap dengan membawa dua tas besar ke sekolah menggunakan taksi. Seluruh anak kelas sebelas dikumpulkan di lapangan dan diabsen satu per satu. Lalu mereka naik bus yang disediakan. Rencananya akan menginap selama dua malam.




     Mereka akhirnya sampai di tujuan setelah menempuh dua jam perjalanan. Hawa sejuk menyambut para peserta kemping.

     Sesampainya disana mereka diberi tugas masing-masing. Kebetulan Aeza dan Hime kebagian menyiapkan bahan makanan. Selama menyiapkan, Aeza jarang mengobrol dengan Hime. Karena ia tau kakak angkatnya tak terlalu suka mengobrol.

     Malam telah tiba tanpa mereka sadari. Api unggun yang menyala dengan tenda-tenda yang mengelilinginya. Diatas api tersebut ada panci besar berisi sup yang sama ketika Aeza dan Hime makan kemarin.

     “Hmmm. Enak banget sup nya.” puji salah satu anak perempuan.

     Mereka semua melakukan kegiatan yang ditentukan setelah makan. Hingga akhirnya beristirahat menjelang larut malam.



     “Buuumm.”

     Sesuatu menabrak tanah. Getarannya tidak terlalu berasa. Anak-anak yang belum tidur perlahan mendekati sumber suara, begitu juga Aeza dan Hime karena mereka belum sempat tertidur, sisanya sudah di alam mimpi.

     Sebuah batu berdiameter empat meter masuk kedalam tanah sedalam tiga meter dan membentuk lubang besar. Jika diihat, jumlah anak yang melihat batu besar itu mencapai belasan orang.

     “Apaan sih?” gumam Hime ketika baru sampai dan mendekati ujung lubang.

     “Oh batu meteor biasa. Kirain apaan.” ucapnya cuek dan berbalik arah. Ketika berbalik arah, tanah yang dipijaknya tiba-tiba jatuh.

     “Aaaaaahh.” Hime terjatuh. Aeza refleks meraih tangannya namun ia kalah sigap. Hime terjatuh dan batu besar itu sudah didekatnya.

     “Kakak!” Aeza bergegas melompat kebawah sana.

     “Aeza, jangan.” cegah Randi. Namun ia telat.

     “Kakak gapapa?”

     Hime mengangguk.

     “Apa ini bener batu meteor?” tanya Hime.

     “Kayaknya iya. Tapi kita naik keatas dulu.” Aeza merangkulnya.

     Secara perlahan batu itu mulai memancarkan cahaya hijau. Semakin lama semakin terang. Cahaya hijau terang itu seketika menghilang bersama batu besar tadi ketika mencapai terang maksimal. Keadaan menjadi gelap gulita. Mereka semua yang berada di lokasi tersebut perlahan melemas dan pingsan.